15 Juli 2019

Berita Golkar - Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik, yang punya reputasi sebagai musuh Orde Baru, punya cerita miring tentang Suprapto Sukowati. Kata Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995), Sukowati alias Pingji “terkenal karena satu daun telinganya dipotong oleh seorang kapten anak buahnya karena ia selingkuh dengan istri kapten itu.”

Lepas dari cerita miring tersebut, di kehidupan nyata Sukowati adalah sosok yang sangat dihormati, setidaknya di masa Orde Baru. Dia dikenang sebagai Ketua Umum Golkar kedua setelah Djuhartono.

Sebelum menjadi Ketua Umum Golkar, Sukowati adalah perwira penting di Angkatan Darat, tapi bukan urusan tempur. Dia lebih banyak menangani hubungan tentara dengan sipil. Sukowati bersama kawan-kawannya, menurut Junus Jahja dalam Catatan Seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (1989: 44), “membentuk macam-macam Badan Kerjasama (BKS) golongan-golongan Karya dan Militer seperti BKS Buruh Militer, BKS Seniman Militer, BKS Pemuda Militer dan lain-lain.”

Infografik Ketua Golkar Sukowati

Selain itu dia kemudian mengurusi Badan Pembina Potensi Karya (BPPK) dan pernah pula mengurusi Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FBPIB). Semua badan itu ditangani perwira menengah seperti Letnan Kolonel Harsono, Kolonel Djuhartono, Letnan Kolonel Amir Moertono, dan Letnan Kolonel Isa Idris. Semua perwira itu bertanggung jawab kepada Kolonel Sukowati selaku Inspektur Jenderal Teritorial dan Pertahanan. Organisasi macam BPPK itu, menurut David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 287), dikoordinasikannya sejak 1957.

Bekas komandan peleton tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) bikinan Jepang ini pada masa Revolusi bertugas di Jawa Timur. Dia sempat menjadi komandan ekspedisi ke Negara Indonesia Timur pada 1950. Pernah juga menjabat komandan resimen di Kediri pada 1950-an. Hingga 25 Oktober 1965 dia adalah Asisten 5/Teritorial Panglima AD dan pada Januari 1966 dia dijadikan Deputi Pembinaan Khusus di ABRI. Karier militernya tidak mentereng setelah Letnan Jenderal Ahmad Yani terbunuh.

Setelah 1966 Sukowati, yang sudah mayor jenderal, bukan pejabat strategis di militer. Dia malah menggantikan Brigadir Jenderal Djuhartono sebagai Ketua Umum Sekber Golkar. Wakil-wakilnya saat itu adalah Mayor Jenderal Djamin Ginting dan Mudjono. Sekretarisnya Kolonel Dr. Amino Gondohutomo. Bertindak sebagai juru bicara adalah Brigadir Jenderal Sugandhi, bekas ajudan Presiden Sukarno yang mendirikan MKGR.
Soeharto dan Sekber Golkar
Sekber Golkar semula lahir sebagai gabungan dari Front Nasional dengan organisasi atau golongan kekaryaan, di mana Brigadir Jenderal Djuhartono sebagai ketua umum pertamanya. Di masa Djuhartono—yang dikenal sebagai pemuja Sukarno—Sekber Golkar masih dianggap dekat dengan Sukarno. Namun Djuhartono dan pemimpin yang dicap loyalis Sukarno lain seperti Drs. Imam Pratignjo dan J.K. Tumakaka akhirnya tersingkir. Naiklah kemudian Sukowati.

Di zaman Sukowati, seperti dicatat David Reeve, Sekber Golkar melangkah pasti bersama Soeharto dan Angkatan Darat, yang menjadi pemenang dalam pertarungan politik nasional setelah Sukarno tumbang. Golkar makin hari makin kuat dengan makin banyaknya organisasi yang ingin bergabung. Di masa Sukowati pula Golkar dirombak pengurusnya, demi kesolidan organisasi.

“Pada tanggal 5 September 1966, Soeharto mengirim instruksi kepada empat panglima angkatan dalam ABRI untuk menyediakan fasilitas seluas-luasnya bagi perkembangan Sekber Golkar,” catat David Reeve.

Selain itu koran kubu militer Indonesia, Angkatan Bersenjata, masih kata Reeve, rajin menyebut Sekber Golkar sebagai satu-satunya kekuatan regenerasi politik.

Pada Mei 1968, ketika menjabat Ketua Umum Sekber Golkar, Sukowati dijadikan asisten urusan khusus di Departemen Pertahanan Keamanan (Hankam). Kala itu Menteri Pertahanan Keamanan dirangkap oleh pejabat Presiden Soeharto. Setelah muncul rencana Pemilu pada 1971, Sukowati mau tidak mau harus sibuk. “Dia melakukan serangkaian tur keliling Jawa Bali,” tulis Reeve. Dia mengunjungi pejabat daerah baik sipil maupun militer, dan tentunya pemuka masyarakat.

Menjelang Pemilu 1971, Sekber Golkar lalu diringkas sebutannya, tanpa embel-embel 'Sekber' lagi. Dan belakangan hanya disebut Golkar. Peserta Pemilu yang tidak mau disebut partai ini tak ingin terlalu naif di awal Orde Baru. Di bawah Sukowati, Golkar sadar diri sebagai "anak bawang" dalam Pemilu 1971. Partai-partai lawan sudah membuktikan kekuatan suaranya pada 1955.

“Bendahara Sekber Golkar, Drs. Moerdopo dalam bulan Maret 1971 menyatakan bahwa Golkar hanya berharap memenangkan 50 persen suara, plus satu,” tulis Heru Cahyono dalam Peranan Ulama dalam Golkar 1971-1980 (1992: 80). “Sukowati pun kelihatan merasa puas bila Golkar bisa masuk tiga besar, (NU, PNI, Sekber Golkar).”

Meski tampak pesimis, sejatinya mesin Golkar bekerja sangat efektif. Apalagi berkat dukungan kekuatan daripada Soeharto. Yang terjadi terjadilah. Dalam Pemilu pertama Orde Baru itu Golkar meraih 34.348.673 suara atau 62,82 persen. Suatu hasil yang tidak bisa dibilang kecil. Kepemimpinan Sukowati adalah kepemimpinan Golkar pertama yang merasakan kemenangan dalam Pemilu.

Dari 10 kontestan, Golkar nomor satu dan bisa menempatkan 236 wakilnya di parlemen. “Suprapto Sukowati tidak dapat menikmati hasil kemenangan Pemilu tahun 1971, beliau wafat pada tahun 1972,” tulis Soekanto dalam Golkar dalam Sorotan: Organisasi Kader, Bukan Sekedar Mesin Pengumpul Suara (1994: 3).

Mayor Jenderal kelahiran Sragen, 12 November 1922 ini tutup usia pada 9 Agustus 1972 di Jakarta. Makamnya belakangan kerap dikunjungi para petinggi Partai Golkar.

Setelah Sukowati tutup usia, di bawah Amir Moertono dan lain-lainnya, Golkar terus berjaya. Golkar selalu jadi juara tiap pemilu Orde Baru. Setelah Soeharto lengser, Golkar juga masih tergolong partai kuat, meski tak mudah lagi dapat suara seperti zaman sebelumnya. [tirto]

fokus berita : #Suprapto Sukowati


Kategori Berita Golkar Lainnya