27 Agustus 2019

Berita Golkar - Politikus muda Yogi Kurniawan menyebut Kota Bekasi bukan hanya cocok bergabung dengan DKI Jakarta. Namun, Wali Kotanya juga cocok menjadi Gubernur DKI Jakarta selanjutnya.

"Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi sosok yang tepat untuk jadi Gubernur DKI Jakarta selanjutnya," ujar Yogi Kurniawan kepada Wartakotalive, Selasa (27/8/2019).

Anggota DPRD Kota Bekasi periode 2019-2024 itu menyebut kepemimpinan Rahmat Effendi tak diragukan lagi.

Banyak hasil, katanya, yang sudah dirasakan oleh warga Kota Bekasi, baik segi pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

"Lihat saja pembangunan di Kota Bekasi maju cepat seperti ini."

"Banyak prestasi yang bisa didapatkan berkat kepemimpinan yang sangat kuat, visioner, dan tegas dari Rahmat Effendi," beber politikus Partai Golkar itu.

Ia yakin jika Rahmat Effendi maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta tahun 2024, akan menang.

"Saya yakin beliau menang, sudah banyak yang kenal sosok beliau, dan kepemimpinannya tak diragukan lagi," ulasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi beberapa hari ini tampak sibuk menghadiri acara talkshow di stasiun televisi, soal wacana Bekasi gabung ke DKI Jakarta.

Nama Rahmat Effendi kian mencuat dan terkenal di kalangan masyarakat DKI Jakarta maupun Indonesia.

Soal wacana ini, Rahmat Effendi disebut-sebut mencari panggung agar lebih terkenal dan memuluskan jalannya maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta.

Saat ditanya hal tersebut, Rahmat Effendi tak menjawab secara tegas akan keinginannya maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

"Orang baru wacana, orang bermimpi, orang berharap, boleh enggak?" ujarnya seusai menghadiri pelantikan anggota DPRD Kota Bekasi, Senin (26/8/2019).

"Orang kita berdoa sama Allah, ini kan sama aja berdoa, apa yang dilanggar?" imbuhnya.

Pepen, sapaan akrabnya, menyatakan banyak hasil yang telah dirasakan oleh masyarakat Kota Bekasi.

"Bapak tanya sekarang, ada enggak hasilnya di Kota Bekasi, ada enggak? Jujur, ada kan?"

"Tapi enggak usah muluk-muluk lah. Jadi wali kota aja sudah bersyukur, bisa melaksanakan amanah," tuturnya.

Saat ini Rahmat Effendi mengaku hanya fokus menjalani tugas sebagai Wali Kota Bekasi, dengan cara memberikan yang terbaik kepada warga Kota Bekasi.

"Saya fokus kerja saja jalankan amanah, tapi garis hidup kan enggak ada yang tahu," ucapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengaku sempat ditawarkan menjadi bagian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Kalau Bekasi mah sudah ditawarkan sama DKI," ungkap Rahmat Effendi kepada awak media, seusai Rapat Paripurna Istimewa di DPRD Kota Bekasi, Jumat (16/8/2019).

"DKI Jakarta Tenggara, Bekasi, Kota Bekasi yang cocok,” imbuhnya.

Hal itu mencuat ketika Rahmat Effendi dimintai tanggapan terkait wacana pemekaran Jawa Barat menjadi Bogor Raya, yang disampaikan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Bupati Bogor Ade Yasin beberapa waktu lalu.

"Ya sekarang kita kan lebih dekat ke DKI Jakarta. Tapi itu kita serahkan semua ke masyarakat, warga Kota Bekasi mau atau tidak," ujar Pepen, sapaan akrabnya.

Pepen justru melontarkan wacana baru untuk pembentukan Provinsi Pakuan Bhagasasi, dan tidak memilih untuk masuk dalam Pemprov Bogor Raya yang diwacanakan Bima Arya dan Ade Yasin.

“Kalau Bogor mewacanakan Bogor Raya, saya mewacanakan Provinsi Pakuan Bhagasasi. Pakuan (Bhagasasi) itu Karawang, Bekasi, Depok, Bogor, kalau mau ambil Cianjur," bebernya.

Pepen menilai Provinsi Pakuan Bhagasasi itu berpotensi memiliki APBD setengah dari APBD Provinsi Jawa Barat saat ini.

