01 Juli 2019

Berita Golkar - Jelang Musyawarah Nasional (Munas) Golkar pada Desember 2019, situasi internal Partai Beringin mulai memanas. Politikus senior Golkar Yorrys Raweyai menilai wajar ada desakan percepatan Munas untuk mengganti ketua umum saat ini, Airlangga Hartarto.

"Kondisi ini patut dimaklumi, mengingat target suara dan perolehan kursi parlemen yang jauh dari harapan. Dengan perolehan 14,75 persen pada Pemilu 2014, turun menjadi 12,34 persen," kata Yorrys di Jakarta Pusat, Senin, 1 Juli 2019.

Baca Juga: Yorrys Raweyai Ungkap 4 Nama Kader Cocok Gantikan Airlangga Jadi Ketum Golkar

Yorrys menilai, pada saat ini di Golkar masih ada sentralisasi kekuasaan atau berbagai kebijakan strategis masih diputuskan secara sepihak. Menurutnya, keadaan di era Airlangga tak jauh beda dengan Setya Novanto.

"Yang kesemuanya menyimpulkan bahwa kepemimpinan Airlangga Hartarto saat ini tidak berbeda dengan pendahulunya," ujar Yorrys.

Menurut Yorrys, kepemimpinan saat ini disibukkan dengan agenda-agenda eksternal Airlangga. Menurutnya, hal itu tidak memiliki efek mendulang suara bagi partai berlambang pohon beringin ini. 

"Nama besar Airlangga Hartarto justru lebih mentereng dengan jabatan eksekutifnya ketimbang sebagai ketua umum sebuah partai politik," ucap dia.

Yorrys menyebut Golkar selama ini masih bertahan karena dukungan dari sebagian publik. Namun, penurunan suara Golkar di Pileg 2019 menurutnya bisa mengisyaratkan suara publik yang makin meredup.

Baca Juga: Yorrys Ogah Kegagalan Golkar Di Bawah Airlangga Terulang Lagi di 2024

"Kesibukannya sebagai Menteri Perindustrian telah membuat kinerja-kinerja kepartaian yang seharusnya digeluti, diganti dengan sambilan. Bahkan cenderung sebagai business as usual semata," kata Yorrys. [viva]

fokus berita : #Yorrys Raweyai


Kategori Berita Golkar Lainnya