24 November 2017

Berita Golkar - Menyikapi perkembangan politik di tubuh Partai Golkar pasca ditahannya Ketua Umum PG Setya Novanto, Musyawarah Kerja Gotong Royong (MKGR) Lampung bersikap. Organisasi massa (ormas) pendiri Partai Golkar ini menyerukan agar tidak ada kubu-kubuan di tubuh partai berlambang beringin tersebut.

Ketua Ormas MKGR Provinsi Lampung Nizwar Affandi mengatakan, MKGR meminta seluruh pihak baik kader, pengurus PG, maupun kalangan media massa untuk tidak larut dalam sentimen kubu-kubuan terkait situasi prihatin yang sedang dialami Golkar.

“Tidak ada kubu-kubuan di tubuh Golkar. Mulai dari pusat sampai daerah. Keputusan rapat pleno DPP beberapa waktu lalu, kelima poinnya sudah sangat jelas. Tunggu sampai putusan pra peradilan (Setnov) pada tanggal 7 Desember mendatang,” ungkapnya kemarin.

Menurut Affan—sapaan akrabnya, sepatutnya tidak ada yang bersikap dan bertindak seolah-olah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) diselenggarakan besok pagi.

”Munaslub dilakukan jika SN (Setnov, Red) kalah dalam praperadilan. Kalau itu nanti yang terjadi, silakan saja bila ada perbedaan dukungan untuk calon ketua umum yang baru sebagaimana lazimnya sebuah kontestasi organisasi. Tetapi, hari ini sampai dengan putusan praperadilan, tidak ada kubu-kubuan di Golkar,” tandasnya.

Affan juga menyoroti adanya dualisme kepemimpinan di Golkar Lampung sejak kubu Alzier Dianis Thabranie kembali berkantor di DPD I PG Lampung, Pahoman.

“Kantor partai itu rumah bersama seluruh kader. Semua boleh melakukan aktivitas keorganisasian di sana. Tentu dengan berpedoman pada AD/ART dan Peraturan Organisasi (PO) partai. Bahwa ada perbedaan tafsir terhadap peraturan-peraturan itu ya manusiawi. Boleh-boleh saja siapapun bilang ini ilegal, itu tidak prosedural, ini sah itu batal sepanjang posisinya masih pendapat pribadi, tetapi kalau ingin menjadi sikap resmi organisasi ya silakan dimintakan fatwanya ke Mahkamah Partai (MP). Mau meminta SK dibatalkan, mau meminta KTA dicabut dan lainnya ya dibawa ke MP, bukan cuma jadi polusi yang mengotori ruang publik,” ucapnya.

Meski begitu, dirinya tetap optimis PG akan mampu melewati situasi prihatin ini. Menurutnya, Golkar pernah melalui masa-masa sulit di 1998-2004 lalu, bukan hanya masalah hukum saja bahkan sampai terbit pembubaran partai melalui Dekrit Presiden. Tetapi masa-masa sulit itu bisa dilalui dengan sangat baik dan ditutup dengan kemenangan manis dalam Pileg 2004.

”Saya yakin semua kader khususnya para senior tentu masih sangat ingat apa yg dilakukan dan bagaimana melakukannya pada masa itu. Sebaiknya kita semua kader kembali bermuhasabah dan tetap solid serta cepat tanggap keluar tidak melawan arus suasana kebatinan publik,” pungkasnya.  [radarlampung]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya