27 Oktober 2019

Berita Golkar - Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, memperhatikan keterwakilan perempuan dalam menentukan formasi pimpinan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) di Senayan. Sebelumnya, Airlangga telah memutuskan formasi pimpinan Partai Golkar di DPR RI.

Formasi kader-kader terbaik Partai Golkar tersebut akan mengisi 13 kursi pimpinan DPR RI, dengan rincian 3 ketua komisi dan 10 wakil ketua komisi serta badan. Dari sekian banyak pimpinan alat kelengkapan dewan tersebut, politisi perempuan dari Fraksi Partai Golkar yakni Meutya Hafid ditetapkan sebagai Ketua Komisi I.

Nantinya, Meutya yang pernah berprofesi sebagai jurnalis itu bakal membidangi urusan luar negeri, komunikasi dan informasi, serta pertahanan. Oleh karena itu, salah satu mitra kerja Komisi I DPR RI adalah Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto.

Baca Juga: Sektor Ekonomi Kabinet Indonesia Maju Dikuasai Kader Golkar

Sebagai informasi, Meutya Hafid pernah menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR RI pada periode sebelumnya. "Komposisi itu telah diputuskan Ketua Umum Partai Golkar Pak Airlangga Hartarto," kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily dalam pernyataan tertulis, Sabtu (26/10/2019).

Selain Meutya Hafid yang memimpin Komisi I, kata Ace, Ahmad Doli akan memimpin Komisi II dan Dito Ganundito akan memimpin Komisi XI DPR RI.

Fraksi Partai Golkar juga menugaskan Adies Kadir sebagai Wakil Ketua Komisi III, Dedi Mulyadi menjabat Wakil Ketua Komisi IV, Ridwan Bae sebagai Wakil Ketua Komisi V, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer menjadi Wakil Ketua Komisi VI, serta Alex Noerdin sebagai Komisi VII.

Baca Juga: Penyerapan Anggaran Daerah Rendah, Dedi Mulyadi Usul Sederhanakan Lelang Proyek

Selanjutnya, Ace Hasan Syadzily akan kembali menjadi Wakil Ketua Komisi VIII, Melki Laka Lena sebagai Wakil Ketua Komisi IX, Hetifah Syaifudian menjabat Wakil Ketua Komisi X. Adapun Muhidin Mohamad Said menjadi Wakil Ketua Badan Anggaran dan Andi Rio Idris Padjalangi menjadi Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan.

Sebelumnya, rapat paripurna DPR RI yang digelar 22 Oktober lalu telah mengesahkan jumlah pimpinan komisi dan keanggotaan Alat Kelengkapan Dewan (AKD). Sidang yang dipimpin Ketua DPR RI, Puan Maharani, itu menetapkan 11 ketua komisi di DPR dan 4 wakil ketua untuk masing-masing komisi.

Selain itu, rapat menetapkan jumlah keanggotaan fraksi dalam AKD. Adapun rincian jumlah AKD di DPR RI di antaranya Badan Musyawarah (Bamus) 58 anggota, Badan Legislatif (Baleg) 80 anggota, Badan Anggaran (Banggar) 100 anggota,

Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) 9 anggota, Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) 53 anggota, Majelis Kehormatan Dewan (MKD) 17 anggota, Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) 25 anggota, dan Panitia Khusus (Pansus) 30 anggota.

Baca Juga: Golkar Sumut Siap Usung Mantu Jokowi di Pilkada Kota Medan

Siapa Meutya Hafid

Sosoknya dikenal sebagai reporter dan presenter berita televisi. Meutya Viada Hafid lahir di Bandung, Jawa Barat, 3 Mei 1978 (umur 41 tahun). Sebelumnya, ia bekerja sebagai jurnalis di Metro TV, Meutya membawakan acara berita serta menjadi presenter di beberapa acara.

Pada 2010, Meutya berpasangan dengan H. Dhani Setiawan Isma S.Sos maju sebagai calon Wali kota dan Wakil Wali kota Binjai periode 2010-2015. Mereka diusung Partai Golkar, Demokrat, Hanura, PAN, Patriot, P3I, PDS serta 16 partai non-fraksi DPRD Binjai.

Sayangnya, Meutya kalah. Saat itu, diduga ada kesalahan rekapitulasi penghitungan suara di Tingkat PPK Binjai Barat, Binjai Utara, Binjai Timur, Binjai Selatan dan Binjai Kota. Suara Dhani-Meutya juga diduga berkurang 200, dari seharusnya 22.287 menjadi 22.087 suara.

Baca Juga: Bamsoet Ajak Semua Elemen Bangsa Jaga Indonesia Sebagai Rumah Besar Pancasila

Perolehan suara Dhani-Meutya juga banyak yang dibatalkan karena kertas suara dicoblos hingga bagian belakang secara simetris. Banyaknya dan kertas suara yang robek di bagian tengah sehingga menguntungkan calon pasangan tertentu.

Meutya berupaya mencari keadilan ke Mahkamah Konstitusi. Sayangnya, MK memutuskan menolak permohonan Meutya dengan alasan tidak cukup bukti. Pada bulan Agustus 2010, ia dilantik menjadi Anggota DPR antar waktu dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.

Ketika organisasi massa yang didirikan Surya Paloh, yakni Nasional Demokrat, berganti baju menjadi partai politik pada 25 Juli 2011, Meutya yang dekat dengan Surya Paloh mundur dari Nasdem. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengatakan seluruh anggota Fraksi Partai Golkar memilih mundur dari Nasional Demokrat.

Baca Juga: Jadi Wakil Ketua Komisi VI, Demer Siap Kawal Industri Indonesia Bersaing di Dunia Internasional

Pengunduran diri kader Golkar itu diumumkan pada Kamis, 11 Agustus 2011 yang merupakan tenggat bagi kader Golkar untuk memilih bertahan di partai berlambang beringin tersebut, atau pindah ke Nasdem.

Selain Meutya, kader Golkar lain yang sempat bergabung di Nasdem adalah Jeffrie Geovani dan Ferry Mursyidan Baldan. Pada hari itu, Meutya Hafid menyatakan di akun Twitternya dengan tegas mengatakan, "sangatlah tak mungkin jika saya menjadi anggota parpol lain."

Ketenaran Meutya Hafid ini sempat berujung pada teror dari seseorang bernama Bobby Meidianto. Pria yang dikabarkan depresi sejak 2000 itu mengaku menjadi suami Meutya, dan menyebarkan kabar bohong itu di dunia maya.

Menurut Meutya, pernah ada pria berpakaian compang-camping yang menungguinya di depan pagar rumahnya selama 3 hari. Bobby mengaku sebagai Letkol Purnawirawan dan menjadi anggota detasemen khusus di kepolisian Republik Indonesia. {wartakota.tribunnews.com}

fokus berita : #Meutya Hafid #Ace Hasan Syadzily


Kategori Berita Golkar Lainnya