13 Oktober 2019

Berita Golkar - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pertemuan tersebut membahas persoalan sejumlah masalah yang mendera republik ini. Selain itu, keduanya membahas bergabungnya Gerindra untuk masuk kabinet.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menegaskan, demokrasi Indonesia bisa monolitik jika partai di luar koalisi pemerintah gabung setelah kalah di Pilpres. "Jangan sampai mereka berada di dalam pemerintahan, tetapi dalam posisi seperti oposisi. Tidak baik dalam kerangka demokrasi kita," kata Ace kepada wartawan, Minggu (13/10/2019).

Seharusnya, kata Ace, bagi yang kalah menerima kekalahan itu dan menunggu lima tahun mendatang untuk saling berkontestasi, tanpa ada tambahan di koalisi pemerintah, saat ini di parlemen sudah kuat dengan 63 persen kursi DPR.

Baca Juga: Kinerjanya Kinclong, SMRC Nilai Menperin Airlangga Layak Dipertahankan Jokowi

"Dengan 63 persen di parlemen saya kira sudah modal yang sangat cukup untuk mengawal pemerintahan dan menunaikan janji politiknya. Saya kira Pak Jokowi akan lebih arif dan bijaksana untuk menyikapi politik saat ini," ujarnya.

Kata dia, tidak etis juga kalau Gerindra mengharapkan mendapat kursi menteri jika bergabung dengan Jokowi-Maruf Amin. "Jika mau mendukung pemerintah itu positif, tetapi tidak harus ditindaklanjuti keharusan berada di dalam kabinet," katanya.

Di kesempatan lain, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera enggan berkomentar panjang mengenai kemungkinan Gerindra merapat ke kubu pemerintah. Menurutnya, setiap partai punya strategi dan pertimbangan masing-masing.

Baca Juga: Anggap Penugasan, Bamsoet Bantah Ada Deal-Deal Terkait Posisinya Sebagai Ketua MPR

“Jadi Gerindra dan Demokrat punya hak untuk memutuskan bergabung dengan pak Jokowi atau bertahan di tagar #KamiOposisi. PKS sendiri mengikuti keputusan Majelis Syuro yang menetapkan kita di luar pemerintahan,” kata Mardani.

Menurutnya, meski Gerindra nanti jadi bergabung di pemerintah, maka PKS akan tetap oposisi atau berhadapan dengan seluruh pemerintah. “Insya Allah PKS istiqomah di #KamiOposisi. Bukan masalah jumlah tapi masalah kesebangunan dengan aspirasi rakyat. Kian sesuai dan memperjuangkan aspirasi rakyat kian kuat #KamiOposisi,” ujarnya.

Ia menegaskan, tagar #KamiOposisi adalah mulia dan menjaga demokrasi tetap sehat. Oposisi, kata dia, akan menjaga iklim demokrasi, serta proses check and balances di pemerintahan tetap berjalan. “Harapan dan doa kami tetap dari awal untuk kesehatan demokrasi agar partai pendukung Prabowo Sandi bersama dalam #KamiOposisi,” tuturnya.

Baca Juga: Jabat Ketua MPR, Fadel Muhammad Sebut Bamsoet Takkan Maju Caketum Golkar

Di kesempatan lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komaruddin mengatakan, bergabungnya Gerindra dan Demokrat dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin disinyalir dapat menghidupkan kembali sistem orde baru.

"Jika Gerindra masuk dan Demokrat juga sudah menyatakan untuk mendukung, artinya pemerintah akan dominan dan menjadi kekuatan mayoritas, karena tidak ada kontrol. Ini berbahaya karena oposisi menjadi lemah. Mohon maaf, ini seperti yang terjadi pada orde baru," ujar Ujang.

Menurutnya, ketika pemerintah menjadi kekuatan yang dominan, maka potensi untuk terjadinya penyalagunaan kekuatan akan sangat signifikan. "Tidak ada partai yang mengkritik, semua partai seperti paduan suara. Ini yang tidak kita inginkan," katanya.

Baca Juga: Ingin Perjuangkan Isu-Isu Lingkungan Hidup, Dyah Roro Esti Siap Masuk Komisi VII DPR

Lebih lanjut dia mengatakan, bergabungnya partai-partai dalam barisan pemerintahan ini tidak lain untuk mengamankan pertempuran 2024 mendatang. Komposisi kabinet dan koalisi saat ini sangat menentukan langkah di Pemilu 2024 mendatang. "Misalnya mendapat menteri, pasti untuk cari logistik (2024), maka semua rebutan," imbuhnya.

Maka menjadi wajar jika partai koalisi yang selama ini telah ikut berjuang memenangkan Jokowi di Pilpres 2019, resisten jika Gerindra dan Demokrat masuk ke koalisi. Bahkan, sangat dimungkinkan terjadi perpecahan dan perubahan arah peta politik. "Ada partai yang sudah berjuang berdarah-darah, lalu kegeser kursinya, lalu peta koalisinya berubah. Ini menarik," tutur Ujang. 

Baca Juga: Anggap Penugasan, Bamsoet Bantah Ada Deal-Deal Terkait Posisinya Sebagai Ketua MPR

Menurutnya, bergabungnya mayoritas partai dalam koalisi belum tentu menjadikan roda pemeritahan menjadi kuat. Justru sebaliknya, akan saling sikut untuk 2024. "Semua akan mengamankan diri masing-masing. Jokowi ingin mengamankan diri sampai akhir jabatan, parpol-parpol juga ingin aman di 2014. Jadi persoalannya rakyat dilupakan," terangnya.

Menanggapi pernyataan Gerindra yang akan tetap kritis jika nantinya masuk dalam koalisi, menurutnya hal itu hanya sebagai lips service. "Itu tidak akan ada, itu hanya basa-basi pembenaran," tutur Ujang. {nasional.okezone.com}

fokus berita : #Ace Hasan Syadzily #Joko Widodo


Kategori Berita Golkar Lainnya