30 November 2017

Dilematisme dialami oleh Golkar, sebagai partai kader, jelas jika Golkar tak akan pernah kekurangan kader yang kelak akan dipupuk menjadi figur pemimpin. Tapi permasalahan lain timbul, akibat kader yang bertumbuh merata di semua lini, dibuktikan dengan pemerataan distribusi pemimpin pada tataran kepala daerah hingga kepemimpinan pusat.

Hal tersebut dapat kita lihat misalnya pada Pilkada serentak 2017 lalu. Dari 101 penyelenggaraan Pilkada, Golkar memenangi 54 daerah. Ini berarti memiliki probabilitas kemenangan Golkar sebesar 54%.

Namun, bukanlah berarti tanpa masalah jika memiliki kader berlebih dan merata pada semua lini. Keseimbangan pasti timbul akibat beban yang sama, jika tak sama, maka pendulum akan timpang terhadap salah satu pengait. Pun dengan Golkar, memiliki banyak kader yang berkompetensi seimbang akan menimbulkan banyak kelompok, berkelompok berarti memunculkan fatsun, memunculkan berbagai fatsun akan berisiko pada beragamnya kepentingan, akibat beragam kepentingan yang timbul, akan banyak intrik, sampai pada akhirnya menimbulkan konflik.

Konflik ini merupakan bahan baku yang baik jika hanya sekedar menginginkan gonjang ganjing internal dalam tubuh sebuah organisasi atau partai. Partai ini sedang mencari titik keseimbangannya sendiri.

Bahkan akibatnya lebih melebar lagi, akibat dari konflik internal ini paling fatal adalah perpecahan partai dan itu telah terjadi dalam beberapa dekade Partai Golkar berkiprah pada kancah perpolitikan nasional. Hal yang tidak terlalu substantif namun cukup mengguncang yakni penurunan perolehan suara pada pemilu yang akan atau telah diikuti oleh sebuah partai.

PKB misalnya yang mengalami konflik internal akibat perubahan kutub politik di jajaran kepemimpinannya. Pasca konflik Gus Dur dan Muhaimin Iskandar dalam tubuh PKB, partai tersebut terus mengalami penurunan signifikan sejak Pemilu 2009 hingga kini.

Beberapa bulan terakhir bahkan pada rilis survey yang berkenaan dengan popularitas dan elektabilitas, Golkar menunjukkan penurunan angka yang cukup mengkhawatirkan, terakhir survey yang dilakukan CSIS mengklaim bahwa elektabilitas Golkar berada pada urutan ke-4 dibawah PDIP, Gerindra, dan Demokrat. Elektabilitas pada cakupan nasional itu menyebutkan jika Golkar memiliki elektabilitas hanya di kisaran angka 7-9%, sungguh memprihatinkan.

Namun optimisme harus terus digulirkan oleh elit-elit partai beringin ini. Benar apa yang telah dikatakan mantan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie pada 19 Oktober lalu yang mengisyaratkan jika sebenarnya elektabilitas Golkar tidak mengalami penurunan yang terlalu mengkhawatirkan.

“Naik lho, siapa bilang turun? Kalau kita sudah bersatu, naik lagi elektabilitas Golkar,” ucap pria yang akrab disapa Ical ini.

Dalam analisis semiotika, apa yang diucapkan Ical ini adalah sebuah isyarat sebetulnya jika Golkar dalam kondisi sangat siap menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Ical sebagai eks Ketua Umum Golkar tentunya juga sangat memahami jika permasalahan Golkar bukanlah faktor eksternal namun pada soliditas kader yang menjadikannya kokoh. Penyakit yang menggerogoti dari dalam juga jelas jika Golkar sendiri yang dapat mengobati.

Sebab itu, ketika figur seorang Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar dihabisi secara sistematis akhir-akhir ini, eksistensi Golkar masih mengancam bagi partai kompetitor lain. Bahkan pada diskusi publik yang diadakan Praja Muda Beringin (PMB), M. Qodari sebagai salah satu analis senior dan Direktur Eksekutif IndoBarometer menyebut jika Partai Golkar 90% berpotensi memenangkan Pilkada 2018. Bagi kompetitor, jelas Golkar masih merupakan ancaman terbesar bagi partai lain.

Mereka, para kompetitor paham, bagaimana cara ampuh runtuhkan Golkar. Caranya adalah membuat internal bergejolak, terutama dengan pilihan-pilihan rasional yang melibatkan Ketua Umum Golkar dalam lingkaran nama yang akan dihitamkan, maka blok-blok politik di Partai Golkar akan berusaha saling terkam dalam lingkaran konflik dan akan sulit teratasi. Kuncinya kini ada pada proses integrasi politik yang dilakukan demi menyongsong soliditas kader. Jika akar beringin kuat, maka batang, ranting sampai dedaunannya pun akan terjaga kelestariannya. Namun jika akar yang menopang berat batang tubuh beringin rapuh dan saling mengaitkan satu sama lain maka mungkin daun-daunnya akan berguguran seiring semakin tua pohon ini berdiri.

Solusi demi solusi digulirkan oleh jajaran pengurus Partai Golkar untuk menyelamatkan partai ini dari jeram yang hendak menenggelamkannya. Termasuk usulan untuk melakukan kembali Munaslub. Munas atau Munaslub adalah forum tertinggi Partai Golkar untuk memilih pemimpin. Bagi penulis, tidak bisa tidak Golkar harus melakukan Munaslub, jika mengulur waktu, maka Golkar akan semakin menjadi bulan-bulanan publik yang terus mengaitkan kasus pribadi Novanto dengan Golkar secara kelembagaan. Implikasinya adalah elektabilitas Golkar yang akan terus mengalami kemerosotan.

Kita masih berharap tentang keberadaan partai ini dengan pilar-pilar kokohnya, namun jika terus digerus sedangkan pilar utama sang ketua umum sudah roboh, bukan tidak mungkin pilar-pilar kokoh lain hanya tinggal menunggu waktu untuk ikut terjerembab akibat tidak kuat menahan berat beban. Pilihan kini ada pada seluruh kader dan DPD 1 sebagai pemilik suara untuk mengambil keputusan. Apakah akan membiarkan Golkar terus seperti ini sementara waktu semakin mendesak, jika mengingat Pilkada 2018 hanya tinggal hitungan bulan dan Pemilu 2019 yang juga sebentar lagi berlangsung?

Harus ada yang menjadi penyelamat bagi Partai Golkar, meminggirkan ambisi lantas mengatakan kemudian, saya ambil alih kemudi, kita selamatkan partai ini bersama. Entah siapa, harapan kita bersama, sejarah akan menemukan kembali alur waktunya.

Rezha Nata Suhandi,  Aktivis Praja Muda Beringin (PMB) dan Peneliti Muda di Sang Gerilya Institute (SGI)

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya