23 Agustus 2019

Berita Golkar - Fungsionaris Partai Golkar M Syamsul Rizal meminta Presiden Joko Widodo mencopot Airlangga Hartarto dari jabatanya Menteri Perindustrian karena dinilai gagal memimpin partai berlambang pohon beringin itu.

Disisi lain, Airlangga dinilai gagal memenangkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019 lalu di beberapa provinsi yang merupakan kantong - kantong besar Partai Golkar yang tersebar di Indonesia.

Baca Juga: Fungsionaris Golkar Sebut Majelis Etik Instrumen Abuse of Power

"Kami meminta kepada Presiden RI agar segara mencopot atau menggantikan Ketua Umum Partai Golkar dari jabatannya sebagai menteri saat ini serta meminta Presiden terpilih Bapak Ir. Jokowidodo untuk mempertimbangkan kembali mengangkatnya sebagai menteri dalam kabinet Jilid II jika namanya diusulkan oleh Partai Golkar," kata M Syamsul Rizal dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Airlangga Klaim Kantongi 92 Persen Suara, Sirajuddin Wahab: Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Syamsul Rizal menilai Airlangga sebagai Ketua Umum partai telah membuat kegaduhan politik di internal. Dia menyebut praktek politik antikritik dan otoritarian dibawah kepemimpinan Airlangga menjadi malapetaka bagai partai golkar secara organisatoris.

"Di akhir masa jabatannya saat ini sebagai ketua umum partai Golkar membuat kegaduhan politik baru secara nansional dimana dalam situasi pemerintah saat ini sedang dalam membenahi berbagai macam masalah masalah politik yang dapat mengancam ketahanan nasional kita," pungkasnya.

Syamsul Rizal menjelaskan, banyak pelanggaran AD/ART dan PO dilakukan oleh Ketua Umum Partai golkar ini semenjak kepemimpinannya sehingga tak heran kemudian lahirlah berbagai macam kritik dan tuntutan sebahagian besar pengurus pleno DPP PG agar Ketua Umum Partai Golkar segera menjalankan konsolidasi partai pasca pileg dan pilpres sesuai mekanisme.

Selain dianggap melanggar AD/ART dan PO, Ketua Umum Partai golkar juga dianggap dalam menjalankan roda organisasi partai seenak maunya saja, padahal yang dilakukannya banyak sekali bertentangan dengan azas kolektifitas Partai Golkar, termasuk ketua umum partai golkar juga tidak menghargai surat dewan Pembina Partai Golkar yang sudah disampaikan ke DPP perihal memberikan masukan untuk segera melakukan evaluasi melalui rapat pleno.

"Hal yang paling menyedihkan buat kami kader golkar adalah tiba - tiba kantor DPP Partai Golkar dimasukan oleh sekelompok preman yg dimobilisir dari luar masuk oleh oknum DPP Partaio Golkar lalu disarungin dengan simbol partai, dibuatkan kartu anggota partai Golkar tiba - tiba sebagai alat legitimasi para preman untuk menjaga kantor DPP Partai Golkar sementara yang kami tau bahwa di DPP Golkar sudah ada security dan Aparat kepolisian," jelasnya.

"Bagi saya cara-cara oknum DPP Partai Golkar saat ini yang memobilisasi Preman masuk dalam pekarangan DPP PG adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap Institusi terutama marwah Partai dan kader, karena Partai Golkar adalah partai kader dan kumpulan para politisi yang berintelektual tinggi, bukan partai yang dihuni preman," tegasnya.

Situasi saat ini makin keruh, suhu politik internal jadi memanas akibat ulah dari gaya kepemimpinan ketua umum saat ini yang hanya mau mempertahankan kekuasaannya di periode kedua dengan mengabaikan azas azas kepatutan yg lazim dilaksanakan oleh partai golkar sesuai mekanisme organisasi.

"Sebagai kader Muda yang bercita - cita dan terus berjuang mengembalikan kejayaan partai golkar, mengajak kita semua kader diseluruh indonesia untuk bangkit menyelamatkan partai yang kita cintai ini, mengawal partai ini dengan menjalankan Panca Bhakti Partai Golkar dan doktrin Karya Kekaryaan” berlandaskan Pancasila dan UUD 1945," tutupnya. [akurat]

fokus berita : #Syamsul Rizal


Kategori Berita Golkar Lainnya