24 Mei 2018

Berita Golkar - Wacana memasangkan petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019, kembali mencuat. Partai Golkar siap memenangkan pasangan tersebut. Namun, pendiri Lembaga Survei Kedai Kopi, Hendri Satrio, melihat, langkah Airlangga masih jauh untuk menjadi cawapres Jokowi. Sosoknya tak memberi kontribusi besar terhadap elektabilitas Jokowi.

Menurutnya, dibanding nama-nama lain yang diusung sebagai cawapres Jokowi, Airlangga hanya unggul dari segi posisinya sebagai ketua umum partai besar di Indonesia, yakni Golkar. "Untuk selebihnya, belum ada (keunggulan) lain, sehingga Airlangga bukan tipikal cawapres yang dibutuhkan Jokowi," ujar Hendri di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Untuk meraih elektabilitas tinggi, Jokowi harus mencari pasangan yang memiliki keahlian jelas. Dalam Pilpres 2019, Hendri melihat, ada dua keahlian yang patut dijadikan prioritas, di bidang ekonomi dan mampu menarik umat Islam. Keduanya tidak dimiliki oleh Airlangga.

Wacana tersebut kembali mencuat saat buka puasa bersama di Kantor DPD I Partai Golkar DKI Jakarta. Dalam acara itu, Anggota Dewan Pakar Partai Golkar Hajriyanto Thohari berharap Jokowi memilih Airlangga Hartarto sebagai pendampingnya di Pilpres 2019. "Dengan sadar dan ibadah, insya allah kita akan antarkan beliau berdua, Pak Jokowi dan Pak Airlangga, untuk memimpin menuju masa depan Indonesia yang lebih baik," ujarnya, Rabu (23/5/2018).

Golkar, kata Hajriyanto, siap memenangkan Jokowi sebagai presiden dan Airlangga sebagai wakil presiden. Saat ini sudah ada dua relawan yaitu Golkar Jokowi (Gojo) dan Jaringan Kerja Untuk Joko Widodo (Jangkar Bejo) yang siap menghantarkan keduanya ke tampuk kekuasaan. "Mudah-mudahan dengan kerja-kerja politik, memohon kepada Allah SWT, shalat, cita-cita kita akan tercapai," serunya.

Peluang Airlangga
Direktur eksekutif EmrusCorner, Emrus Sihombing menilai, peluang Airlangga Hartarto besar untuk mendampingi Jokowi. Terlebih, kata dia, senior Golkar Jusuf Kalla (JK) tidak bisa maju lagi mau sebagai wakil presiden karena sudah dua kali menjabat. "Kalau JK benar dinyatakan tidak boleh maju kembali, saya perkirakan Airlangga berpeluang besar menjadi cawapres mendamping Jokowi," kata Emrus di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Ia mengungkapkan, bagaimanapun juga Airlangga memimpin partai terbesar dalam koalisi Jokowi. Belum lagi, jika bicara soal nantinya Golkar bisa memenangkan Khofifah di Jawa Timur, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah dan Deddy Mizwar di Jawa Barat.

Pengamat politik dari Poltracking Indonesia, Hanta Yudha, mengatakan, peluang Ketua Umum Partai Golkar menjadi calon wakil presiden mendampingi Presiden Jokowi pada Pemilu 2019 sangatlah kecil. "Dari data survei Poltracking Indonesia, angkanya (elektabilitas) masih nol koma. Jadi belum bisa," kata Hanta di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Hanta menjelaskan, Jokowi butuh figur cawapres yang bisa berkontribusi secara elektoral, dapat diterima semua partai koalisi, dan mempunyai chemistry atau kecocokan. Sedangkan sosok Airlangga belum memenuhi syarat lantaran belum bisa memberikan sumbangan elektoral kepada Jokowi. "Entah nanti ya, kalau sekarang belum," ujarnya.

Selain itu, status Airlangga sebagai ketua umum partai juga dianggap sebagai titik kelemahan. Sebab, kata Hanta, jabatan ketua umum terasosiasi kuat dengan partai. Sehingga, hal itu nanti akan berdampak terhadap soliditas koalisi partai karena belum tentu partai lain bisa menerima.

Hasil survei Poltracking yang dilakukan 27 Januari-3 Februari 2018 menunjukkan ada enam kandidat cawapres Jokowi selain Jusuf Kalla, yang memiliki elektabilitas di atas 5 persen. Enam kandidat itu, di antaranya Agus Yudhoyono 12,4 persen; Anies Baswedan 12,1 persen; Gatot Nurmantyo 11,4 persen; Ridwan Kamil 10,4 persen; Muhaimin Iskandar 7 persen; dan Khofifah 5,5 persen. [harianterbit]

fokus berita : #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya