21 Februari 2018

Berita Golkar Partai Golongan Karya ( Golkar) merupakan salah satu partai yang paling lama berkiprah di panggung politik Indonesia. Dengan segala dinamikanya, partai berlambang pohon beringin yang berdiri pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno ini, masih bertahan hingga kini. Pada Pemilu 2019, partai yang dipimpin Airlangga Hartarto ini mendapatkan nomor urut 4.

Sejarah Golkar

Berdirinya Partai Golkar berawal dari Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 20 Oktober 1964. Dikutip dari partaigolkar.or.id, Sekber Golkar digagas oleh para Perwira Angkatan Darat yang menghimpun puluhan organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, serta nelayan. Pembentukan Sekber Golkar ini merupakan respons terhadap PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang dinilai semakin meningkat.

Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono terpilih sebagai Ketua Pertama Sekber Golkar. Kemudian, ia digantikan oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I pada Desember 1965. Dalam perjalanannya, anggota Sekber Golkar yang berjumlah 61 kemudian bertambah dan berkembang hingga 291 organisasi. Ratusan organisasi ini kemudian dikelompokkan menjadi 7 Kelompok Induk Organisasi (KINO). Pengelompokan ini berdasarkan kekaryaannya.

Tujuh KINO itu adalah Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO), Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia, Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Organisasi Profesi, Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM), dan Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI).

Pada 4 Februari 1970, Sekber Golkar memutuskan untuk ikut sebagai peserta Pemilu 1971. Gebrakan perdana Golkar pada pemilu menunjukkan hasil signifikan. Golkar meraih 34.348.673 suara atau 62,79 % dari total perolehan suara.

Kiprah di pemilu

Golkar tercatat tampil sebagai pemenang dalam pemilu pertama pada pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto tahun 1971. Kemenangan terus diraih Golkar pada lima pemilu berikutnya yakni pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Setelah Soeharto lengser, performa Golkar sempat menurun. Pada Pemilu 1999, perolehan suara Partai Golkar turun menjadi peringkat kedua setelah PDI-P.

Golkar menduduki peringkat kedua dengan perolehan 23.741.758 suara atau 22,44% dari suara sah. Golkar kembali bangkit pada Pemilu Legislatif 2004. Partai Golkar menjadi pemenang dengan meraih 24.480.757 suara atau 21,58% dari keseluruhan suara sah. Kemenangan tersebut merupakan prestasi tersendiri bagi Partai Golkar karena pada Pemilu Legislatif 1999, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mendominasi perolehan suara.

Pada Pemilu Legislatif 2009, Golkar meraih suara 15.037.757 dari jumlah total suara sah sebanyak 104.099.785 suara. Sementara, Partai Demokrat mendapat suara 21.703.137 dan PDI-P dengan suara 14.600.09. Pada Pemilu 2014, PDI-P berhasil menyalip Golkar dengan meraih suara terbanyak yakni 23.681.471 atau 18,95 persen. Sedangkan Golkar di urutan kedua dari total 15 partai peserta pemilu dengan perolehan suara 18.432.312 atau 14,75 persen.

Target di 2019

Saat pengundian nomor urut parpol peserta Pemilu 2019, Minggu (18/2/2018), Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengasosiasikan nomor urut 4 yang didapatkan partainya dengan program yang tengah digencarkan. Keempat program tersebut yakni penyediaan lapangan kerja, penyediaan sembako murah, penyediaan rumah yang harga dan jaraknya terjangkau.

"Karena itu Golkar meminta dukungan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk berjuang bersama. Kepada kader Golkar, izinkan bersama ini saya sampaikan yel Golkar yang baru. Ada empat, Golkar bangkit, Golkar jaya, Golkar maju, Golkrar menang," kata Airlangga.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Golkar Lodewijk Freidrich Paulus mengungkapkan partainya punya ambisi untuk menambah wakilnya di parlemen pada 2019 mendatang. "Pemilihan Legislatif 2019 kami akan mengejar tambahan 19 kursi di DPR," ujarnya saat menggelar konferensi pers di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Saat ini, kata Lodewijk, kader Golkar yang masuk ke Senayan mencapai 91 kader atau 91 kursi. Artinya, dengan tambahan target 19 kursi, maka Golkar bakal mendapat 110 kursi parlemen pada 2019. Dengan 91 kursi di DPR, Golkar menjadi fraksi terbesar kedua di bawah PDIP yang memiliki 109 kursi. Meski begitu, berkat UU MD3, posisi Ketua DPR dipegang oleh Golkar.

Selain itu, Golkar juga menargetkan 20 persen suara nasional. Angka itu lebih besar dari pada Pemilu 2014 lalu dimana Golkar hanya memperoleh suara 14 persen. Terakhir, partai yang diterpa prahara isu korupsi KTP elektronik itu menargetkan kemenangan Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.[kompas]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya