15 Desember 2017

Untuk meraih kekuasaan hal yang mudah tetapi untuk menjadi pemimpin yang melaksakan amanat tentu tidaklah mudah. Menjadi pemimpin bisa menjadi suatu berkah atau bisa juga menjadi sebuah malapetaka dalam kehidupan. Baik kehidupan dirinya sendiri maupun kehidupan rakyat yang dipimpinnya, seorang pemimpin akan menjadi sumber malapetaka bagi rakyatnya apabila dia orang yang tidak memenuhi asas kepantasan.

Sebaliknya seorang pemimpin akan menjadi sumber anugerah bagi rakyatnya apabila dirinya telah memenuhi asas kepantasan. Apakah asas kepantasan itu ? Seperti dalam falsafah hidup masyarakat Jawa bahwa "urip liku kudu murup", artinya dalam menjalani kehidupan di dunia haruslah "menyala". Sehingga cahayanya dapat menerangi sekitarnya.

"Menyala" maksudnya kita mampu kita mampu berperan memberikan kontribusi dalam kelangsungan hidup pada seluruh mahluk. Diri kita diumpamakan lampu, lampu tidak berguna jika tidak menyalakan sibarnya sebagai penerang bagi lingkungannya yakni menerangi seluruh mahluk hidup dengan cahaya kehidupan.

Cahaya kehidupan itu bukan sekedar rutinitas ritual sehari-hari melainkan amal kebajikan yang nyata kita lakukan untuk seluruh kehidupan, dilakukan setiap saat dengan penuh kasih sayang dan keiklasan. Amal kebaikan dari tahap dan lingkungan paling kecil. Sering menolong dan membantu sesama dan tidak pilih kasih. Selalu memberikan kemudahan dan jalan hidup kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan.

Di situlah kewajaran sebagai seorang pemimpin agar dapat memberikan anugrah kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Semakin intens seseorang menjadi "murup" akan semakin tinggi pula asas kepantasannya.

Tonny Saritua Purba, Aktifis Praja Muda Beringin (PMB) dan Fungsionaris Golkar Kota Bogor

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya