19 Oktober 2019

Berita Golkar - Tiga hari lagi, tepatnya MInggu 20 Oktober 2019, M Jusuf Kalla (77), mengakhir jabatan sebagai Wakil Presiden RI. Jabatan ini akan dilanjutkan Wapres ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin (76 tahun), mulai 21 Oktober 2019. 

JK adalah wakil presiden di dua periode presiden berbeda. Langka dan belum pernah terjadi dalam sejarah 78 tahun pemerintahan presidensil Indonesia. JK adalah pejabat wapres ke-10 dan ke-12 dari 13 wapres sejak Indonesia merdeka 1945.  

Lima tahun pertama (2004-2009) bersama Susilo Bambang Yudhoyono. Dan lima tahun kedua jadi pendamping Joko Widodo (2014-2019). Ia adalah wapres terlama kedua (10 tahun), setelah mendiang Muhammad Hatta (11 tahun, 1945 hingga 1956). 

Baca Juga: Purnatugas Wapres RI, Jusuf Kalla Berniat Momong Cucu

Itupun sebenarnya, jika dirunut tahun, masa jabatan wapres di era Hatta pernah lowong selama 2 tahun (1948 - 1950). Artinya Hatta praktis hanya menjabat 9 tahun sebagai orang nomor dua setelah Soekarno di republik ini.

Di masa transisi politik pemerintahan sipil Orde Lama (Soekarno) ke militer Orde Baru (Soeharto),  jabatan wapres pernah lowong selama 17 tahun (1956 - 1973). Presiden Soeharto baru memiliki wapres pertama di tahun 1973 hingga 1978. Dia memilih ‘Raja Jawa’, Hamengkubowono IX.

Dari 13 kursi ke-Wapres-an, 9 kali dijabat sosok partisan politik. Kalla jadi wapres dengan latar pengusaha dari reprentasi timur Indonesia.

Empat wapres yang tak berafiliasi resmi ke partai politik adalah Muhammad Hatta, lalu Hamengkubowono IX (23 Maret 1973-23 Maret 1978), wapres ke-11 Boediono (praktisi keuangan, 20 Oktober 2009 - 20 Oktober 20014).

Baca Juga: Selesaikan Tugas Dengan Baik, 100 Ekonom Lepas Jusuf Kalla

Dan terakhir yang akan dilantik Minggu (20 OKtober 2019) lusa adalah KH Ma’ruf Amin (ulama, pendidik), meski pernah jadi anggota partai dan legislator PPP dan PKB di tahun 1970-an hingga 1990-an, Ma’ruf lebih dikenal bukan sosok partisan politik melainkan kiai.

Kalla adalah kader Golkar ke-6 yang menjabat wapres. Sebelumnya ada Adam Malik (11 Maret 1978-11 Maret 1983), Umar Wirahadikusuma (1983-1988), Soedharmono (1988-1993), Tri Sutrisno (1993-1998), BJ Habibie (Maret-Mei 1998).

Jabatan wapres lowong selama kurang lebih 1 setengah tahun (21 Mei 1998-21 Oktober 1999) sebelum dilanjutkan dua wapres partisan lain, Megawati Soekarnoputri (PDIP - 21 Oktober 1999-23 Juli 2001) dan Hamzah Haz (PPP; 26 Juli 2001-20 Oktober 2004).

JK adalah wakil presiden ketiga yang lahir di luar pulau Jawa. Wapres pertama dari luar Jawa adalah Hatta adalah kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, lalu BJ Habibie, dan Hamzah Haz, pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Jusuf Kalla Bandingkan Pengalaman Jadi Wapres SBY dan Jokowi

Kalla sendiri adalah wapres kedua kelahiran Sulawesi Selatan, setelah BJ Habibie. Dibanding JK, Habibie terbilang beruntung. Meski Habibie tercatat sebagai wapres tercepat, hanya dua bulan, namun pria kelahiran Parepare 25 Juni 1936 ini, sempat  1 tahun 5 bulan menjabat sebagai Presiden ke-3 RI. 

Di ujung masa jabatan sebagai Ketua Umum DPP Golkar (2004-2009), Jusuf Kalla sempat ‘mengadu nasib’ menjadi presiden. Dia menggandeng Wiranto di Pilpres. Namun, kalah bersaing dengan dua paket militer-sipil di Pilpres 2009; paket SBY-Boediono dan Megawati Soekarnoputri- Prabowo Subianto.

JK “ditakdirkan” tak ikut jalan presiden BJ Habibie. “Saya sudah lama jadi presiden direktur di Kalla Group,” kata JK suatu ketika, setelah vacuum jabatan eksekutif selama lima tahun. Perihal tak tercapainya cita-cita jadi presiden dan hanya menjabat wapres di dua periode berbeda, JK mensyukurinya.

Baca Juga: Dyah Roro Esti Nilai Kabut Asap Renggut Hak Masyarakat Dapatkan Udara Layak

Dia meyakini, doa mendiang ibunya, Hajjah Atirah di tahun 1950-an, sudah dikabulkan lebih oleh Allah SWT. "Ibu saya cuma mendoakan menjadi gubernur, ternyata jadi bosnya gubernur," kelakar JK dalam wawancara khusus di program MataNajwa, Rabu (16/10/2019) malam lalu.

Di awal masa jabatan sebagai ‘Bos Gubernur”, oleh banyak pengamat dan praktisi, JK sering direpresentasikan sebagai The Next Muhammad Hatta. Fostur, komitmen kenegaraan, latar belakang pendidikan; ekonomi, keakraban, religiusitas, kesederhanaan, dan cara pengambilan keputusan yang simpel. 

Hatta memang pernah menjadi guru ekonomi JK, saat kuliah di Fakultas Ekonomi Unhas, dekade 1960-an. Di beberapa kesempatan JK juga mengakui Hatta adalah idolannya. Bagi Kalla, Hatta adalah tokoh bangsa yang ingin memajukan kesejahteraan ekonomi rakyat, jadi pilar perdamaian bangsa, dan mengurus kemanusiaan.

Baca Juga: Dijagokan Jadi Menko Perekonomian, Airlangga Enggan Berkomentar

Ibarat sudah ditakdirkan ikut jejak idola asal Minang itu, Kalla juga akhirnya menikahi wanita berdarah  Minangkabau, Hj Mufidah Jusuf. Jika Moh Hatta adalah pendiri sekaligus Ketua Umum I Palang Merah Indonesia (PMI, 1945-1946), Kalla juga ikut bisa ikuti jejak idolnya, menjadi Ketua Umum ke-12 PMI. 

JK mengemban amanah ‘kemanusiaan” yang dititip Hatta, justru setelah lengser dari jabatan wapres (Desember 2009). Hingga saat ini jadi petahana). {batam.tribunnews.com}

fokus berita : #Jusuf Kalla


Kategori Berita Golkar Lainnya