15 Januari 2018

Berita Golkar - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengklaim pihaknya sudah berhasil mengubah Purwakarta dari kota kecil yang tidak dikenal menjadi salah satu destinasi wisata yang mulai dilirik baik wisatawan domestik maupun internasional.

Ia menyebut, tiga destinasi wisata yang kini sudah dikenal, yakni air mancur di Taman Sri Baduga, Pasanggrahan komplek alun-alun hingga hotel gantung Gunung Parang yang diklaim tertinggi di dunia.

Dedi mengatakan, pembangunan infrastruktur dan sosial budaya di Purwakarta tak lepas dari sistem pemerintahan yang fokus pada hal paling penting. Ia juga menghilangkan poin pembiayaan yang tidak penting. Dengan jumlah APBD hanya Rp 1,6 triliun, bupati Purwakarta selama dua periode ini mampu membangun arsitektur daerah layaknya kota besar.

"Misalkan kita fokus kepada hal penting dan hilangkan yang tak penting. Misalkan, biaya untuk rapat terlalu lama, piket pagi yang buang-buang waktu, pengarahan terlalu lama, dan biaya-biaya seminar tak penting," jelas Dedi Mulyadi kepada Kompas.com, Senin (15/1/2018).

Pola pemerintahan tersebut mulai dijalankan sejak dirinya menjabat sebagai kepala daerah tahun 2008 silam. Awalnya, tak sedikit orang mencibir dan menentang pola kepemimpinannya tersebut, termasuk oleh para pegawainya. Namun, setelah diberi pengertian dan polanya terbuktinya nyata, mereka pun langsung mendukung dan bekerja semaksimal mungkin untuk melakukan perubahan pembangunan di Purwakarta.

"Jadi kita kerja setahun hampir sama dengan kerja seratus tahun. Jadi saat ini tentang Purwakarta dan pola kerja jangan kita menilai dan biarkan publik yang menilai," kata Dedi.

Pentingnya efektivitas kerja itu, kata Dedi, terinspirasi dari pentas wayang golek. Pagelaran wayang biasanya berdurasi lama sampai subuh dan hanya membuat jenuh penontonnya.

Ia pun berpikir kenapa pentas wayang itu tidak langsung kepada makna cerita dan arti falsafahnya, serta bagian menariknya, yakni lawakan yang bermakna bagi kehidupan.

"Seperti dalam pemerintahan yang dibuat simpel dan fokus terhadap hal penting bagi perubahan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat," kata dia.

Terkait wayang, saat ini Dedi sedang membuat tempat tontonan wayang animasi dalam sebuah galeri. Hal itu agar kalangan muda zaman sekarang bisa lebih memahami pagelaran wayang golek dan tertarik untuk menontonnya.

"Supaya kaum muda menjadi tertarik dengan tontonan wayang golek dibuat wayang animasi. Penonton pun akan menyimak wayang menjadi padat bermakna dan menampilkan hal penting saja," ujar dia.

Dedi yang kerap aktif di jejaring media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya, sengaja menunjukkan ide keratif hasil programnya supaya lebih dimengerti oleh para generasi muda milenial.

Ia tak takut kalau idenya tersebut dijiplak orang lain. Sebab, jika idenya ditiru orang lain berarti ia telah berhasil mengubah arah pembangunan.

"Saya suka live di medsos dan saya tak takut gagasan dijiplak orang. Ini sengaja dilakukan supaya masyarakat dan kalangan muda memiliki nalar dengan berbagai gagasan pembangunan untuk program-program Jabar ke depan," pungkasnya.

Perubahan pembangunan ini dirasakan langsung oleh masyarakat di Purwakarta. Maman (56), tokoh warga Nagri Kaler, Purwakarta, mengaku daerahnya sudah berubah sejak dipimpin Bupati Dedi.

Mulai dari infrastruktur, ketertiban, kebersihan, sampai pendidikan bagi anak-anaknya yang lebih banyak praktik daripada teori. Perubahan sikap anak-anak di lingkungan keluarga pun sangat terasa.

Warga lainnya, Oneng (58), warga Pasawahan, Purwakarta, mengaku sangat sedih karena Bupati Dedi akan segera berhenti menjabat. Ia dan warga lainnya berharap kepala daerah selanjutnya minimal memiliki rasa kasih sayang yang sama kepada warganya seperti Bupati Dedi.

"Sedih Pak, Pak Dedi akan berhenti menjabat. Soalnya Pak Dedi itu, kalau ada warga lapor langsung turun tangan dan diberikan solusi. Tapi sekarang jadi calon wakil gubernur, mudah-mudahan bisa menang," harapnya. [kompas]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya