08 Agustus 2019

Berita Golkar - Dengan modal sembilan kursi di DPRD, Partai Golkar tidak perlu harus berkoalisi dengan partai lain untuk mengusung pasangan bakal calon di Pilwakot Mataram 2020 mendatang. Sebagai partai pemenang Pemilu 2019 di Mataram, Golkar bisa mengusung sendiri pasangan bakal calon.

Baca Juga: Mohan Roliskana Ungkap Golkar Ajukan 3 Nama Ini Untuk Jadi Ketua DPRD Mataram

Dengan posisi politik itulah kemudian membuat sejumlah kader Golkar kemudian cukup percaya diri mewacanakan akan mengusung pasangan calon dari internal partai saja, baik sebagai calon Walikota maupun Wakil Walikota.

Diketahui Golkar Mataram dipastikan akan mencalonkan Ketua DPD II, H. Mohan Roliskana sebagai kandidat balon Walikota dan kader menghendaki agar wakil Mohan juga diambil dari Golkar sendiri. Wacana itu disuarakan oleh kader senior Partai Golkar Kota Mataram, H. Didi Sumardi.

“Kalau kepemimpinan memang itu yang lebih maslahat bagi rakyat, itu tidak menjadi sesuatu yang masalah, kenapa tidak kan. Dari mana saja yang penting kepemimpinan itu mampu menjalankan tugasnya dengan baik,” ujar H. Didi Sumardi, SH., kepada Suara NTB.

Dikatakan Didi, Golkar memiliki banyak stok kader yang dinilai layak dan pantas untuk menjadi pendamping Mohan bertarung di Pilwakot Mataram 2020 mendatang. Baginya jika memang hal itu yang terbaik, dari segala pertimbangan, maka tidak ada soal jika Golkar mengusung kadernya sebagai pasangan balon Walikota dan Wakil Walikota.

Baca juga: Nasaruddin Penggagas Industrialisasi Pertanian untuk Kesejahteraan Petani
“Ada banyak sekali kader Golkar yang bisa jadi wakil beliau. Tapi tentu nanti akan ditimbang sama pak Mohan, dari semua sisi. Yang paling penting adalah pertimbangan kemanfaatannya bagi daerah dan masyarakat. Tidak ada masalah Golkar-Golkar,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan Ketua sementara DPRD Kota Mataram itu. Golkar juga sudah memiliki pengalaman yang panjang untuk mengusung kadernya menjadi satu paket pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota. Namun hal itu ternyata tidak lantas membuat Golkar tersingkir dalam beberapa periode ini.

“Sebelumnya juga kan kita begitu, dari Golkar-Golkar. Dulu mulai dari alm. Pak Ruslan berpasangan dengan pak Ahyar kan satu partai, menang. Kemudian lanjut lagi ke pak Ahyar berpasangan sama Mohan juga sama satu partai dan menang. Nah ke depan ini juga bisa jadi,” jelasnya.

“Tapi itu nanti semua kembali kepada pak Mohan sebagai calon yang akan menentukan. Kita hanya ikut memberikan pertimbangan. Kita tunggu saja nanti seperti apa keputusannya, karena kita belum dipanggil sama pak Mohan untuk membahas itu,” sambungnya.

Namun demikian, karena dinamika politik jelang Pilwakot Mataram 2020 masih berlangsung cair. Untuk sementara ini Golkar membuka diri untuk membangun komunikasi politik dengan parpol lain. Jika memang ada figur dari partai lain yang dinilai paling pantas mendapingi Mohan, Golkar juga terbuka dan tidak akan memaksakan diri untuk menjadikan kadernya sebagai Wakil Mohan.

Baca juga: Pilkada Serentak, Gerindra Buka Ruang bagi Figur Non Kader
“Tapi begitu juga mana kala ada figur lain diluar Golkar yang lebih kapabel, lebih prospek, dan mampu meyakini bisa memberikan sesuatu yang lebih bagus lagi kenapa tidak. Karena itu kita buka komunikasi politik yang cair, mesikipun sampai saat ini belum ada yang serius,” katanya.

Ditempat terpisah sebelumnya, Mohan sendiri mengaku masih sangat terbuka kepada siapa saja yang akan menjadi wakilnya. Bagi dirinya yang jelas, calon wakil tersebut bisa klop dengan dirinya dan bisa memberikan sumbangan suara yang signifikan untuk memenangkan pertarungan.

“Kalau saya bisa dari mana saja, banyak peluanglah, dari mana saja, bisa dari parpol, profesional dan akademisi, termasuk dari kalangan perempuan. Yang penting syaratnya adalah bisa chimestry dengan baik, dan bisa membantu suara secara signifikan. Intinya ya bisa siapa saja Insya Allah, saya terbuka,” pungkasnya. [suarantb]

fokus berita : #Didi Sumardi


Kategori Berita Golkar Lainnya