04 Agustus 2019

Berita Golkar - Wakil Koordinator bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo menyebut partainya harus konsolidasi membangun kembali kekuatan dengan merangkul semua golongan atau komunitas.

Hal ini dianggap perlu dilakukan, selain untuk meningkatkan perolehan suara saat Pemilu, juga untuk mengakumulasi semua sumber kekuatan nasional demi membentengi Pancasila, dan merawat serta memperkokoh persatuan-kesatuan bangsa.

Baca Juga: Komunitas Simpatisan Golkar Dukung Bamsoet Jadi Ketum, Airlangga Jadi Ketua Wanbin

Bakal calon ketua umum Partai Golkar ini menjelaskan, di masa lalu, Sekber Golkar berhasil mengakumulasi kekuatan yang bersumber dari ratusan organisasi yang kemudian dikelompokan dalam tujuh Kelompok Induk Organisasi (KINO), antara lain, Kosgoro, Soksi dan MKGR, dan sejumlah organisasi kepemudaan dan keagamaan.

"Catatan singkat tentang peran strategis Golkar di masa lalu ini perlu dikedepankan lagi agar semua unsur di dalam keluarga besar Golkar paham betapa bangsa dan negara sangat membutuhkan partai ini," ujar pria yang akrab disapa Bamsoet ini, di Jakarta, Minggu (4/8/2019).

"Golkar adalah penjaga dan pengamal Pancasila serta UUD 1945. Golkar pun terbukti mampu menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman bangsa. Golkar menjadi kekuatan politik yang tak terpisahkan dari eksistensi bangsa dan negara," tegasnya.

Merasa terikat dengan panggilan sejarah, Bamsoet merasa takdir itu harus diaktualisasikan lagi karena kehendak zaman. Termasuk menyatukan kembali berbagai kekuatan yang lama terserak itu menjadi satu kekuatan penuh.

"Termasuk para purnawirawan dan keluarga TNI/Polri plus Satkar Ulama, MDI dan Al Hidaiyah yang selama ini jalan sendiri-sendiri. Untuk era terkini, golongan dan kelompok dimaksud tentu saja ada di dalam generasi milenial. Karakter generasi milenial sudah banyak diulas," kata dia.

Menurut dia, jika Golkar ingin melakukan pendekatan kepada mereka para kaum milenial, tentu saja pola pendekatannya berbeda dengan pola yang dulu digunakan oleh para perancang Sekber Golkar.

"Tantangannya adalah kesungguhan untuk membangun komunikasi yang intens dengan mereka. Selain komunikasi yang intens, Golkar juga harus mau beradaptasi dengan pola hidup generasi milenial. Pola lama dalam upaya merangkul konstituen atau simpatisan partai harus diubah, disesuaikan dengan perilaku dan budaya milenial," ujarnya.

Ia mengatakan, sebelum dan selama tahun politik 2019, terbaca dengan cukup jelas aspirasi generasi milenial yang menginginkan kekuatan nasional menjaga dan mengamankan Pancasila, UUD 1945 dan keutuhan NKRI.

Dari aspirasi itulah, lanjutnya, lahir tagar ‘Pancasila Harga Mati’ dan ‘NKRI Harga Mati’. Namun, aspirasi itu lebih sering disampaikan generasi milenial kepada TNI dan Polri, bukan kepada partai Politik, termasuk Golkar.

"Dengan begitu, ada peluang bagi semua semua kekuatan nasionalis seperti Golkar untuk melakukan pendekatan, serta mengeksplorasi kekuatan generasi milenial sebagai simpatisan karena alasan kesamaan aspirasi," tukasnya. [akurat]

fokus berita : #Bambang Soesatyo


Kategori Berita Golkar Lainnya