23 September 2019

Berita Golkar - HASIL pemilihan legislatif 2019 di Sumsel menghasilkan Partai Golkar Sumsel sebagai pemenang dengan raihan 13 kursi. Otomatis, legislator dari Partai Golkar berhak menduduki kursi Ketua DPRD Sumsel periode 2019-2024. Ada tiga kandidat berpeluang, M Yansuri (Wakil Ketua DPRD Sumsel saat ini), RA Anita Noeringhati (Ketua Komisi IV DPRD Sumsel) dan Fatra Radezayansyah (pendatang baru dikenal sebagai menantu Alex Noerdin).

Sementara itu, keterwakilan perempuan di legislatif semakin meningkat. Meskipun keterwakilan anggota legislatif gender perempuan sampai saat ini masih mendekati angka 20 persen dari total 75 kursi yang tersedia.
Salah satu legislator perempuan itu adalah Hajah Raden Ayu (RA) Anita Noeringhati SH MH. Perempuan dari trah

Mangkunegaran Keraton Solo ini punya legitimasi kuat untuk duduk di puncak legislatif Sumsel.
Politisi Golkar berusia 56 tahun dengan shio Kelinci dan bintang Leo ini memiliki pergaulan dan interaksi politik yang luwes sekaligus "galak" dengan berbagai kalangan sosial politik. Nenek 3 cucu ini juga Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumsel . Ia kader partai yang paling dipercaya di partainya.

Maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumsel 1 Palembang meliputi Kecamatan, Ilir Barat I, IB II, Bukit Kecil, Gandus, Kertapati, Jakabaring, SU I, SU II dan Plaju, Anita meraih suara terbesar untuk Partai Golkar dengan raihan suara pribadi 16.800.

Berikut wawancara Q and A Kepala Newsroom Sriwijaya Post-Tribun Sumsel Hj L. Weny Ramdiastuti dengan Hj RA Anita di Graha Tribun, Rabu (14/8). Sewadah teko berisi teh bunga telang yang mengandung anti oksidan tinggi disajikan untuk tamu Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel siang itu. Anita tampak fresh meskipun baru tidur jam 5 pagi setelah sidang Banggar di DPRD Sumsel.

Q: Apa yang membedakan perjuangan jadi anggota dewan kali ini dengan sebelumnya? Nggak ada pensiunnya apa jadi anggota dewan sampai terpilih tiga kali?
A: Pensiunnya itu sampai kita tidak dipilih lagi oleh konstituen. Persaingan pada Pemilu 2019 luar biasa. Calon- calonnya hebat . Dan kita juga bersaing dengan yang punya kekuasaan. Periode ketiga saya maju ini, banyak permintaan dari masyarakat kalau jadi saya harus menepati janji selama ini. Tetapi yang minta (materi), biasanya mintathok (saja).Saya sudahpenuhi tapi suara tidak signifikan. Beruntung saya punya konstituen yang loyal sehingga mantap memilih saya.

Q: Masyarakat makin pragmatis bagaimana Anda menyikapi persaingan Pileg ke depan (2024)?
A: Yang mengajari masyarakat jadi pragmatis sebenarnya politisi itu sendiri. Makanya caleg ke depan jelas harus punya strategi yang beda. Harus bisa menarik simpati sehingga bisa dipilih dari hati. Ini tugas parpol dan caleg juga untuk bisa mengedukasi.

Q: Untuk pileg berapa dana yang dikeluarkan?
A: Yang jelas lebih banyak dari periode sebelumnya. (Anita menolak menyebutkan nominalnya).

Q: Apakah faktor good looking sebagai perempuan berpengaruh untuk keterpilihan? Mengingat di DPD RI dapil Sumsel semua perempuan dan DPRD Sumsel sekarang lebih banyak.
A: Saya selaku ketua kaukus perempuan Sumsel merangkul 11 partai politik di Sumsel. Saya bangga ada peningkatan jumlah perempuan yang akan duduk di DPRD Sumsel nanti. Dulu memang lumayan tapi kebanyakan anggota DPRD dari kalangan perempuan berasal dari PAW (Pergantian Antar Waktu), tapi sekarang starting awal. Ini akan jadi pembuktian kalau kita (perempuan) mampu. Saya belum bisa menilai perempuan yang terpilih karena penampilan atau karena kecerdasan. Hanya dari beberapa contoh memang keterpilihan itu ada dipengaruhi dari kekuasan.
Perempuan juga banyak memilih perempuan karena keterwakilan perempuan dianggap bisa mewakili mereka. Dimana duduk di DPRD bukan karena kekuasaan tapi mengemban amanat. Dan harus peka serta berempati.
Sudah berempati saja kadang masyarakat berpikiran negatif. Seperti saat kami memperjuangkan ganti rugi pembebasan lahan Musi IV. Saya sempat mengancam akan menghentikan pembahasan anggaran APBD Sumsel jika tidak dialokasikan. Tapi akhirnya disetujui namun masalah yang timbul sekarang belum bisa dicairkan. Dan ini tidak dipahami masyarakat. Padahal sudah jelas fungsi DPRD itu ada 3 yaitu pengawasan, budgeting dan legislasi.

