30 Agustus 2019

Berita Golkar - Golkar Bali mulai menatap Pilkada Serentak 2020. Bahkan, partai berlambang beringin ini memberi sinyal siap berkoalisi dengan partai-partai lainnya dalam kontestasi kepala daerah yang akan dihelat di enam kabupaten/kota.

Sebagai tahap awal, semua kader diminta untuk mulai membangun komunikasi politik, baik kepada masyarakat selaku pemilih dan figur-figur yang berpeluang maju sebagai calon, termasuk berkoalisi bersama partai lainnya.

Sinyal ini terungkap Jumat (30/8), usai DPD I Golkar Bali menggelar Rapat Koordinasi Persiapan Pilkada Serentak 2020 bersama jajaran pengurus DPD II kabupaten/kota.

Hasil rapat yang dipimpin Plt Ketua DPD I Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih, menyepakati agar seluruh jajaran partai mulai membangun komunikasi politik. “Ke DPD-DPD, fraksi dan masyarakat luas, serta masing-masing partai yang lain,” jelas Demer usai rapat tersebut.

Menurut dia, hasil komunikasi itulah yang akan menjadi pijakan partainya untuk mengambil keputusan dalam menentukan posisi saat Pilkada Serentak pada 23 September 2020. “Mana yang lebih pas dan lebih nyambung. Karena kalau kita berkoalisi itu kan seperti orang pacaran,” ujarnya mengilustrasikan.

Namun dia menegaskan, hasil dari penjajakan ini baru akan diputuskan setelah Munas Golkar yang rencananya digelar pada Desember 2019 mendatang. Baru setelah itu, pihaknya akan melakukan proses penjaringan. “Januari 2020 kami akan survei (figur) lagi. Februari 2020 baru rencananya kami akan putuskan,” tegasnya.

Proses penjaringan tersebut baru akan dilakukan setelah Munas karena pihaknya juga perlu menunggu juklak/juknis dari DPP. Sembari menunggu waktu, pihaknya memutuskan untuk melakukan penjajakan ke semua pihak.

“Begitu juklak/juknis turun, kami bisa menggenjot. Mencocokan, mana yang kira-kira sesuai juklak/juknis,” pungkasnya.

Masih soal koalisi, Demer menegaskan Golkar sangat terbuka. Selain itu, dalam politik, segala kemungkinan juga bisa terjadi. “Bisa koalisi kuning merah, kuning biru, kuning independen. Bisa kuning putih. Bisa maju sendiri. Bisa juga jadi pengusung saja. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tergantung hasil survei nanti,” tegas politisi yang juga anggota DPR RI ini.

Disinggung tantangan dari PDIP yang berharap agar partai lainnya juga mengusung calon sendiri untuk menghindari kemungkinan terjadinya kotak kosong, khususnya di Badung maupun Tabanan, Demer tak banyak berkomentar.

Dia menegaskan, bisa saja hal tersebut akan menjadi pertimbangan. Namun yang pasti, pihaknya akan tetap mencari jalan terbaik serta mencari figur yang mau dicalonkan.

“Kadang (figur) terbaik juga belum tentu mau (dicalonkan). Karena pertimbangannya bukan soal otak saja, tetapi ongkos juga jadi pertimbangan dalam pilkada ini,” pungkasnya. [jawapos]

fokus berita : #Demer


Kategori Berita Golkar Lainnya