23 Mei 2018

Berita Golkar - Ali Mochtar Ngabalin kini merapatkan diri ke Joko Widodo (Jokowi). Politikus Golkar ini mendapat tugas sebagai staf ahli utama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan jubir pemerintah. "Saya jubir pemerintah," kata Ngabalin saat dikonfirmasi kumparan, Selasa (22/5).

Ngabalin mengungkapkan, ia diangkat untuk mengklarifikasi banyak hal yang mungkin tidak benar dan berkembang di masyarakat. "Mengklarifikasi penjelasan yang sebenarnya tentang pencapaian pemerintah, lalu paling tidak semua fitnah yang dituduhkan kepada pemerintah bisa kita luruskan, menyampaikan berita yang benar di Istana," tuturnya.

Siapakah Ali Mochtar Ngabalin yang kini menjadi orang dekat Jokowi ini? Ngabalin, begitu ia akrab disapa, lahir di Fakfak, Papua Barat, pada 25 Desember 1968.  Sebagai politisi, ia pernah bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB) dan pernah menjadi anggota Komisi I DPR Fraksi PBB periode 2004-2009.

Tahun 2010, Ngabalin memutuskan keluar PBB dan pindah ke Partai Golkar. Menjadi kader Golkar, Ngabalin sempat membuat kontroversi saat Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Bali Aburizal Bakrie (ARB) mengumpulkan ratusan pengurus DPD I dan DPD II di Hotel Sahid, Jakarta, (10/3/2015). Ngabalin tiba-tiba dipukul penyusup yang diduga merupakan anak buah dari Yorrys Raweyai.

Insiden pemukulan tersebut dimulai saat seorang pemuda bertato di bagian lengan dan dada menyerang Ngabalin. Pukulan itu ditangkis dan Ngabalin balas memukul. "Dia datang menghampiri saya, tiba-tiba nyerang saya, mau pukul saya. Tapi untung saya tangkis. Setelah itu saya tumbuk mukanya sekali," kata Ngabalin.

Ngabalin sangat yakin orang yang memukulnya anak buah Yorrys. Ia menduga, pemukulan itu terjadi karena Yorrys tidak terima dengan perdebatan sengit yang terjadi di sebuah stasiun televisi swasta. "Saya bilang sama Yorrys bahwa Munas Ancol itu abal-abal, tidak sah, ilegal. Yorrys sempat marah, dia ngancam akan mencari saya di luar," tuturnya.

Kontroversi lainnya adalah ketika ia didapuk sebagai Direktur Politik Tim Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 lalu. Kala itu, KPU sudah menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Meski demikian, ia menyebut perjuangan Prabowo-Hatta belum selesai. Ia bahkan menyebut akan mendesak Tuhan untuk berpihak kepada paslon capres-cawapres yang kala itu mendapat nomor urut 1.

Pernyataannya itu terekam dalam video acara halal bihalal yang diadakan tim Prabowo-Hatta di Rumah Polonia yang diunggah ke Youtube. "Perjuangan yang kita lakukan tidak berhenti sampai di sini dan kita mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta," ujar Ngabalin pada 7 Agustus 2014.

Kontroversi Ngabalin selanjutnya masih saat Pilpres 2014. Saat itu, ia mengakui telah berpidato yang menyatakan mendesak Tuhan membantu Prabowo karena gemas melihat Ketua Umum Partai Gerindra itu terus diserang dan difitnah. Ngabalin mengaku gemas karena bantuan Tuhan tak kunjung turun.

"Kita gemas, kapan Tuhan turunkan (bantuan ke Prabowo). Kita desak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo. Dia lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, gitu maksudnya, dan itu pernyataan kepada siapapun tidak ada masalah," tuturnya.

Kepindahan Ngabalin dari PBB ke Partai Golkar juga sempat ramai diperbincangkan. Pasalnya, Ngabalin dituduh sebagai kutu loncat karena berpindah partai. Namun, ia menyebut dirinya besar dari keluarga Golkar karena ayahnya, Hasan Basri Ngabalin, merupakan salah satu pendiri Golkar.

"Partai Golkar bukan barang baru bagi Ali Mochtar, karena secara biologis saya dibesarkan dalam keluarga Golkar," kata dia pada 20 Oktober 2010. [kumparan]

fokus berita : #Ali Mochtar Ngabalin


Kategori Berita Golkar Lainnya