15 Desember 2017

Berita Golkar - Sekretaris Jenderal Partai Golkat Idrus Marham kembali menjelaskan ikhwal kedatangannya ke sidang perdana terdakwa kasus korupsi KTP berbasis elektronik Setya Novanto di pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017), karena merasa sesama kader.

"Sesuai dengan ajaran agama yang saya yakini kebenarannya bahwa apabila ada saudara kita terkena musibah, menghadapi masalah dan menghadapi kesulitan, maka kita sesama anak bangsa, muslim harus hadir memberi pertolongan, ataupun dorongan sesuai kemampuan yang ada," kata Idrus di DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (14/12/2017).

Idrus ingin menunjukkan sikapnya patut dicontoh dalam dunia politik. Sebagai sesama kader partai mesti saling mendukung dalam suka maupun duka. "Mestinya ini juga dalam perspektif politik Indonesia, itu jangan ramai-ramai begitu dia lagi enak-enaknya, ramai semua seperti apa. Tapi jika begitu ada masalah semua lari lagi," ujar Idrus.

Menurut Idrus sifat hanya mendukung dikala senang tidak baik untuk dicontoh, terutama dalam kehidupan dan kebangsaan. Idrus mengatakan hubungan politik tidak selalu soal kepentingan -- politik bisa berubah-rubah -- silaturahmi harus tetap dijaga.

"Kalau istilahnya dalam NU, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathoniyah dan ukhuwah Basyariyah yang harus kita pertahankan sedemikian rupa, agar ini tidak bisa putus hanya karena ada masalah-masalah politik," tutur Idrus. Dikatakan Idrus, urusan politik dan persaudaraan tidak bisa disatukan. Keduanya harus dipisahkan supaya ruang-ruang persaudaraan tetap terbuka, tanpa ditutupi oleh urusan politik.

"Saya selaku Sekjen DPP Partai Golkar dan kemarin itu selaku pelaksana tugas Ketua Umum Partai Golkar sangat menghormati proses hukum yang ada. Apapun dinamika yang harus kita hormati dan dalam proses-proses hukum itu harus saling menghargai dan harus saling percaya dan mempercayai," kata Idrus. [suara]

fokus berita : #Idrus Marham


Kategori Berita Golkar Lainnya