02 Desember 2017

Berita Golkar - Tak terasa, Ketua Umum DPP Golkar Setya Novanto sudah 15 hari mendekam di balik jeruji besi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) per Sabtu (2/12/17) hari ini. Setya Novanto resmi ditahan KPK sejak 17 November 2017 lalu setelah serangkaian drama yang menyita perhatian publik. Lalu bagaimana kabar terkini Ketua DPR itu?

Kebahagiaan terpancar dari wajah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto tatkala koleganya yakni pimpinan dan anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR bertemu di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (30/11/17) pukul 10.20 hingga 11.47 WIB.

Setya Novanto diperiksa Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR atas dugaan pelanggaran etik terkait status tersangka kasus dugaan korupsi KTP elektronik. Mereka yang mendatangi KPK adalah Ketua MKD Sufmi Dasco Ahmad dari Fraksi Gerindra, Wakil Ketua Sarifuddin Sudding dari Fraksi Hanura, serta dua anggota yakni Maman Imanulhaq dari Fraksi PKB dan Agung Widyantoro dari Fraksi Golkar, serta seorang staf.

Kedatangan pimpinan dan anggota MKD untuk melakukan pemeriksaan terhadap Ketua DPR Setya Novanto atas dugaan pelanggaran etik. Novanto, yang berstatus tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP ini tengah ditahan KPK. "Pak Setnov bahagia karena dikunjungi karena tidak semua orang bisa menemuinya," ucap Kyai Maman, Kamis (30/11/2017) malam.

Pertemuan itu terjadi di ruang penyidik KPK, antara MKD dengan Novanto. Saat itu Novanto mengenakan setelan kemeja putih dipadu rompi orange rompi oranye khas rompi tahanan KPK, tanpa didampingi pengacara.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Golkar itu curhat. Khususnya mengungkapkan persoalan obat yang disediakan KPK tidak seperti yang biasanya ia konsumsi.

"Kalau saya lihat fisik memang dia curhat soal obat. Bahwa obat yang dikasihkan KPK itu tidak standar yang biasa ia minum. Dia curhat perlu obat yang biasa dia minum," tutur anggota Komisi VIII DPR RI ini menjelaskan kondisi kesehatan Setnov saat dikunjungi MKD. Bukan itu saja, Novanto juga bercerita mengenai makanan di rumah tahanan KPK yang perlu ditingkatkan lagi.

"Karena ada makanan yang menurut dia tidak cukup dari sisi gizi dan sebagainya," ujar Kyai Maman. Mengawali pemeriksaan dugaan pelanggaran etik, MKD menjelaskan semakin tingginya desakan publik agar Novanto mundur dari Ketua DPR. Novanto menyadari tingginya dinamika yang mendesak agar dirinya mundur dari jabatan Ketua DPR di tengah lilitan kasus hukum yang tengah ia dera.

Untuk itu ia menitipkan pesan kepada para koleganya anggota DPR melalui Kyai Maman dan pimpinan MKD lainnya usai pemeriksaan. "Pak Novanto menyampaikan mohon maaf, dan kepada anggota DPR hati-hati. Itu saja," kisah Maman mengulang perkataan Novanto.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, KPK telah menerima surat MKD terkait pemeriksaan ini.
"Setelah menerima surat 27 November 2017 dari Mahkamah Kehormatan Dewan DPR RI, KPK akan memfasilitasi MKD memeriksa SN (Setya Novanto)," ujar Febri, di Gedung KPK, Rabu (29/11/217). Febri mengatakan, surat yang diterima MKD tersebut perihal permintaan izin berkunjung.

Pada pokoknya, dalam surat itu tertulis bahwa MKD telah menerima laporan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Setya Novanto. Selain itu, surat itu menjelaskan bahwa MKD berwenang memanggil pihak terkait dan bekerja sama dengan lembaga negara lain. Untuk itu, karena Novanto sedang dalam proses penahanan KPK, maka MKD meminta agar dapat menemui Ketua Umum Partai Golkar itu dalam rangka verifikasi dan penyelidikan.

Meski berstatus tahanan KPK, Novanto tetap dipertahankan sebagai Ketua Umum Golkar. Golkar menunggu hasil praperadilan yang diajukan Novanto. Demikian pula dengan status Novanto sebagai Ketua DPR. [tribunnews]

fokus berita : #Setya Novanto


Kategori Berita Golkar Lainnya