23 November 2019

Berita Golkar - Munculnya keinginan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung aklamasi tidak mencerminkan tradisi Partai Golkar. Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai Golkar mampu mengalami modernisasi kepartaian lantaran tidak pernah menggantungkan masa depan politiknya hanya pada satu tokoh.

Selain itu, Golkar berhasil bertransformasi menjadi partai politik modern karena mampu menghadirkan kader terbaik lain dalam bursa ketua umum. Karena itu, sejumlah kader langsung menyambut baik ketika munculnya isu munas tak hanya menghadirkan calon tunggal. Bahkan, apabila itu terwujud tentu akan menjadi bagian pesta demokrasi di internal partai berlambang pohon beringin tersebut.

Baca Juga: Pilkada Tangsel 2020, Golkar Disebut Bakal Usung Andiara Aprilia

“Kalau semua partai itu munasnya atau kongresnya hanya formalitas ketok palu, ya enggak ada gunanya juga bikin partai, karena orangnya itu-itu saja,” kata Adi di Jenggala Center, Jakarta, Jumat 22 November 2019.

Lebih lanjut, dikatakan Adi, pertumbuhan struktural kekuatan politik Golkar terletak pada tokoh yang begitu banyak, seperti Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Airlangga Hartarto, hingga Aburizal Bakrie. Hal tersebut terlihat ketika kader Golkar tersandung kasus korupsi menjelang berlangsungnya Pemilu 2019. Namun, kasus tersebut ternyata tidak berimplikasi besar pada hasil suara Golkar.

Dijelaskan Adi, bahwa ini berbeda dengan partai lain, misalnya PPP. Karena, ketika Ketua Umum PPP Muchammad Romahurmuziy terjerat kasus korupsi jelang Pemilu 2019, suara PPP justru mengalami penurunan. Fakta tersebut menggambarkan bahwa kekuatan tokoh-tokoh di Golkar terbangun masif.

Baca Juga: Kader-Kader Senior Golkar Bali Dukung Bamsoet, Ini Alasannya

“Arena anatomi struktur Golkar terletak pada figur yang berpenetrasi di bawah, termasuk pula kekuatan struktur yang kemudian terbangun masif,” jelas Adi.

Sementara sebelumnya, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto yang disebut-sebut bakal kembali menjadi caketum, melempar sinyal bahwa pemilihan ketua umum Golkar yang baru dapat dilakukan secara aklamasi.

Namun, disisi lain Bambang Soesatyo mengatakan pemilihan ketua umum partai secara aklamasi berpotensi memecah belah partai. Karena, dalam tubuh Golkar, mekanisme aklamasi ini terbukti pernah membagi partai menjadi dua kubu.

“Tapi yang pasti kita punya pengalaman pahit, pemaksaan aklamasi itu membuat kita pecah dan kita pernah pecah ada (kubu) Ancol dan (kubu) Bali. (Kubu) Bali itu kan pemaksaan aklamasi yang melahirkan (kubu) Ancol,” kata Bambang Soesatyo. {www.harianpijar.com}

fokus berita : #Adi Prayitno #Bambang Soesatyo


Kategori Berita Golkar Lainnya