25 Juli 2019

Berita Golkar - Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Komisi II DPR RI, Zainudin Amali masih bisa menyisihkan waktu menyelesaikan studi doktoralnya pada Program Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jakarta.

Bertempat di Kampus IPDN Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (23/7) Zainudin Amali menjalani proses ujian Promosi Doktor Ilmu Pemerintahan. Dalam menyampaikan hasil desertasinya, Zainudin mendapatkan pujian baik dari penguji maupun dari promotornya. Semua pertanyaan penguji berhasil dijawabnya dengan baik dan tenang.

Baca Juga: Golkar Jatim Dukung Zainudin Amali Jadi Menteri Agraria Kabinet Jokowi

Excellent, itulah yang dilontarkan oleh Peof Juntika dari Universitas Persatuan Indonesia (UPI) di Bandung ketika dengan tenangnya Zainudin menjawab semua pertanyaannya.

Ketua Promotor Ermaya Suryadinata mengatakan, Zainudin orang yang gigih berjuang mulai dari dari perkuliahan matrikulasi sampai sengan ujian promosi doktor.

“Zainudin Amali gigih menperjuangkan keilmiuan dalam ilmu pemerintahan,” ujar Zainudin.

Dalam desertasinya yang berjudul Analisis Rekonstruksi Penyelenggaraan Otonomi Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, Zainudin yg lebih akrab dengan ZA itu melahirkan teori atau model baru dengan nama TARSIL yang merupakan pengembangan keterbaruan ide yang terdapat pada enam dimensi utama, yakni model trust, authority, responsibility, supervision, integration, dan local wisdom.

Model tersebut dilatarbelakangi dari rekonstruksi penyelenggaraan otonomi daerah orde lama, orde baru dan reformasi tidak lepas dari fenomena empirik pada saat itu. Secara etimologi, model TARSIL mengandung makna bahwa otonomi adalah pemberian kewenangan dan pengendalian kewenangan dari pemerintah yang lebih tinggi ke pemerintah yang lebih rendah.

Sedangkan umumnya model TARSIL yaitu model konstruksi otononi daerah sebagai sebagai upaya pemerintah pusat memberikan kewenangan untuk menunjang pemerintahan yang partisipatif dengan mengedepankan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Zainudin, model ini merupakan salah satu upaya sebagai anak bangsa dalam mempertahankan NKRI. Ketika menjawab pertanyaan Direktur Pasca Sarjana IPDN yang juga Co Promotor, Dr Sampara Lukman, MA, Zainudin beberapa kali terdiam dan air matanya pun menetes. Sampara memohon pertanggungjawaban akademik tentang model yang dilahirkan ini.

“Saya ingin promovendus menjelaskan bahwa dalam perspektif politik pemerintahan, apakah model yang diajukan bisa mencegah terjadinya perpecahan NKRI seperti yang dialami negara-negara kuat yang ada di barat sana. Saya mohon pertanggungjawaban secara akademis,” ujar Sampara.

Saat menjawab pertanyaan ini, Zainudin tak bisa membendung air matanya. Sejenak Zainudin terdiam dan mengambil tisu untuk menyeka air matanya. Dengan tegas Zainudin mengatakan siap bertanggungjawab dengan model yang diajukan tersebut.

“Saya sangat terikat secara emosional dengan judul ini. Siapa yang bisa membayangkan Uni Soviet yang sangat kuat, baik dari segi ekonomi maupun kesejahteraan yang akhirnya pecah. Apakah oernah terlintas di benak kita ketika itu Yugoslavia sebagai kekuatan yang besar yang juga pada akhirnya pecah. Apakah itu tidak mungkin terjadi di NKRI yang kita cintai ini. Siapa yang bisa memprediksi 5,10,20 tahun ke depan kita masih bisa sama-sama seperti ini. Sehingga menurut saya, desentralisasi atau otonomi daerah adalah salah satu jawaban untuk merekatkan bangunan NKRI,” jelas Zainudin.

Ditambahkannya, eksistensi NKRI sudah teruji berkali-kali dan haknya mendapatkan tantangan. Kalau kita tidak pintar mengelola dan merawat NKRI ini maka bukan tidak mungkin akan bernasib seperti Yugoslavia yang mudah-mudahan tidak akan kita alami.

Baca Juga: Sudah 4 Periode di DPR, Zainudin Amali Masuk Bursa Menteri Jokowi dan Ketua MPR

Nah, salah satu jawabannya adalah bagaimana kota memperkuat otonomi daerah. Peran daerah tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia tetapi dia memiliki kewenangan untuk mengatur dirinya sendiri. Pemerintah daerah diberi kewenangan, kepercayaan dan tanggung jawab dengan tetap disupervisi.

“Itulah kenapa saya berani dan meyakini bahwa jawaban pengembangan otonomi daerah yang baik di masa depan,” ungkap putera daerah Gorontalo ini. Turut hadir dalam ujian promosi doktor ini sejumlah tokoh penting, Mengadri Tjahyo Kumolo, Menteri Sosial Agus G Kartasasmita, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, penasehat Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Umum DPP Golkar Erlangga, Agung Laksono, Anggota BPK RI Hary Azhari, Ketua KPU RI Arif Budiman dan jajarannya, Ketua Bawasli RI, Abhan dan jajarannya serta sejumlah tokoh lainnya. [hargo]

fokus berita : #Zainudin Amali


Kategori Berita Golkar Lainnya