10 Oktober 2019

Berita Golkar - Berbagai persiapan terus dilakukan jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih 20 Oktober 2019 mendatang. Ketua MPR Bambang Soesatyo yang akan memimpin langsung pelantikan Jokowi-Kiai Ma'ruf. Bahkan, Bamsoet sudah menyiapkan pantun yang akan dibacakan saat pelantikan nanti.

"Saya belum tahu, dinamika pelantikan nanti. Soal pantun, saya kan sering corat-coret. Spontan saja buatnya. Kadang-kadang ada saja. Lagi corat-coret, bikin pantun," kata Bamsoet, Rabu(9/10). Ia kemudian juga bercerita, menulis pantun sering dilakukan saat melihat situasi sebuah acara. Ia mencontohkan bagaimana teks isi sambutannya kerap berubah.

"Kalaupun sudah malam bikinnya, tiba-tiba berubah, itu juga ada. Kan sering apa yang di-fotocopy dibagikan, dan yang saya bacakan beda. Jadi spontan saja. Kalau pantun kan gampang. A-A-A-A, B-B-B-B, A-B-A-B. Tinggal cari konteks," tambahnya.

Bambang juga mengatakan, menjelang pelantikan presiden tanggal 20 Oktober 2019, pimpinan MPR akan mengunjungi serta mengundang langsung mantan-mantan presiden seperti Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca Juga: Jadi Ketua MPR, Cara Santai Bamsoet Jalani Takdir Hidup

Kemudian, MPR juga akan mendatangi pasangan kandidat Pilpres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Politikus Partai Golkar ini juga menyebut bahwa pelantikan Jokowi-Kiai Ma'ruf dimajukan. Sebelumnya akan dilakukan pada pukul 16.00 WIB menjadi 14.00 WIB.

"Kita sepakat untuk mengusulkan nanti baik kepada kesekjenan, maupun protokol istana, baik juga kepada presiden untuk dilakukan jam 14.00," ujarnya.

Bamsoet menjelaskan, pelantikan presiden pada pukul 14.00 WIB melalui pertimbangan bahwa sebelumnya direncanakan pukul 16.00 WIB, tetapi berdekatan dengan jadwal salat Maghrib. Oleh karenanya, MPR memajukan ke pukul 14.00 WIB karena jadwal car free day dan masyarakat yang beribadah pada hari Minggu diperkirakan selesai sebelum pukul 12.00.

Baca Juga: Keren! 3 Kader Golkar Jadi Pimpinan di DPD RI

"Kenapa, karena car free day berakhir jam 11, kemudian ibadah juga bisa selesai jam 12.00-an jam 13, kita juga yang muslim selesai salat Zuhur, dan selesai upacara kita juga masih bisa salat Ashar," tuturnya.

Kondusif

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Asep Adi Saputra menyatakan situasi keamanan jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden masih kondusif. Ia mengatakan, terkait dengan mundurnya waktu pelantikan yang dijadwalkan dari pukul 16.00 WIB menjadi pukul 14.00 WIB masih beracuan pada pertimbangan yang disampaikan oleh MPR.

Terkait dengan rencana aksi unjuk rasa, ia mengatakan pihaknya terus melakukan imbauan. "Saya kira kita harus mempedomani pertimbangan yang disampaikan lembaga (MPR) bahwa pertama untuk menghormati saudara-saudara kita yang beribadah pada pagi hari. Kalau ancaman keamanan, sejauh ini masih kondusif," kata Asep.

Baca Juga: Jelang Pelantikan Jokowi, Rizal Mallarangeng Sambangi Moeldoko, Bahas Apa?

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menyebut akan mengerahkan semua anggotanya dalam menjaga keamanan saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. "Yang jelas, kami mengerahkan semua, jadi seluruh jajaran," ujar Andika.

Andika menjelaskan, semua anggota TNI AD nantinya dari semua kesatuan akan disebar ke sejumlah daerah, dengan tujuan menjaga keamanan.  "Kalau jumlah, hampir 100 persen kekuatan Angkatan Darat. Walaupun mereka tidak dijadikan stand by force, praktiknya semua fokus ke arah sana," ucap Andika.

