23 November 2019

Berita Golkar - Kisruh Golkar Bali belum reda. Setelah Badung, gerakan mundur massal dari pengurus Golkar juga terjadi di Bangli. Sekitar 30 Pengurus Kecamatan (PK) dan Pengurus Desa (PD) berbondong-bondong mendatangi sekretariat DPD II Golkar Bangli, Jumat (22/11/2019).

Mereka menyampaikan aspirasi, yang pada intinya mengundurkan diri dari keanggotaan di Partai Golkar. Ketua PK Kintamani, I Wayan Koyan mengungkapkan, ada tiga aspirasi yang disampaikan.

Pertama, jajaran PK se-Kabupaten Bangli, yakni PK Kintamani, Temuku, Susut, dan Bangli menyatakan diri mundur sebagai pengurus kecamatan. Mereka juga tidak bersedia ditempatkan, atau didudukkan lagi sebagai pengurus di Partai Golkar dalam tingkatan manapun. Baik di DPD, di kecataman, maupun di desa.

Baca Juga: Golkar Bali Buka Peluang Usung Selly Mantra di Pilkada Denpasar 2020

“Ketiga, kami menyatakan mundur dari kepengurusan ini karena merasa tidak nyaman lagi sebagai pengurus di jajaran Partai Golkar Bangli, baik itu di kecamatan, DPD, maupun di desa. Selama kepemimpinan Partai Golkar Bangli ini dipimpin oleh bapak ketua Plt (I Gusti Made Winuntara),” ungkapnya.

Koyan juga menegaskan, aspirasi tersebut disampaikan tidak dalam paksaan ataupun tekanan dari pihak manapun. Aspirasi tersebut disampaikan murni, setelah mengadakan rembuk di PK. “Sebagai bentuk pengunduran diri sebagai pimpinan kecamatan, kami juga membawa plang sekretariat di beberapa kecamatan. ini kami kembalikan pada DPD Golkar Bangli,” ucapnya.

Wakil Sekretaris Bidang OKK DPD II Golkar Bangli, Sang Kompyang Yasa Negara mengatakan, secara garis besar pihaknya legowo menerima apapun keputusan mahkamah partai dalam kasus gugatan penunjukkan Plt.

Baca Juga: Untuk Perbaikan Ke Depan, Aburizal Bakrie Tagih Janji DPP Golkar Evaluasi Pileg

Kendati demikian, pihaknya tidak menerima Gusti Made Winuntara sebagai Plt Golkar di Bangli. Sebab, sejak ikut bergabung di Golkar tahun 2001, tidak pernah melihat langsung dedikasi Gusti Made Winuntara kepada partai. Pihaknya juga meragukan loyalitas Gusti Made Winuntara sebagai kader Golkar.

“Saat Pilgub, dia mengaku bukan kader Golkar dan hanya sebagai relawan. Lantas sekarang dia menjadi Plt? Mana loyalitasnya beliau? Harusnya menjadi Plt jenjangnya dari bawah, bukan tiba-tiba sebagai Plt,” tegasnya.

Kader Golkar lainnya, I Wayan Oka Armika mengaku malu dipimpin oleh seorang Plt yang tidak pernah mengikuti kontestasi politik. Menurutnya, untuk duduk sebagai Plt semestinya seorang kader yang memiliki suara terbanyak. Di lain sisi, Oka juga mengomentari Gusti Winuntara yang mengklaim diri kerap ngantor, sedangkan foto presiden dan wakil presiden justru belum berganti.

Baca Juga: Kader-Kader Senior Golkar Bali Dukung Bamsoet, Ini Alasannya

“Itu pak presiden dan wakilnya harusnya sudah beda. Kok masih Pak Jusuf Kalla. Katanya ngantor setiap hari, ini contoh kecil. Yen sing ngelah pis, kebeliang potone pak wakil (wakil presiden) yang baru. Ini sudah berapa bulan dilantik? Malu,” kata dia.

Di lain pihak, Sekretaris Golkar Bangli, I Nengah Darsana menyesalkan keputusan PK dan PD yang mundur dari keanggotaan. Namun demikian, Darsana tidak bisa berbuat banyak mengingat keputusan undur diri adalah pilihan para PK dan PD. “Apa yang menjadi aspirasi kawan-kawan PK dan PD, aspirasi ini kita terima semua.

Tapi keputusan nantinya harus betul-betul membutuhkan pertimbangan serta konsultasi kepada petinggi-petinggi partai baik itu di provinsi bahkan tingkat pusat,” ungkapnya. Suasana di DPD II Golkar Bangli kemarin sempat memanas ketika Gusti Winuntara mendapat kesempatan berbicara.

Baca Juga: Bamsoet Pastikan Siapapun Yang Menang di Munas Golkar Tetap Dukung Jokowi

Terlebih ketika dia menganggap penggantian foto Wapres lama dengan Wapres terpilih adalah masalah kecil, serta memerintahkan pada kader Golkar yang hadir untuk mengganti sendiri. Seusai pertemuan, PK Kintamani I Wayan Koyan menyebut ada sekitar 30 orang yang ikut hadir ke DPD II.

Seluruhnya merupakan perwakilan, baik PK, PD, mapun pengurus DPD II. Sedangkan menurut Sang Kompyang, jumlah pengurus yang mengundurkan diri, diperkirakan mencapai 91 orang. “Dari bawah PD ada 72 orang, PK 4 orang dan sebagian pengurus kabupaten. Dari total (pengurus kabupaten) 38 orang, sekitar 15 orang yang mengundurkan diri,” katanya.

Sementara Gusti Winuntara enggan berkomentar banyak ihwal pernyataan yang meragukan dirinya sebagai kader Golkar. Gusti Winuntara hanya menegaskan, dirinya salah satu pendiri Golkar di Bangli, dan telah menjadi kader sejak 1971.

