05 Oktober 2019

Berita Golkar - Memastikan penanggulangan pencemaran Sungai Cilamaya bisa dilakukan sebagaimana mestinya. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Dedi Mulyadi blusukan di DAS Sungai Cilamaya, di Desa Situdam Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jumat (4/10).

"Ini bukan sidak atau kunjungan kerja, ini hanya sebagai tanggung jawab moral saya sebagai wakil rakyat dari dapil sini, untuk membantu dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan pencemaran sungai yang sipatnya lintas wilayah," kata Kang Dedi, kepada sejumlah awak media.

Baca Juga: Di Bawah Rahmat Effendi, Bekasi Raih Penghargaan Kota Harmonis 2019

Mantan Bupati Purwakarta dua periode itu juga mengunjungi Bendungan Barugbug. Nampak kondisi air di bendungan tercemar limbah yang diduga berasal dari sejumlah pabrik di hulu sungai. 

Bendungan yang dibangun pada 1949 untuk mengairi lahan pesawahan seluas kurang lebih 2926 hektar yang membentang antara Kecamatan Jatisari, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang itu kondisinya sangat menghawatirkan. Selain bau juga warna air sungai hitam pekat.

Ketua DPD Golkar Jabar itu juga memboyong petugas laboratorium Perum Jasa Tirta II untuk mengambil sampel air di Sungai Cilamaya yang baunya tak sedap itu. Dedi Mulyadi juga mengatakan, apapun aliran sungai semua harus diperhatikan, termasuk keberadaan Sungai Cilamaya. Sehingga menjadi konsen dirinya kedepan.

Baca Juga: Golkar Dorong Muntra Tantang Giri Prasta di Pilkada Badung 2020

Untuk Sungai Cilamaya sendiri, pihaknya mendorong wilayah termasuk melakukan uji laboratorium. Hal itu perlu dilakukan untuk mencari bukti terkait sumber pencemaran sungai yang melintas di tiga Kabupaten di Jawa Barat tersebut. "Kita harus uji dulu, baik dari hulu hingga hilir termasuk titik-titik yang dianggap menjadi sumber pencemarannya, agar tidak ada fitnah," jelasnya.

Ia juga melihat PP tentang pencemaran DAS sehingga isu tercemarnya sungai bisa lebih dikaji secara komprenhensif dengan pihak kementrian lingkungan hidup. Termasuk mencari solusi penanganannya. Selain itu, apabila terbukti pencemarannya dilakukan oleh perusahaan, serta pihak perusahannya membandel dirinya akan melakukan gugatan melalui class action.

"Kita advokasi masyarakat disini yang kebagian pencemarannya, salah satunya kita juga akan lakukan gugatan class action," tegasnya.

 

Baca Juga: Puteri Komarudin Siap Kerja Keras Perjuangkan Isu Gender di DPR

Sementara, Assisten Manajer Laboratarium PJT II Leni Mulyani, mengatakan, secara kasat mata aliran sungai terlihat tercemar akan tetapi pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan karena harus menunggu hasil uji lab. "Kita tunggu hasilnya, karena untuk mengetahuinya dalam sepuluh hari kerja," katanya.

Dari hasil uji sampel, Leni mengatakan, Sungai Cilamaya, dalam suhu serta PH masih batas normal, yaitu 7,9 dari ketentuan 6-9. Akan tetapi secara kasat mata menurutnya tidak layak dikonsumsi. "Tadi kita cek masih dalam batas normal, tetapi secara kasat mata saya himbau jangan digunakan," jelasnya.

Di tempat yang sama, Bupati Karawang Cellica Nurrachdiana mengatakan, pihaknya sejak dulu melakukan koordinasi baik dengan Purwakarta maupun Subang, bahkan menurutnya hal tersebut perlu dikaji lagi termasuk mengedepankan asas praduga tak bersalah. "Ya gak bisa langsung gitu aja menuduh siapa yang salah, jelas perlu dicari solusi agar sungai ini kembali bersih," jelasnya.

Baca Juga: Herman Efendy Resmi Jadi Ketua DPRD Kabupaten Merangin

Selain itu, untuk sementara dirinya mengimbau agar masyarakat tidak mengkonsumsi sungai tersebut, apalagi digunakan dalam jangka waktu lama. "Jangan pergunakan dahulu, karena kalau digunakan bisa bahaya juga kan," ujarnya.

Kemudian, bersama Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana. Kang Dedi melanjutkan blusukan ke salah satu pabrik yang ditengarai membuang limbahnya ke Sungai Citarum, perusahaan tersebut tepatnya berada di Kampung Ciater Desa Ciparungsari, Kecamatan Cibatu, Purwakarta. {www.rmoljabar.com}

fokus berita : #Partai Golkar #Dedi Mulyadi #Cellica Nurrachdiana #Leni Mulyani


Kategori Berita Golkar Lainnya