"Tapi apakah perlu pemekaran atau tidak, itu bukan kapasitas saya ya. Tapi sepanjang untuk kebaikan, untuk percepatan pembangunan, kenapa tidak?" tuturnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Bupati Bogor Ade Yasin meletupkan wacana baru dengan membentuk Provinsi Bogor Raya.

Pemekaran wilayah itu merupakan langkah untuk mengantisipasi perkembangan penduduk Kota dan Kabupaten Bogor yang setiap tahun mengalami peningkatan.

Pemkot Bogor saat ini memang sedang memantapkan rencana perluasan wilayah.

Beberapa wilayah yang diusulkan masuk ke dalam rencana perluasan wilayah Kota Bogor itu antara lain Ciawi, Tamansari, Sukaraja, Ciomas, dan Dramaga.

Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang berbatasan langsung antara Kota Bogor dengan Kabupaten Bogor.

Namun di tengah rencana itu, muncul wacana baru soal pembentukan Provinsi Bogor Raya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, opsi pembentukan Provinsi Bogor Raya itu sudah lama diwacanakan sejak tahun 2012.

Bima menuturkan, wilayah-wilayah strategis yang bisa masuk ke dalam pembentukan Provinsi Bogor Raya itu adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Depok.

"Ini pun berdasarkan kajian kita dan masukan dari warga. Mungkin opsi lain bukan menambah wilayah baru, tapi dipersempit teritorinya jadi provinsi baru," ucap Bima Arya, Senin (12/8/2019), dikutip dari Kompas.com.

"Kalau temen-temen googling, ide ini sudah lama dari tahun 2012," sambungnya.

Bima Arya menjelaskan, pembentukan Provinsi Bogor Raya tersebut adalah satu dari tiga opsi pilihan lain yang disiapkan untuk memperluas wilayah Kota Bogor.

Perluasan wilayah, kata Bima Arya, perlu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan penduduk di kota hujan itu.

"Saat ini kan banyak berkembang seolah-olah Kota Bogor ingin mengambil wilayah di Kabupaten Bogor. Saya tidak mau salah dipahami."

"Poinnya adalah Kota Bogor harus mengantisipasi perkembangan penduduk," sebutnya.

Bima Arya mengaku, sejauh ini dirinya baru berkomunikasi dengan Bupati Bogor terkait wacana pembentukan Provinsi Bogor Raya.

"Untuk daerah lain belum kita obrolkan. Saya hanya ngobrol intens dengan Bupati Bogor."

"Kita juga sempat membahas soal perluasan wilayah Kota Bogor, bahkan saya juga sempat mengkajinya bersama Bupati," beber Bima Arya.

Rencana Pemerintah Kota Bogor membentuk Provinsi Bogor Raya, memunculkan reaksi dari sejumlah wilayah di Jawa Barat, salah satunya Kota Depok.

Terkait hal itu, Wali Kota Depok Mohammad Idris Abdul Somad angkat bicara.

"Ada baiknya menyelesaikan permasalahan yang masih muncul di wilayah Bogor lebih dahulu," ujar Idris kepada wartawan, seusai Pisah Sambut Kapolres di Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Rabu (14/8/2019).

Permasalahan yang dimaksud Idris adalah proses pemecahan wilayah Bogor Barat dan Bogor Timur.

"Karena masalah itu jelas ada dan sudah bertahun tahun, kemudian kebutuhannya juga jelas. Jadi itu dulu yang diselesaikan," papar Idris.

Namun demikian, wacana memisahkan diri dari Jawa barat dinilai Idris tidak terlalu buruk.

Beberapa waktu sebelumnya, sempat dilakukan pembicaraan mengenai temuan masalah krusial di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Hasil pembicaraan tersebut pun memunculkan usulan untuk membentuk Provinsi Jakarta Raya.

"Sempat saat itu ada keinginan untuk memunculkan Jabodetabek dipadukan. Tetapi kalau sekadar wacana saja tidak malah, terpenting bisa apa tidak," tuturnya.

Ketika itu, wacana tersebut muncul lantaran membahas mengenai permasalahan bersama yang ada di Jabodetabek.

"Masalah sampah, kemacetan, dan sanitasi, ini tidak bisa diselesaikan satu daerah tanpa kita melihat tetangga kita, jadi, sempat muncul soal Jakarta Raya," ungkap Idris. [tribunnews]

fokus berita : #Yogi Kurniawan


Kategori Berita Golkar Lainnya