12 Desember 2017

Berita Golkar - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan kembali bahwa kota yang dianggap sebagai kota cerdas tak selalu diukur dengan tampilan panel monitor yang ada di ruang kendali operasional khusus, misalnuya di salah satu gedung wali kota atau kantor gubernur. Tetapi bagaimana menyelesaikan masalah yang terekam dalam sistem yang ada.

“Sekali lagi mengenai kota cerdas, artinya bagaimana kota dikelola dengan baik dengan dibantu Informasi Tekonologi (IT), kecerdasan buatan dan sebagainya,” kata Wapres dalam sambutannya ketika memberikan penghargaan kepada 15 kota terbaik, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (11/12).

Wapres mengatakan bahwa pemerintah daerah harus melihat bagaimana mewujudkan sebuah kota layak huni. Bagaimana menambah lapangan hijau untuk mewujudkan sebuah kota hijau.

“Jangan kota hijau tapi isinya mal semua. Sekarang mal banyak mengalami masalah,” kata Wapres. Wapres juga mengatakan bahwa pelaksanaan pemerintahan harus ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam pengelolaan kota.

“Yang paling penting bagaimana pelaksanaan yang harus kita lakukan. Bagaimana kebersihan kota dilakukan. Sering saya sampaikan apabila bertemu dengan Walikota adalah, mari kita semua cerdas dalam hal pengelolaan, pemakaian yang efisien,” katanya.

Penghargaan kegiatan ini digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merupakan hasil dari rangkaian kegiatan survei dan kajian kesiapan kota cerdas terhadap 93 kota di seluruh Indonesia, yang sebelumnya telah dibuka Wapres pada 4 Mei 2017 silam.

Kota-kota yang mendapat penghargaan diantaranya; Surabaya, Bandung, Semarang, Bekasi, Tangerang Selatan; Kota Sedang: Denpasar, Binjai, Manado, Yogyakarta, Kediri; Kota Kecil: Magelang, Sawahlunto, Bontang, Tual, dan Bukittinggi. [gatra]

fokus berita : #Jusuf Kalla


Kategori Berita Golkar Lainnya