Baca Juga: Bamsoet Ungkap 826 Pasangan Suami Istri Cerai Akibat Pilkada Langsung

“Saya dari Ormas SOKSI. Kalau ke-Golkar-an saya ‘kuning’ ndak usah diragukan di seluruh Bali. Jadi tidak perlu dibahas itu. Kalau saya diragukan oleh Golkar, mungkin saya tidak diberikan menjadi Plt di sini. Dan kalau Golkar sampai tidak tahu saya kan lucu,” ucapnya.

Gusti Winuntara juga menanggapi ‘masalah kecil’ ihwal penggantian foto Wapres. Menurutnya foto presiden dan wakil presiden terbaru memang belum ada yang menjual. “Jadi bukan ada niat lalu menokohkan tetap Pak Jusuf Kalla, kan lucu. Siapa yang mau begitu. Nggak ada begitu. Ya barangkali kelalaian kita belum menurunkan itu,” jelasnya.

Sedangkan menyangkut mundurnya sejumlah pengurus partai, Gusti Winuntara menegaskan, itu merupakan hak masing-masing pengurus. Mengenai pengisian posisi kosong, nantinya akan diisi oleh Plt.

Baca Juga: Bamsoet Siap Jadi Harapan Baru Bagi Kader Golkar

“Nanti paling saya bikin pleno, saya putuskan mundurnya mereka diisi dengan Plt. Kan aturan partai begitu. Jadi mungkin saya siapkan siapa (calon Plt), saya ajukan dalam pleno, kalau pleno DPD II menyetujui ya sudah menjadi Plt di sana. Jadi sesegera mungkin mengadakan pleno, jangan sampai ada kosong,” tandasnya.

Mantan Wakil Sekretaris Golkar Bali, Kusnandar mengaku kekisruhan yang terjadi akibat intrik-intrik politik jelang Munas Golkar yang akan dilaksanakan awal Desember 2019 mendatang. "Ini saya cium ada intrik-intrik yang dilakukannya elite untuk memuluskan langkah Airlangga di Munas," katanya.

Pria yang juga dipecat oleh Plt Ketua Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer ini menyebutkan bahwa kepemimpinan Airlangga Hartarto gagal. Apalagi, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Bali, namun juga di beberapa daerah di Indonesia. "Ini memperlihatkan kegagalan Airlangga dalam memimpin. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Bali," ucapnya.

Baca Juga: 4 Kali Mangkir, KPK Bakal Segera Panggil Melchias Mekeng Lagi

Ia pun berharap agar Bambang Soesatyo alias Bamsoet dapat maju dalam perebutan kursi Caketum Golkar. Pasalnya, Bamsoet dinilai dapat membawa arah baru bagi Golkar ke depan. "Saya berahap Bamsoet maju dan membawa arah baru bagi Golkar ke depan," ujar dia. 

Demer: Dapat Paus Kehilangan Teri

Menanggapi banyaknya kader mundur massal yang terjadi di Badung dan Bangli, Plt Ketua Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia mengatakan, hal itu merupakan bagian dari hak politik kader. Bahkan, Demer menyebutkan kejadian tersebut sebagai hal biasa.

"Oh nggak apa-apa, itu biasa dalam politik, ada yang masuk ada yang mundur," katanya saat dikonfirmasi Tribun Bali, Jumat (22/11/2019).

Namun Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini menyayangkan tindakan tersebut. Hal ini karena menurut Demer, sebelumnya para kader sudah bersepakat untuk menaati apapun putusan Mahkamah Partai.

Baca Juga: Untuk Perbaikan Ke Depan, Aburizal Bakrie Tagih Janji DPP Golkar Evaluasi Pileg

Ia kemudian menuding para kader tersebut tidak satya wacana. "Memang sangat disayangkan keluar. Katanya kemarin sepakat untuk diselesaikan di Mahkamah Partai, sepakat semuanya. Kalau sebagai orang Bali kurang pas lah, tidak satya wacana namanya," tegasnya. "Tapi nggak apa sih, namanya politik kan boleh aja ya," imbuhnya.

Pun begitu, ia menyatakan, berbagai kejadian tersebut cukup membuat persiapan Golkar menghadapi Pilkada terganggu. Tetapi, pihaknya tetap optimistis mampu menghadapi Pilkada Serentak 2020 dengan kemenangan. Ini dikarenakan juga banyak tokoh-tokoh yang akan masuk ke Golkar.

"Rugi sih rugi, cuma itu kan hak mereka untuk masuk dan keluar. Yang akan masuk ke kita juga banyak tokoh-tokoh," ujarnya.

Baca Juga: Sahat Simanjuntak Jamin 39 Suara Golkar se-Jatim Bulat Dukung Airlangga Hartarto

Ia mencontohkan adik Bupati Bangli, Made Gianyar yakni Made Subrata yang menjadi kader Golkar bersama para pengikutnya. Demer pun mengibaratkan hal itu seperti mendapatkan ikan paus dan ditinggalkan oleh ikan teri.

"Kemarin kan adiknya Pak Bupati masuk dengan beberapa rombongan. Kalau saya andaikan ada paus masuk ada teri yang keluar," jelasnya.

Terkait, dengan perusakan atribut oleh kader Golkar yang mundur massal tersebut, Demer mengaku sedang mengkaji apakah akan melapor ke pihak yang berwajib, atau tidak. "Nanti kita lihat, tim hukum kita akan mengkaji," tukasnya. {bali.tribunnews.com}

fokus berita : #I Wayan Koyan #I Gusti Made Winuntara #Sang Kompyang Yasa Negara


Kategori Berita Golkar Lainnya