10 September 2019

Berita Golkar - Dinamika internal Partai Golkar pasca Pemilu 2019 seolah-olah menciptakan pesimisme baru bagi rakyat Indonesia dan khususnya generasi muda penerus Golkar.

Pesimisme tersebut muncul ketika setiap kader Partai Golkar dari elite hingga akar rumput bertanya; Kapan Rapat Harian? Kapan Rapat Pleno? Kapan Rapimnas? Mengapa ada fenomena Plt? Mengapa semua itu tidak terjadi?, tanya kader-kader partai golkar, sepertinya tanya pada diri kami pecinta partai golkar.

Pertanyaan itu lahir atas ekspresi dan dorongan positif bagi partai golkar yang semata-mata untuk masa depan Partai dan Bangsa Indonesia.

Penulis sedikit otokritik atas manajemen dan pengelolaan organisasi Partai Golkar sepertinya menemukan jalan buntu, ada masalah serius yang melilit dan laten tak dianggap serius. Sehingga wajar publik menilai bahwa Partai Golkar tidak punya peluang dan harapan untuk masa akan datang.

Justru yang terjadi hanyalah perjuangan Partai menjadi ruang kepentingan pribadi dan kelompok. Menunjukkan bahwa elite Partai Golkar (saat ini) tidak lagi dewasa dalam menata masa depan Partai.

Sepak terjang dan kejayaan Partai Golkar yang luar biasa itu seperti ‘kisah dongeng’ masa lalu. Yang hampir pasti tidak bisa diwariskan kepada para generasi penerus Partai Golkar.

Potret buram dan suram dipertontonkan oleh elite tertentu Partai Golkar, dengan tanpa beban. Sebagai generasi dan pemuda Partai Golkar terketuk hatinya, apakah ini pertanda ‘kepunahan’ Partai Golkar?

“Hilang kekuatannya, pudar warna perjuangannya, musnahlah seluruh mimpi dan masa depan Partai Golkar?”.

Perspektif baru lahir ketika kondisinya ‘sakratulmaut’. Ada keyakinan akan lahir sebuah fenomena baru, yakni perubahan kepemimpinan di pucuk pimpinan Partai Golkar menjadi jawaban bagi masa depan Partai Golkar.

Oleh: Adi Baiquni
Penulis Adalah: Sekjend Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG)

[detikindonesia]

fokus berita : #Adi Baiquni


Kategori Berita Golkar Lainnya