11 November 2019

Berita Golkar - Mendapat dukungan beberapa Dewan Pimpinan Daerah (DPD), politikus senior Golkar blak-balkan tentang alasannya maju ke bursa Ketua Umum pada Munas Golkar 4-6 Desember mendatang. "Aku ini maju karena prihatin melihat keadaan Golkar, khususnya internal," katanya kepada Gatra.com, Senin 11/11.

"Kursi perolehan Golkar terus turun, yang juga diakibatkan terjadi konflik internal . Pada 2014 pernah terjadi Golkar pecah dua. Golkar Bali (ARB), dan Golkar Ancol. Atas desakan Presiden Jokowi, maka dilakukan Munas Perdamaian di Bali, terpilih Setya Novanto," katanya.

"Ternyata Golkar tetap bermasalah. Sampai-sampai Ketua Umum (Setya Novanto), dan Sekjen (Idrus Marham) terlibat KPK, dan konsolidasi tidak tercapai. Suara Golkar nomor 3 di bawah Gerindra, biarpun kursi DPR lebih tinggi," katanya.

Baca Juga: Ingin Ubah Paradigma Partai, Ridwan Hisjam Siap Maju Caketum Golkar

 

Data Komisi Pemilihan Umum, Pemilu 2019. Gerindra memperoleh 17.594.839 (12,57%), sedangkan Golkar 17.229.789 (12,31%). Perolehan kursi di DPR RI, Gerindra 75, dan Golkar 85.

"Saat ini menjelang Munas, Golkar seakan terbelah lagi. Jangan sampai setelah Munas ada parpol pecahan baru bagi yang tidak puas. Artinya bila konsolidasi cara seperti sekarang tetap dijalankan, maka pesimistis Partai Golkar akan bisa menggeliat dari keterpurukan," katanya.

Karena itu Indra Bambang Utoyo nekad maju ke bursa Ketua Umum agar tidak hanya dua kubu yang berhadapan. "Atas dasar hal-hal seperti itu, juga tidak ingin Golkar menjadi terbelah pada dua kubu saja, saya maju. Bertambah banyak calon yang maju bertambah baik," katanya.

Baca Juga: Jelang Munas Golkar, Airlangga Hartarto Diminta Tak Terjebak Opini Segelintir Orang

Untuk bisa lolos menjadiu calon Ketua Umum Golkar Indra Bambang Utoyo, sesuai AD/ART harus didukung 30% DPD Golkar atau 180 suara. Ada 590 suara terdiri dari DPP, DPD I, dan DPD II. Dari komposisi itu DPD II memiliki suara terbanyak dengan 544 suara. {www.gatra.com}

fokus berita : #Indra Bambang Utoyo


Kategori Berita Golkar Lainnya