"Apakah itu identifikasi, karena kami kapasitasnya pembinaan dan berusaha membantu menciptakan kondisi bagus. Semua elemen dikerahkan oleh Panglima Kodam," sambung Andika.

Baca Juga: Ali Mochtar Ngabalin, Sosok Bersuara Lantang Bela Kebijakan Jokowi

Sementara terkait kondisi saat ini dan nantinya, Andika bersama jajarannya telah menginventarisasi dan terdapat beberapa daerah perlu difokuskan keamanannya. 

"Jadi setelah diinventarisasi tadi, kami semakin tahu, sebenarnya yang difokuskan untuk daerah ini saja dan kami merencanakan, siapkan di titik yang tidak rawan, untuk menyiapkan pasukan-pasukan. Sehingga apabila dibutuhkan, bisa kami gerakan ke titik yang menjadi pusat tadi," tutur Andika.

Demo Besar

Ketua BEM Universitas Trisakti, Dinno Ardiansyah mengatakan bahwa mahasiswa akan kembali melakukan unjuk rasa secara besar-besaran. Namun ia tidak mengungkapkan tanggalnya.

"Memang kita secara konsolidasi, komunikasi terus berjalan, dan kita rencananya memang pasti akan ada aksi besar-besaran lagi bareng-bareng, namun untuk tanggalnya masih akan kita rahasiakan, tunggu tanggal mainnya itu," ujarnya.

Baca Juga: Ilham Habibie Digadang Jadi Menristek Dari Golkar, Ini Alasannya

Dalam aksi lanjutan ini Dinno menturkan bahwa mahasiswa akan melakukan sejumlah hal untuk menghindari adanya penumpang gelap dalam unjuk rasa tersebut. "Kita pasti akan ada konsolidasi untuk melakukan batasan -batasan sehingga setiap kampus ini punya tanggung jawab masing-masing," tuturnya.

"Itu yang akan coba kita lakukan sehingga hal-hal yang tidak diinginkan ini jangan sampai kejadian dan juga kalkulasi juga dalam arti jangan sampai nanti ada penumpang gelap," sambungnya.

Lebih lanjut Dinno menjelaskan bahwa aksi besar yang akan dilakukan oleh mahasiswa merupakan unjuk rasa lanjutan dari penolakan pembuatan Undang-undang, diantaranya UU KPK, KUHP, UU Tenaga Kerja, UU Pertanahan dll.

Sementara itu, Koordinator BEM SI Wilayah Se-Jabodetabek Banten, Muhammad Abdul Basit mengaku sudah mengagendakan turun ke jalan di hari pelantikan Jokowi pada Minggu, 20 Oktober 2019 nanti. Abbas mengatakan BEM SI akan menyampaikan poin yang sama saat demo beberapa waktu lalu. "Kalau kemarin kita sudah konsolidasi juga di Kalimantan.

Baca Juga: Bamsoet Ungkap Alasan Diundurnya Pelantikan Jokowi

Dan hasilnya, kita mengawal pelantikan presiden. Kita aksi di pelantikan. Tidak ada bahasan di tanggal 14 Oktober. Kita akan tetap tuntut presiden sama seperti tuntutan sebelumnya, salah satunya menerbitkan Perppu KPK juga," tuturnya.

Merespon hal tersebut, Staf Khusus Presiden Adita Irawati mengingatkan kepada mahasiswa agar menggelar unjuk rasa di lain hari. "Apakah tidak lebih baik menyampaikan aspirasi dengan cara lain atau di hari lain yang tidak mengganggu kenyamanan masyarakat," ujarnya.

Adita menjelaskan aksi unjuk rasa sah-sah saja dilakukan sebagai sarana menyampaikan aspirasi, namun kata dia apabila dilakukan berbarengan dengan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih bisa menganggu aktivitas warga.

"Perlu diingat, tanggal 20 Oktober 2019 itu hari Minggu, di mana pada pagi hari masyarakat sedang menikmati libur, khususnya di kawasan bebas kendaraan bermotor," kata Adita. {manado.tribunnews.com}

fokus berita : #Bamsoet #Jenderal Andika Perkasa #Dinno Ardiansyah


Kategori Berita Golkar Lainnya