10 November 2019

Berita Golkar - Ketua DPP Golkar Ridwan Hisjam mengatakan, dirinya siap dicalonkan menjadi ketua umum Golkar pada Musyawarah Nasional Partai Golkar pada Desember nanti. Ridwan mengklaim dirinya layak menjadi ketua umum Golkar karena pengalamannya yang panjang di partai berlambang pohon beringin ini.

"Saya punya banyak pengalaman panjang di Golkar. Saat berumur 30 tahun saat sudah menjadi ketum HIPMI saya pengurus Golkar, sekarang ketua DPP. Kalau kesiapan, insya Allah saya siap, pengalaman sudah cukup panjang," kata Ridwan usai bedah buku karangannya, Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar, di Bali Room, Kempinski Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2019).

Namun demikian, Ridwan menyebutkan, saat ini dirinya belum menyatakan akan mencalonkan. Adapun beberapa isu yang muncul terkait pencalonannya, kata dia, itu karena ada wacana dari pengurus Golkar pusat bahwa calon ketua umum tidak hanya dua, Airlangga dan Bambang Soesatyo, melainkan lebih dari itu, termasuk Ridwan sendiri.

Baca Juga: Kemunduran Bagi Partai Bila Hanya Muncul Caketum Tunggal di Munas Golkar

Meski siap dicalonkan, namun Ridwan mengatakan dirinya tidak melakukan komunikasi maupun konsolidasi di tingkat DPD baik kabupaten maupun provinsi. "Bisa dicek, tidak ada pergerakan. Tapi yang meminta banyak," kata anggota DPR RI ini.

Ketika ditanya jika pendaftaran calon ketua umum sudah dibuka apakah akan mencalonkan, Ridwan menjawab lihat saja nanti. "Ya, lihat saja nanti, persyaratannya belum ada, baru saja akan rapim," katanya.

Ubah Paradigma Golkar

Ridwan mengatakan, menjadi pemimpin Partai Golkar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu konsep yang matang agar partai ini bisa memenangkan Pemilu 2024. "Saya jika dipercaya, saya harus memenangkan partai ini, jadi bukan sekadar ketua umum partai," katanya.

Baca Juga: Jelang HUT OPM, Meutya Hafid Minta TNI-Polri Pastikan Keamanan Papua

Salah satu strategi pemenangan Partai Golkar untuk 2024 mendatang, kata Ridwan, perlu adanya perubahan paradigma Partai Golkar seperti yang ditulisnya melalui buku tersebut. Ia menyebutkan, suara Partai Golkar mengalami kejayaan di era Akbar Tandjung dari 1999 hingga 2004. Namun setelah itu, suara Partai Golkar mengalami penurunan.

Namun penurunan tren suara itu tidak dibebankan pada satu pemimpin, tetapi tanggung jawab semuanya, termasuk pengurus lain. Menurut Ridwan, semua figur ketua umum Golkar adalah kader terbaik dari partai berlambang Pohon Beringin ini. Mulai dari Abu Rizal Bakrie, Jusuf Kalla hingga Airlangga sekarang adalah bagus.

Hanya saja memang situasi yang menyebabkan suara Golkar turun. Namun problemnya adalah bahwa Golkar tidak sadar atas situasi tersebut. Oleh karena itu, kata Ridwan, harus ada perubahan paradigma di Partai Golkar sehingga bisa mengikuti perkembangan zaman.

Baca Juga: Mahadi Nasution Nilai Bamsoet Miliki Kapasitas Mumpuni Pimpin Golkar

Dulu, kata dia, pada periode 1999-2004, Golkar menang karena ada paradigma baru. Namun sekarang paradigma itu bergeser. Karena paradigma itu bergeser, maka perlu direformasi.

Saat ini, kata dia, adalah era milenial. Sekitar 70 persen calon pemilih adalah milenial. Oleh karena itu, Golkar harus mengubah paradigmanya, terutama cara pendekatan pada generasi milenial tidak dilakukan dengan gaya tradisional. Melainkan melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis revolusi industri 4.0. {regional.kompas.com}

fokus berita : #Ridwan Hisjam


Kategori Berita Golkar Lainnya