20 Oktober 2019

Berita Golkar - Para pemuda memiliki andil sangat besar terhadap berdirinya negara Indonesia. Di bidang politik, pemuda mulai dari era kolonial hingga reformasi menjadi motor penggerak perubahan bangsa. Untuk itu, para pemuda yang merupakan generasi milenial saat ini diajak untuk tidak apatis terhadap politik.

Demikian simpulan dari kegiatan Pendidikan Politik dan Sarasehan untuk Kalangan Muda yang digelar oleh DPD Partai Golkar Kebumen, Sabtu (19/10). Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPD Partai Golkar Kebumen Jalan A Yani tersebut diikuti oleh kader muda Partai Golkar, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa hingga pelajar.

Baca Juga: Jangan Hanya 5 Tahun Sekali, Muhammad Fauzi Minta Golkar Selalu Hadir Untuk Rakyat

Dibuka oleh Ketua DPD PartaI Golkar, Dra Hj Halimah Nurhayati MAP, sarasehan menghadirkan pembicara Wakil Bupati Kebumen, H Arif Sugiyanto SH, Ketua PD Muhammadiyah, H Abduh Hisyam, dan mantan Ketua KNPI Kebumen Kiai Fahrudin. Acara dipandu oleh kader muda Partai Golkar yang juga Ketua SPSI Kebumen, Akif Fatwal Amin.

Hadir para sesepuh Partai Golkar, Sekretaris DPD Partai Golkar, Drs Lulus Tri Paryadi, Ketua AMPG yang juga Anggota DPRD Kebumen dari Fraksi Partai Golkar Pawit Mandung, dan anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar. Tampak Kepala Kesbangpol Kebumen Nurtaqwa Setiabudi SH.

Pembicara pertama, Abduh Hisyam memaparkan, peran pemuda dari masa ke masa. Bagaimana para pemuda zaman dulu sejak muda sudah aktif dalam politik. Tokoh-tokoh pemuda yang memiliki pemikiran visioner bahkan 'radikal' di zamannya membuat Indonesia bisa merdeka seperti sekarang ini.

Baca Juga: Relawan Gojo Siap Kawal Pemerintahan Jokowi Hingga Tuntas

"Para pemuda aktif dalam dunia politik bukan demi kekuasaan semata, tetapi bagaimana memperjuangkan nilai dan visi yang mereka miliki," ujar Abduh Hisyam.

Sedangkan Fahrudin mengungkap peran politik kaum santri dari masa ke masa. Fahrudin menyitir ungkapan Imam Al Ghozali bahwa negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang.

"Untuk itu nasionalis dan agamis adalah satu tarikan nafas, cinta agama berarti cinta negara," ujarnya, berapi-api. {www.suaramerdeka.com}

fokus berita : #Hj Halimah Nurhayati #Abduh Hisyam


Kategori Berita Golkar Lainnya