28 Oktober 2019

Berita Golkar - Kasus HIV/AIDS semakin banyak ditemukan di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng. Tak hanya HIV/AIDS, peredaran narkotika juga semakin mengkhawatirkan. Situasi ini berdasarkan data yang ditemukan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali I Nyoman Sugawa Korry saat melakukan reses di daerah pemilihannya, Buleleng.

Dirinya mengatakan, HIV/AIDS dan narkoba ini sudah masuk sampai ke desa-desa, bahkan sudah ada masyarakat yang menjual tanah warisan akibat ketergantungan terhadap narkoba. Meski demikian, politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini melihat belum ada strategi jitu dari pemerintah untuk mengatasi hal tersebut.

"Jadi tidak ada, artinya pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat semakin terpengaruh narkoba dan HIV/AIDS," kata Sugawa Korry saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/10/2019).

Baca Juga: Ini 5 Hal Yang Enak Bagi Kaum Muda Zaman Now di Kota Bekasi Versi Ade Puspitasari

Dirinya menyinggung kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang saat ini fokus ke pelestarian desa adat. Seharusnya, desa adat dilibatkan untuk mengurangi HIV/AIDS dan narkoba.

Sebab, data mengenai HIV/AIDS ibarat gunung es, di mana yang muncul di permukaan tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi di bawah. "Jadi bisa berlipat-lipat dari data yang sebenarnya," kata dia.

Karena penyakit ini dapat menghancurkan generasi muda Bali, maka harus dilakukan berbagai terobosan untuk mengatasinya. Menurut Sugawa Korry, semua komponen yang terlibat dalam urusan ini harus dikaji ulang dalam penanganan HIV/AIDS dan narkoba dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat.

"Sudah ada petugas yang ditugaskan untuk itu, yang dikoordinasikan oleh pihak gubernur tentunya," kata dia.

Baca Juga: Bamsoet Ingatkan Para Menteri Segera Adaptasi Gaya Kerja Jokowi

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, dari tahun 1987 hingga Juni 2019 terdapat sebanyak 21.597 kasus HIV/AIDS di Bali. Dari jumlah tersebut, HIV/AIDS lebih banyak dialami oleh laki-laki sebanyak 13.440 kasus dan perempuan 8.157 kasus.

Jika dirinci berdasarkan kabupaten dan kota di Bali, kasus ini paling banyak terjadi di Kota Denpasar sebanyak 8.084 kasus. Selanjutnya, disusul oleh Badung (3.625 kasus), Buleleng (3.143 kasus), Gianyar (1592), Tabanan (1.301 kasus), Jembrana (1102 kasus), luar Bali (1040 kasus) Karangsem (811 kasus), Bangli (459 kasus) dan Klungkung (440 kasus).

Lalu untuk data Narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) se-Bali mengungkap sebanyak 43 kasus selama Januari hingga Oktober 2019. 43 kasus itu di antaranya melibatkan 52 orang laki-laki dan 4 orang perempuan dengan barang bukti sebanyak 4.880,5 gram shabu, 1642 butir ekstasi dan 23.012,02 gram ganja. {bali.tribunnews.com}

fokus berita : #I Nyoman Sugawa Korry


Kategori Berita Golkar Lainnya