01 Desember 2017

Berita Golkar - Wasekjen DPP Golkar Mukhtarudin menceritakan, peta politik di internal Partai Golkar jelang pergantian Setya Novanto sebagai ketua umum. Lalu seperti apa peta politik pemilihan ketum baru Golkar?

Menurutnya, Munaslub Golkar tinggal menghitung hari, dan sampai detik ini sudah ada 27 DPD I Golkar yang setuju Novanto lengser. Artinya, sudah 2/3 DPD Golkar telah bersepakat untuk mengganti posisi Novanto yang saat ini telah di tahan oleh KPK atas kasus korupsi KTP elektronik.

"Penyelesaian kemelut ini semua sudah sepakat. Kira-kira 80 persen banding 20 persen lah. Artinya sisa 20 persen yang ingin status quo, itu ada di loyalis Pak Novanto," kata Mukhtarudin. 

Menariknya, sampai detik ini belum ada calon yang didorong oleh kelompok Novanto. Idrus Marham yang selalu di depan mendukung Novanto, kata Mukhtarudin, justru tidak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai loyalis Novanto hari ini.

"Poros Pak Idrus itu ada di posisi abu-abu. Beliau melihat Novanto hanya dipaiaki untuk meneruskan posisinya. Tapi Pak Idrus sendiri tidak terlalu masuk di kelompok itu (Novanto)," ucapnya.

Di poros lain, ada juga kelompok Aburizal Bakrie. Menurutnya, mantan ketum Golkar tersebut beberapa hari ini sudah melakukan sosialisasi dan konsolidasi untuk mendorong calon di Munaslub Golkar.

"Kalau kita lihat dari Munaslub sebelumnya, Pak Ical secara eksplisit mendorong Azis Syamsuddin. Kalau petanya tidak berubah, saya berpendapat beliau lebih condong kesana," jelas Mukhtarudin.

Lantas bagaimana dengan Nurdin Halid yang belakangan dianggap punya poros sendiri. Mukhtarudin memandang, Nurdin memang mendorong diadakannya pergantian ketum melalui Munaslub, namun tidak ingin maju sebagai calon.

"Saya kira pak Nurdin tidak akan maju karena beliu konsentrasi untuk Pilgub Sulsel. Beliau juga sampai hari ini tidak menggalang kekuatan untuk maju," tuturnya.

Saat dikonfirmasi apakah Nurdin memiliki calon tertentu, Mukhtarudin menjawab, "Ya barangkali beliau punya pilihan, tapi kan belum deklarasi. Mungkin memang ada pembicaraan tertutup. Tapi yang jelas beliau belum deklarasi dukung A atau B," terangnya.

Menguatnya Nama Airlangga

Mukhtarudin menceritakan, saat ini sedang menguat nama Ketua DPP Golkar Airlangga Hartarto yang akan menggantikan posisi Novanto sebagai ketum. Hal itu disimpulkannya dari gelagat dan pernyataan beberapa senior Golkar.

Selain Jusuf Kalla, katanya, belakangan muncul juga pernyataan dari Ketua Dewan Pakar Golkar Agung Laksono yang secara eksplisit mendukung digantinya Novanto sebagai ketum.

"Untuk personalnya, kalau melihat hubungan antara Pak Agung dan Pak Airlangga, baik di Kosgoro ataupun yang lain, saya kira kedekatan keduanya bisa mengarahkan Pak Airlangga menjadi ketum," jelasnya.

Selain Agung, Mukhtarudin juga menyoroti gelagat dari senior Golkar lainnya, Luhut Binsar Panjaitan, yang beberapa waktu lalu sempat mengantarkan Airlangga bertemu Presiden Joko Widodo.

Menurut Mukhtarudin, sebagai pembantu presiden, Luhut telah menangkap pernyataan dan ijin Jokowi yang secara transparan memberikan restu Istana kepada Airlangga. "Saya kira tidak ada pilihan lain untuk mengamankan apa yang telah digariskan oleh presiden untuk mendorong Pak Airlangga. Karena Pak JK juga begitu, saya kira Pak Luhut pasti akan mendukung itu," terang Mukhtarudin.

Alasan mengapa pemerintah menginginkan Airlangga, jelasnya, karena Jokowi sebagai presiden punya kepentingan besar ke depannya. Golkar adalah satu-satunya partai yang sudah resmi mencalonkan kembali Jokowi di Pilpres 2019.

"Otomatis Pak Jokowi punya kepentingan. Dan itu wajar kok, karena partai ini ibaratnya kendaraan yang akan beliau naikin," imbuhnya.

Ia menambahkan, sebagai kendaraan yang akan ditumpangi, Jokowi mesti menjaga Golkar. Kendaraan ini harus didandani supaya tidak mogok dan jalannya tidak berhenti di tengah jalan.

"Ibarat sopir, mobilnya kan harus dalam kondisi baik supaya bisa mengantar pada tujuannya, tidak lain memenangkan beliau di Pilpres 2019. Kalau Pak Jokowi mengatakan ingin masuk membenahi Golkar saya kira itu sah-sah saja," tandas Mukhtarudin. [rilis]

fokus berita : #Mukhtarudin


Kategori Berita Golkar Lainnya