08 November 2019

Berita Golkar - Ketua DPD I AMPI Sulawesi Selatan, Aksara Alif Raja, dorong DPP Golkar untuk pendampingan politik pembentukan Luwu Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan. Hal tersebut diutarakan Aksara Alif Raja saat Rakernas dan Rapimnas AMPI di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Jumat (8/11/2019). Kegiatan ini mengangkat tema “Muda Menata Indonesia”.

Alif Raja konsen pada pembentukan Kabupaten Luwu tengah sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat di Walenrang Lamasi (Walmas). Dimana masyarakat Walmas dalam hal mengakses pelayanan publik, sangat kesulitan.

Karena harus menempuh jarak 60 hingga 80 kilometer sampai di ibu kota Kahupaten Luwu, Belopa. Selain itu, Alif Raja, melihat realitas saat ini perjuangan pembentukannya sudah lebih dari satu dasawarsa. "Dengan adanya pendampingan politik dari DPP Golkar, harapan terbentuknya Kabupaten Luwu Tengah dapat terwujud secepatnya," ujarnya.

Baca Juga: Dukung Airlangga, AMPI Bantu Siapkan Roadmap Pembinaan Kader Muda Golkar

Rekomendasi tersebut disampaikan mengingat saat ini Ahmad Doli Kurnia selaku kader partai Golkar kini duduk sebagai pimpinan Komisi 2 DPR RI. Yang membidangi urusan pemerintahan salah satunya terkait pembentukan daerah otonom baru. Dan sebagai bagian dari generasi millenial serta bentuk perwujudan muda menata indonesia.

"Terpenuhinya pelayanan masyarakat merupakan salah satu hal mendasar yang perlu dipikirkan bersama, sebagai contoh pelayanan pertanahan bagi warga yang seringkali mengalami hambatan akibat jauhnya jarak antara ibukota Kabupaten Luwu dengan wilayah di sekitaran Walenrang Lamasi," tegasnya.

Disamping itu, Syamsul selaku tokoh masyarakat Walmas yang juga merupakan mantan ketua umum PB IPMIL RAYA, mendukung langkah ketua DPD I AMPI Susel pada rapimnas tersebut. Syamsul juga mengapresiasi yang tinggi terhadap hal yang dinilainya sangat strategis.

Baca Juga: Tuntaskan Persoalan Papua, Meutya Hafid Dorong Pendekatan Dialogis

"Semoga langkah ini memberi energi baru bagi masyarakat di Luwu Tengah," tutup Syamsul. Sekedar diketahui, Rapimnas ini berlangsung pada 7 hingga 9 November mendatang.

Ketua AMPI Sulsel Aksara Alif Raja: Pemuda Peduli Lingkungan Itu Keren!

Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sulawesi Selatan Aksara Alif Raja mengatakan, indikator kualitas kepemudaan kita adalah ketika pemuda tu punya manfaat untuk alam dan ummat.

Pemuda perusak lingkungan ada pemuda yang biadab karena tak peduli terhadap masa depan bersama. Peduli terhadap lingkungan adalah bagian dari pengabdian.

Beberapa poin tersebut disampaikan Aksara saat tampil sebagai salah satu pembicara pada diskusi di Baruga Anging Mammiri, Kota Makassar, Minggu (27/10/2019) jelang sore. “Pemuda keren itu adalah pemuda yang peduli lingkungan,” pesan Aksara.

Baca Juga: Jelang Munas Golkar 2019, Agun Gunandjar Usulkan Tata Kelola Partai Dibenahi

Salah satu ciri pemuda yang peduli lingkungan, katanya, adalah mereka yang tak lagi selalu gunakan plastik sekali pakai. Sebab kini lingkungan kita terancam dengan sampah plastik yang tak terkendalikan. “Gambaran efek dari akumulasi plastik adalah gambaran kengerian masa depan,” katanya.

Lebih lanjut, Alif menegaskan bahwa kesadaran pemuda untuk peduli lingkungan perlu dibangkitkan. Hal senada juga disampaikan oleh budayawan Yudistira Sukatanya. Menurutnya, persoalan sampah adalah persoalan krisis kebudayaan.

“Kebudayaan itu adalah produk ide manusia yang harus dipraktikkan. Ketika tidak dipraktikkan, ketika itu pula budaya itu sudah hilang," pesan Yudistira.

Diskusi tersebut juga melahirkan kesepakatan pemuda untuk mendeklarasikan Pemuda Tanpa Plastik di Anjungan Toraja-Mandar Losari. Kegiatan ini bagian dari peringatan Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.

Baca Juga: Majukan Industri Nasional. Agus Gumiwang Bakal Maksimalkan Produk Dalam Negeri

Sampah Plastik

Belum lama ini masyarakat dunia dikagetkan dengan ditemukannya ikan paus yang terdampar dan mati di Perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 28 November 2018 lalu. Bukan kematian paus itu semata yang patut disesali. Tapi, penyebab kematiannya yang sungguh memilukan hati.

Kematian paus itu sungguh memprihatinkan dan menyedot perhatian masyarakat dunia, karena dalam perut paus sepanjang 9,6 meter tersebut ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kilogram. Tak dapat dipungkiri, sampah yang tidak terkelola dengan baik akan menyebabkan pencemaran di lingkungan kita.

Plastik merupakan salah satu bahan yang paling sering digunakan oleh masyarakat untuk berbagai hal, karena keseringan digunakan plastik seolah-olah telah menjadi sebuah kebutuhan yang harus tersedia di masyarakat.

Baca Juga: Ahmad Doli Kurnia Bantah Ada Intervensi Pihak Luar Terkait Munas Golkar

Meskipun sejatinya plastik memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan apabila sudah tidak digunakan lagi yang dikenal dengan sebutan sampah plastik. Komposisi sampah plastik di Indonesia saat ini sekitar 15 persen dari total timbunan sampah, terutama di daerah perkotaan.

Data menunjukkan, dalam 10 tahun terakhir, jumlah sampah plastik terus meningkat dan berakhir ke lingkungan. Dari total timbunan sampah plastik tersebut, hanya sekitar 10-15 persen yang didaur ulang, 60-70 persen ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA), dan 15 persen-30 persen belum terkelola.

Ironisnya, 15-30 persen sampah plastik yang belum terkelola itu berakhir terbuang ke lingkungan, terutama ke sungai, danau, pantai, dan laut. {makassar.tribunnews.com}

fokus berita : #Aksara Alif Raja #Ahmad Doli Kurnia #Yudhistira Sukatanya


Kategori Berita Golkar Lainnya