06 Januari 2018

Berita Golkar - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, dirinya tetap komitmen untuk fokus menyelesaikan tugas yang telah diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo. Pihaknya telah menyiapkan lima strategi untuk membangun industri yang inklusif dan berkelanjutan.

“Pertama, kami akan terus mengembangkan pendidikan vokasi link and match hingga menghasilkan satu juta tenaga kerja terdidik pada tahun 2019,” ujarnya, di Jakarta, Sabtu (6/1/18). Airlangga meyakini, tenaga kerja industri yang kompeten akan mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, yang ujungnya dapat membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Langkah strategis tersebut menjadi mutlak dilakukan guna memacu daya saing Indonesia agar kompetitif di tingkat global. Apalagi, Indonesia ditargetkan menjadi negara ekonomi terkuat ketujuh di dunia pada tahun 2030.

“Kedua, kami fokus pada pengembangan kewilayahan industri, guna mewujudkan Indonesia sentris. Upaya ini implementasi dari salah satu butir Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan," jelasnya.

Ketiga, pihaknya tengah membuat roadmap Industry 4.0. Langkah ini juga untuk kesiapan dalam menghadapi era ekonomi digital yang sedang berjalan. “Tidak hanya industri skala besar, kami pun mengajak industri kecil dan menengah (IKM) agar ikut menangkap peluang dalam perkembangan teknologi manufaktur terkini,” paparnya.

Terkait penelitian dan pengembangan sistem dan teknologi Industry 4.0, Kemenperin telah menjajaki kerja sama untuk melakukan kolaborasi riset dengan Tsinghua University dari China dan Institute of Technical Education (ITE) dari Singapura.

Selain itu, Kemenperin telah mencanangkan program e-Smart IKM dalam rangka mendorong para pelaku IKM nasional agar tidak tertinggal di era digitalisasi yang sedang dihadapi saat ini. Program ini akan memanfaatkan platform digital melalui fasilitasi kerja sama antara IKM dengan perusahaan start-up di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang e-commerce dan perusahaan ekspedisi.

Keempat, Menteri Airlangga bertekad menjalankan kebijakan hilirisasi industri, salah satunya di sektor logam. “Indonesia menargetkan produksi 10 juta ton baja pada tahun 2025. Di samping itu, akan menghasilkan stainless steel sebanyak empat juta ton pada 2019,” ungkapnya.

Strategi kelima, penciptaan lapangan kerja baru dari sektor industri. Pasalnya, sektor manufaktur merupakan salah satu kontributor besar bagi perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan jumlah tenaga kerja di sektor industri manufaktur pada tahun 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. Dengan adanya penyerapan tenaga kerja di sektor industri ini, tingkat penggangguran akan semakin berkurang. [merdeka]

fokus berita : #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya