04 Oktober 2019

Berita Golkar - Politikus senior Popong Otje Djundjunan mengaku sedih dengan perilaku anggota DPR RI periode 2019-2024 bolos di sidang hari pertama. Seumur-umur menjadi anggota DPR, kata Popong, baru di periode ini para anggota kompak bolos di sidang DPR/MPR yang pertama.

Ungkapan sedih itu ditunjukan Ceu Popong di acara Apa Kabar Indonesia, Jumat (4/10/2019). “Jujur saja, Ceu Popong nelangsa, Ceu Popong jarang keluar air mata, tapi sekarang sampai keluar air mata, saya nelangsa,” kata Ceu Popong menahan air matanya.

Baca Juga: Agun Gunandjar Yakin Capaian Pimpinan Baru MPR Bakal Lebih Maksimal

Wanita yang sudah berkarir di DPR RI sejak tahun 1987 itu mengatakan bahwa hal itu pertama kali terjadi selama ia berkarir di Senayan. “Maksudnya itu seumur-umur Indonesia merdeka sudah 74 tahun, begitu ada DPR, belum pernah kejadian seperti ini,” kata politisi asal Golkar itu.

Ia pun bertanya ada apa dengan DPR RI saat ini hingga bisa membolos kompak di hari pertama sidang paripurna. “Kenapa? Apa ini? Apa kondisi seperti ini yang harus kita hadapi?” tanya Ceu Popong.

Padahal kata Ceu Popong, saat ia memimpin sidang tahun pemilihan Ketua MPR tahun 2014 meski diwarnai kericuhan, seluruh anggota DPR dipastikan hadir hampir 100 persen. “Waktu periode lalu pada saat paripurna pertama hampir semua hadir, walaupun ada kenangan yang Ceu Popong tidak bisa lupakan,” kata Ceu Popong.

Sebagian Anggota DPR Bolos 

Diberitakan pada sidang paripurna MPR, Rabu (2/10/2019), dari 711 anggota DPR dan DPD, ada 335 yang tidak hadir. Itu artinya, hanya ada 376 anggota yang hadir dalam sidang paripurna MPR. Tidak hanya dihadiri sedikit anggota DPR dan DPD, namun sidang itu juga tidak dihadiri oleh satu pimpinan sementara.

Baca juga: Bupati Konsel Terima Penghargaan Pembangunan Infrastruktur Untuk Inovasi Daerah

Sidang paripurna MPR dipimpin oleh anggota tertua dan termuda yaitu Sabam Sirait dan Hillary Brigitta Lasut. Namun pada sidang sehari setelah pelantikan, pimpinan sidang Sabam Sirait diketahui tidak hadir. Sehingga sidang berjalan dipimpin oleh Hillary Brigitta Lasut seorang diri.

Ketidakhadiran Sabam Sirait membuat banyak perdebatan mengenai keabsahan hasil sidang. Akhirnya sidang sempat diskors dan dilakukan rapat konsultasi antar fraksi.

Seorang pengamat politik dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Kuskridho Ambardi menilai bahwa tingkat kehadiran dari anggota DPR dan DPD adalah hal yang penting. Banyak masyarakat yang akan menilai keseriusan dari para wakil rakyat, dalam menjelakan tugasnya melalui tingkat kehadiran dalam sidang paripurna.

Baca Juga: Puteri Komarudin Siap Kerja Keras Perjuangkan Isu Gender di DPR

"Meskipun sifatnya hanya simbolik, tapi menjadi sorotan publik karena menandai sebuah periode baru. "Jadi kehadiran mereka itu penting untuk sekedar menunjukkan keseriusan mereka menjadi wakil rakyat," ucap Kuskridho Ambardi, Rabu (2/10/2019).

Popong Dipuji Sebagai Politisi Tua yang Rajin dan Aktif

Anggota DPD Gede Pasek Suardika menilai ketua DPR sementara Otje Popong Djunjunan memimpin rapat paripurna dengan baik. Apalagi, Popong merupakan politisi senior asal Golkar. "Dia bukan politisi baru. Yang saya tau selama ini, dia paling rajin, pansus pemilu dia rajin juga. Di usia tua, dia rajin dan aktif," kata Pasek di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (2/10/2014).

Baca Juga: Bamsoet Ajak Sidang Paripurna MPR Kenang Jasa Almarhum Taufik Kiemas

Menurut Pasek suasana rapat paripurna itu bisa mencair karena Popong memiliki karakter yang kuat. Ia juga memuji kondisi fisik Popong yang mampu memimpin rapat dalam waktu lama. "Layak jadi bintang awal persidangan. Pertama kepemimpinannya, mencairkan suasana," kata Politisi Demokrat itu.

Mengenai rapat paripurna dini hari tadi, Pasek mengungkapkan hal tersebut merupakann bagian dari dinamika demokrasi. "Tapi kalau memang suasana itu ada yang masuk ke kursi pimpinan itu bisa mendegradasi juga," tuturnya.

Ia juga berpendapat apakah aturan formasi anggota DPR tertua dan termuda yang memimpin rapat perlu dipertahankan atau tidak. "Ke depan bisa diubah ya. Atmosfir konvensi yg dulu kan masih nomor urt. Mgkn ke depan bisa suara terbanyak dan terkecil. Mekanisme itu ada rohnya, siapa terbanyak dan terkecil bisa memimpin. Kalau sidang sampai dinihari kan kasihan juga," katanya. {wartakota.tribunnews.com}

 

fokus berita : #Partai Golkar #Sabam Sirait #Pasek Suardika #Popong Otje Tjunjunan


Kategori Berita Golkar Lainnya