03 Juli 2019

Berita Golkar - Fungsionaris DPP Partai Golkar Syamsul Rizal menegaskan bahwa Pilpres sudah selesai, sengketa di MK juga sudah selesai, semua elemen bangsa sudah menerima hasil dari proses demokrasi itu. Sepatutnya DPP kembali berpikir bagaimana melakukan konsolidasi politik baik secara internal maupun eksternal.

"Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar, sebaiknya Airlangga Hartarto segera melaksanakan rapat Pleno sebagai bentuk konsolidasi internal dalam rangka mempersiapkan agenda Rapimnas Partai dan lain lain. Rapim juga inikan amanat AD/ART Partai,” tegas Syamsul di Jakarta, Rabu (03/07/2019).

Baca juga: Kader Muda Golkar Tuding Elit Yang Korup Bikin Elektabilitas Partai Merosot

Selain sebagai ketua Umum saat ini, Airlangga juga masih sebagai pembantu presiden. Karena itu sebaiknya Airlangga Hartarto segera fokus menyelesaikan tugas-tugas negara yang tersisa karena tak lama lagi pemerintahan Pak Jokowi periode pertama akan berakhir.

"Memang sulit kalau seorang Ketua Umum juga memegang jabatan publik, apalagi kita tahu jabatan eksekutif itu adalah penyelenggara UU. Di Partai Golkar itu kalau secara struktur ada wakil-wakil ketua, ada juga Korbid-korbid, kalau Ketua Umum berhalangan karena kapasitasnya sebagai pembantu Presiden, tugas-tugas pokok Partai yang lain bisa didelegasikan sesuai tupoksinya sehingga roda organisasi itu terus bergerak dan tidak stagnan." lanjut Syamsul.

Baca juga: Syamsul Rizal Ungkap Peran Besar Kader Senior Pertahankan Golkar Di Papan Atas

"Saya mau mengingatkan kepada kita semua bahwa sumber masalah polemik partai usai pileg dan pilpres saat ini karena secara elektoral kursi Partaia Golkar berkurang signifikan, demikian juga dari sisi Parlemen Treshhold suara Golkar juga drastis turun. Karenanya, jangan salah kalau timbul riak riak di internal, karena ini adalah masalah partai yang sangat mendasar. Bukan masalah dukung mendukung atau suka tidak suka dan lain-lain," kata Syamsul.

Syamsul merasa kepengurusan DPP Partai Golkar saat ini gagal. Namun, bukan dalam arti kegagalan personal Airlangga, melainkan kegagalan kolektif. Kepemimpinan saat ini tidak dapat mempertahankan perolehan suara dan kursi yang pernah disumbangkan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum pada pemilu tahun 2014 silam. “Inikan tidak, malah kurangnya sangat jauh dari apa yang dijanjikan Airlangga dengan target 110 Kursi itu,” ujar Syamsul.

Mengenai pernyataan Rizal Malarangeng sebut 'Bambang Soesatyo lupa diri', menurut Syamsul pernyataan ini tak jauh beda dengan pernyataan seorang anak TK yg baru belajar nyanyi. “Pantasnya Bung Rizal berterima kasih kepada Bamsoet yang kritis terhadap kondisi Golkar yang saat ini sedang mengalami keterpurukan perolehan suara dan Kursi di DKI akibat kegagalan kepemimpinan Bung Rizal dalam memimpin Golkar DKI.” tegas Syamsul.

Sekali lagi, Syamsul menegaskan pesta demokrasi sudah selesai. Golkar secara organisasi sudah memberikan Kontribusi politik kepada Pak Presiden Jokowi periode kedua. Karenanya, Syamsul meminta kepada Presiden Jokowi melalui teamnya untuk evaluasi juga hasil-hasil perolehan suara capres di setiap Partai pengusung.

"Kita harus paham selain Pak Jokowi masih berstatus sebagai Capres, sampai saat ini Pak Jokowi juga masih berstatus Presiden RI yang patut dijaga kewibawaannya. Saya menyarankan agar oknum DPP siapapun itu tidak boleh menarik nama besarnya ke dalam polemik saat ini, apalagi mengembangkan pernyataan multi tafsir seolah-olah mendukung Airlangga kembali menjai Ketua Umum Golkar, jelas merusak etika kenegeraan," urainya [kontributor Jakarta]

fokus berita : #Syamsu Rizal


Kategori Berita Golkar Lainnya