Q: Anda dikenal galak, kritis. Anda ibarat singa betina dari panggung DPRD Sumsel. Bagaimana Anda memosisikan diri sebagai wakil rakyat dan fungsi check balance dengan pemerintahan (eksekutif). Apalagi anda digadang- gadang sebagai kandidat ketua DPRD Sumsel. Bagaimana Anda memandang ini? Jika jadi ketua DPRD Sumsel, maka ini bisa jadi sejarah pertama di Sumsel dipimpin perempuan.
A: Di dunia politik ini saya ibarat naik tangga, Mulai jadi anggota dewan tahun 2005, kemudian sekretaris dan ketua fraksi. Lalu sekretaris komisi dan ketua komisi IV sekaligus anggota Banggar saat ini. Jadi saya mungkin agak diperhitungkan.
Alhamdullilah amin. Saya anggap laki- laki dan perempuan sama saat ini posisinya di politik, tapi saya merasa, kalau perempuan bisa lebih peka, lebih mendengar hati nurani dan sebagainya.

Q: Bagaimana anda memandang rekan sekaligus pesaing Anda yakni M Yansuri dan pendatang baru Fatra?
A: Saya tidak memandang itu kompetisi. Tapi saya bersyukur, saat ini saya bisa membuktikan jadi ketua komisi IV DPRD Sumsel, dimana sepanjang sejarah belum ada perempuan yang memimpin komisi strategis tersebut. Aapalagi disana banyak tantangan, dan disana juga diduduki para pimpinan partai politik lainnya. Diperlukan cara komunikasi agar selalu sejuk.
Saya membuktikan sekitar 2,5 tahun meski ada friksi- friksi namun tida berlebihan. Saya perempuan seorang diri tapi nyatanya bisa menyatukan semua. Selain mengayomi, saya punya ketegasan memberikan contoh untuk solusi.

Q: Apa tantangan terbesar Anda jika jadi ketua nanti?
A: Jika saya ketua DPRD, tantangannya jelas luar biasa. Saat ini program eksekutif jalan sendiri tanpa konsultasi dan persetujuan DPRD Sumsel, padahal sudah kita sampaikan berkali- kali ke eksekutif setiap program pembangunan di Sumsel harus ada sinergi kesepahaman antara ekekutif dan legislatif.
Memang ada diskresi tapi tidak melakukan pelanggaran, termasuk membuat biro baru tanpa konsultasi, kan ini jelas salah. Contoh seperti itu jadi tantangan kedepan, agar sinergi eksekutif dan legislatif tetap dijalankan.

Q: Anda melihat ini apakah ada komunikasi yang buntu?
A: Saya tidak bilang begitu, tapi tidak ada kepekaan. Mestinya setiap kebijakan pasti beriringan dengan anggaran dan jelas ini (anggaran) tidak bisa dipakai sebab harus ada pembahasan bersama- sama.

Q: Kalau anda jadi Ketua DPRD Sumsel check and balance sepertinya akan jalan?
A: Saya tidak mengkritisi secara pribadi tapi dengan data dan aturan yang ada. Seperti pengadaan beras untuk penambahan penghasilan ASN dan honorer di lingkungan Pemprov Sumsel. Padahal di perturan Kemendagri jelas, jika TPP boleh diberikan asal ada persetujuan dewan, tapi kami mempertanyakan apa dasarnya dan payung hukumnya belum ada, sehingga kami tolak.
Pengadaan beras untuk ASN maupun untuk non ASN belum pernah dan belum bisa disetujui DPRD Sumsel dalam waktu dekat. Kami bukan tidak peduli pada ASN dan honorer di Sumsel, tapi ingin mengkritisi apa yang dilakukan salah, dan harus diperbaiki. Kita tahu, memang keinginan Gubernur untuk mensejahterahkan ASN dan honorer termasuk para petani, tapi harus dengan tatanan hukum yang benar. Ke depan hal ini bisa dilakukan, jika sudah ada payung hukumnya.

Q: Sebagai perempuan Anda selalu good loking, modis, wangi dan jaga penampilan. Komentar Anda?
A: Perempuan harus menciptakan keindahan. Merias diri itu bukan untuk orang lain tapi berias itu citra diri. Kita (perempuan) harus tampilkan citra diri dan keindahan.

Q: Bagaimana anda memandang kehidupan ini?
A: Saya seperti ini karena perjuangan sendiri. Jangan berharap dapat hadiah dari orang lain. Jadi perempuan harus bisa memotivasi diri. Mau jadi apa saja bisa. Dunia sudah terbuka. Saya barangkali agak diperhitungkan di politik karena banyak belajar dari politisi di pusat baik partai Golkar dan lainnya. Saya kagum pada wanita smart dan saya ingin tahu untuk bisa. Sepanjang kita baik dan tidak merugikan orang lain tidak masalah. Kadang perempuan musuhnya perempuan itu sendiri bukan laki- laki, jadi perempuan bisa buat panggung sendiri. Tidak di belakang bayang-bayang suami atau orangtua. [tribunnews]

fokus berita : #Anita Noeringhati


Kategori Berita Golkar Lainnya