20 November 2017

Berita Golkar - Pemerintah mendorong realisasi investasi petrokimia perusahaan asal Thailand, SCG. Perusahaan ini berencana membangun fasilitas pengolahan nafta (naphtha cracker) senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 8 triliun. Pembangunan pabrik di Cilegon, Banten ini bakal bisa memenuhi kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri dan mengurangi impor.

Untuk mendorong realisasi investasi tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sampai datang langsung ke Bangkok Thailand, melakukan kunjungan kerja sembari melakukan kunjungan kerja. "Mengingat pentingnya penguatan industri kimia di Indonesia," kata Airlangga dalam keterangan resmi dari Thailand, Ahad (19/11).

Ia menegaskan pemerintah bakal memberikan fasilitas percepatan bagi pelaku industri yang melakukan ekspansi dan menanamkan modal di Indonesia. Contohnnya, investor bakal mendapatkan kemudahan perizinan jika membangun pabrik baru di kawasan industri.

(Baca: Menperin Bujuk Lotte untuk Percepat Investasi Kimia)

"Semua perizinan, rantai pasok, dan infrastruktur penunjang sudah disiapkan," kata Airlangga. Selain itu, komitmen pemerintah untuk menciptakan iklim investasi kondusif juga diupayakan melalui penerbitan belasan paket kebijakan ekonomi.

Menurutnya, pembangunan industri petrokimia akan didukung dengan insentif fiskal seperti pembebasan dan pengurangan pajak (tax allowance dan tax holiday). Di samping itu, usulan penurunan harga gas juga akan didapatkan industri sebagai sektor pengguna gas terbesar dalam proses produksi.

Kementerian Perindustrian memang fokus pada industri petrokimia sebagai salah satu sektor prioritas. Alasannya, industri ini berperan penting sebagai pemasok bahan baku bagi manufaktur hilir seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetik, hingga farmasi.

Airlangga juga memberikan apresiasi kepada SCG yang telah berinvestasi lebih dari 20 tahun. Penyerapan tenaga kerja langsung atau tidak langsung pun telah mencapai lebih dari 8 ribu orang.

SCG memiliki 3 lini bisnis di Indonesia dengan nilai investasi pada 2016 sebesar US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 18,9 triliun. Ketiga bisnisnya adalah Cement Building Material dengan pangsa pasar 56 persen, kimia dengan pangsa 42 persen, dan pengemasan dengan pangsa 2 persen. [katadata]

fokus berita : #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya