20 November 2019

Berita Golkar - Partai Golkar bertekad membidik pemilih pemula atau suara dari generasi milenial pada pemilu 2024. Pasalnya, fenomena bonus demografi dan hadirnya kelompok milenial diyakini bisa menambah suara partai.

Koordinator Bidang Kepartaian Partai Golkar Ibnu Mundzir mengakui, masukan dari pengamat politik soal pentingnya menggarap suara dari kalangan anak muda menjadi catatan penting bagi Partai Golkar. Suara pemilih milenial yang diperkirakan mencapai sekitar 60-65 persen dalam Pemilu 2024 menjadi salah satu potensi untuk digarap sebagai calon konstituen.

“Fenomena bonus demografi dan kelompok milenial ini memang harus diantisipasi dengan baik,” tutur Ibnu saat diskusi bertema "Golkar Mempersiapkan Transformasi Kader Bangsa" di Jenggala Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin.

Baca Juga: 2 Tantangan Golkar Menuju Pemilu 2024

Untuk itu kata dia, Partai Golkar bakal melakukan segala upaya dan kekuatan agar basis suara dari pemilih potensial atau kelompok milenial ini bisa diraih. Salah satu langkah yang ditempuh yakni dengan pemanfaatan sosial media, serta teknologi guna menambah ceruk pemilih baru tersebut.

"Misalnya pemanfaatan internet, yang saat ini hampir digunakan oleh seluruh masyarakat kita terutama (anak) muda," kata Ibnu yang juga Ketua Jenggala Center.

Ditempat sama, Direktur Eksekutif Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengungkapkan, angkatan muda tak lepas dari isu-isu ekonomi, misalnya saja tentang lapangan kerja. Sehingga dalam menambah pemilih muda, Partai Golkar disarankan menjadi partai terdepan dalam menggaungkan solusi perekonomian.

Baca Juga: Fahmi Idris Yakin Konflik Jelang Munas Golkar Takkan Berakhir Dengan Partai Baru

"Isu ekonomi menjadi kuat mengemuka dan harus perhatian partai. Golkar yang juga fokus pada isu ini, harus leading," kata Djayadi ditemui Rakyat Merdeka saat diskusi.

Djayadi mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pemilih berusia 17-38 tahun yang jumlahnya 55 persen pada Pemilu 2019, bakal meningkat sebanyak 60-65 persen pada Tahun 2024. Cara menggaetnya diungkapkan dengan memanfaatkan peran teknologi, karena rata-rata anak muda meluangkan waktunya.

"Kalau Golkar tidak menangkap pemilih ini bisa ketinggalan. Ada internet, semua terkait dengan teknologi, hubungannya dengan politik adalah transparansi. Maka apa yang dilakukan oleh partai semuanya juga harus transparan," tuturnya.

Baca Juga: Golkar Rekomendasikan Jamil Zeb Tumori Jadi Balon Walikota Sibolga

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha menilai, perhatian yang harus diutamakan jika ingin adanya transformasi diantaranya re-branding yang menyesuaikan dengan para pemilihnya.

"Kompetisi elektoral kan memenangkan publik. Basis pemilih muda hadir, karena pemilih tua berkurang dan yang muda membesar. Cara mendekatinya dengan pendekatan isu (anak muda) serta melakukan re-branding," ungkapnya.

Hanta mencontohkan, model kampanye Presiden Joko Widodo yang mampu menggaet pemilih pemula. Walaupun bukan milenial kata dia, tapi Presiden Jokowi berpikir layaknya anak muda. Misalnya kebijakan yang dibuat, berpihak kepada milenial. Partai Golkar menurutnya bisa mencontohnya.

"Kepemimpinan di Golkar harus mengakar ke dalam dan menjulang ke luar. Bagaimana Ketua Umum dan Pengurus merepresentasikan anak muda," ujar Hanta. {rmco.id}

fokus berita : #Ibnu Munzir #Djayadi Hanan #Hanta Yudha


Kategori Berita Golkar Lainnya