13 Oktober 2019

Berita Golkar - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) membantah ada 'deal-deal' tertentu di balik jabatan yang kini diembannya dan pencalonannya sebagai Ketua Umum Golkar 2019-2024. Ia mengatakan jabatannya sebagai Ketua MPR merupakan tugas yang diberikan partai.

"Tidak ada deal-deal. MPR itu penugasan partai. Dan tugas itu saya jalankan bersama seluruh kader dan elemen Partai Golkar yang ada di Fraksi Partai Golkar DPR untuk mendapatkan kursi ketua MPR melalui berbagai lobi dan pendekatan politik kepada seluruh partai politik dan DPD RI," kata Bamsoet saat dihubungi, Minggu (13/10/2019).

Baca Juga: Bamsoet Tekankan Pentingnya Nilai-Nilai Luhur Pancasila Dalam Keseharian Kita

Bamsoet menjelaskan kursi Ketua MPR berhasil didapatkan dirinya atas kerja sama bersama Fraksi Golkar di DPR. Dia menyebut Fraksi Golkar berhasil melobi-lobi fraksi lain serta kelompok DPD agar kursi MPR-1 diberikan untuk partai berlambang pohon beringin itu.

"Pada akhirnya semua sepakat jika Golkar punya calon yang tepat, semua mendukung. Mulai dari PDIP, Nasdem, PPP, PKB, dan bahkan partai non koalisi seperti PKS dan Demokrat ikut mendukung, kecuali pada detik terakhir sebelum aklamasi menerima musyawarah mufakat, Gerindra tetap bertahan maju," tuturnya.

"Alhamdulillah Ibu Megawati (Ketua Umum PDIP) dan Pak Prabowo (Ketua Umum Gerindra) telah menunjukan sikap kenegarawanannya bersama-sama para ketua umum partai politik yang ada plus DPD RI sepakat untuk musyawarah mufakat dan menghindari voting yang bukan budaya Indonesia," imbuh dia.

Baca Juga: Damaikan Indonesia Dengan Tangan Dingin, Ini Pesan Jusuf Kalla Untuk Para Pemuda

Sementara itu, terkait pencalonannya sebagai Ketua Umum Golkar, Bamsoet tak menjelaskan secara gamblang. Diketahui, Bamsoet sempat mendeklarasikan diri sebagai caketum Golkar 2019-2024. Ia menantang Airlangga Hartarto yang kembali maju untuk menduduki kursi Ketum Golkar.

Dia mengatakan saat ini dirinya dan Airlangga mengutamakan kepentingan bangsa. Menurut Bamsoet, banyak persoalan bangsa yang harus diperhatikan. Bamsoet mencontohkan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera serta konflik di Papua.

"Soal Munas dan pertanyaan apakah saya maju atau tidak biarlah itu menjadi rahasia saya berdua dengan Airlangga," ucap Bamsoet. 

"Yang pasti tugas saya dan Airlangga yang saat ini Ketua Umum Partai Golkar adalah menyampingkan kontestasi mengutamakan konsolidasi untuk kepentingan bangsa yang lebih besar di tengah-tengah tensi politik nasional yang sempat memanas dengan berbagai peristiwa unjuk rasa dan tindakan anarkis di Papua, bencana asap di hutan kita yang memerlukan penanganan yang serius," kata dia.

Baca Juga: Masih Terbaik di Dunia, Hendra Budian Bantah Kopi Gayo Ditolak Masuk Eropa

"Terakhir ditambah lagi adanya aksi penikaman terhadap Menkopolhukan Wiranto yang dilakukan oleh Abu Rara yang diduga terafiliasi dengan kelompok Islam radikal Jamaah Asharut Daulah (JAD)," imbuh Bamsoet.

Sebelumnya, senior Golkar Fadel Muhammad menduga ada kesepakatan alias deal di balik penugasan Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai Ketua MPR. Posisi Ketua MPR diduga Fadel dimaksudkan agar Bamsoet tak lagi maju sebagai kandidat calon Ketum Golkar.

Baca Juga: Jabat Ketua MPR, Fadel Muhammad Sebut Bamsoet Takkan Maju Caketum Golkar

"Saya mengamati demikian adanya (deal Bamsoet-Airlangga), saya tidak ikut di dalam setelah saya di DPD. Saya mengamati dari luar kalau Pak Bamsoet diberi kesempatan oleh Golkar menjadi Ketua MPR, yang semula dulu Pak Azis Syamsuddin yang sekarang menjadi Wakil Ketua DPR, maka Bamsoet tidak akan maju pada bulan Desember nanti dalam munas Partai Golkar," kata Fadel dalam diskusi di d'Consulate Lounge, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10). {news.detik.com}

fokus berita : #Bambang Soesatyo #Bamsoet #Fadel Muhammad


Kategori Berita Golkar Lainnya