28 November 2019

Berita Golkar - Airlangga Hartarto tengah bersiap melanjutkan masa jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar melalui Munas Desember mendatang. Jika terpilih, Airlangga berstatus rangkap jabatan. Sebab, Presiden Jokowi menunjuknya sebagai Menko Perekonomian.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina memprediksi rangkap jabatan Airlangga berpotensi memicu sentimen negatif dari masyarakat. Dia menilai Airlangga akan kehilangan independensi sebagai Menko Perekonomian. Padahal, hal tersebut menjadi kebutuhan dasar yang harus dimiliki Menko Perekonomian jika ingin memperbaiki kondisi ekonomi negara.

Baca Juga: Pengamat Nilai Pelaku Bisnis Bakal Bereaksi Negatif Bila Airlangga Ngotot Rangkap Jabatan

"Idealnya kan laga politik (sebagai ketua umum parpol golkar) harus bisa dihindari ketika menjaga independensi sebagai Menko. Riset hampir selalu bisa membuktikan bahwa akan muncul sentimen negatif masyarakat terhadap dualisme atribut seperti ini," kata Fitria kepada wartawan, Kamis (28/11).

Sebagai catatan, kata Fitria, tugas Airlangga sebagai Menko Perekonomian tidak mudah. Dia harus bisa menjamin keberadaan iklim investasi yang mendukung untuk masuknya calon pemodal ke Indonesia.

Airlangga juga harus mampu mengejawantahkan pesan Presiden Joko Widodo agar Indonesia mampu bertahan menghadapi ancaman resesi global mulai tahun depan. Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri dalam negeri, Airlangga harus fokus dan menunjukkan komitmen siap bekerja secara independen sebagai Menko Perekonomian.

Baca Juga: Sambangi Kantor PBNU, Bamsoet Dapat Restu dan Doa Para Kiai NU Jadi Ketum Golkar

"Justru karena itu butuh komitmen. Merangkap jabatan itu kan bukti bahwa tata kelola sebuah lembaga goyah. Kayak enggak ada orang saja yang kompeten. Apalagi ini kan enggak linier demand politik dan strategi kenegaraan kan bisa sangat jauh berbeda dalam kontribusi terhadap kemaslahatan bangsa dan negara," katanya.

Ketum Golkar Jabatan Sosial

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia menegaskan tidak masalah jika ada menteri yang rangkap jabatan sebagai ketua umum partai politik. Sebab, dalam UU tersebut tidak dijelaskan spesifik bahwa menteri dilarang rangkap jabatan sebagai ketua umum partai politik.

Golkar memiliki dua jabatan menteri di kabinet. Di antaranya Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Baca Juga: Kader Golkar Milenial, Achmad Annama Jadi Pendaftar Pertama Caketum Golkar

"Dalam UU (Kementerian) negara itu adalah yang enggak boleh rangkap jabatan negara. Misal Gubernur rangkap menteri. Kemudian dua menteri misalnya Gubernur merangkap menteri. Dia sebagai Menteri Agraria merangkap Menteri Dalam Negeri, itu rangkap sesama jabatan di pemerintahan," kata Doli.

Rangkap Jabatan Tak Ganggu Tugas Menteri

Doli menegaskan, rangkap jabatan antara menteri dan ketua umum partai politik tidak akan mengganggu kinerja sebagai menteri untuk mengabdi pada masyarakat. Terlebih lagi, lanjutnya, Presiden juga tidak masalah dengan rangkap jabatan tersebut.

"Saya kira Pak Presiden kan menteri ini kan pembantu Pak Presiden, presiden sudah menegaskan tidak ada persoalan dengan rangkap jabatan dan dia punya pengalaman selama ini bahwa ketum parpol di dalam kabinet sebelumnya bisa berjalan dengan baik melaksanakan tugasnya sekalipun dia ketum partai," ucapnya.

Baca Juga: Ahmadi Noor Supit Tuding Munas 2019 Terburuk Sepanjang Sejarah Golkar, Ini Alasannya

Berikut Bunyi Pasal 23 UU Kementerian Negara:

Menteri dilarang merangkap jabatan sebagai:

a. pejabat negara lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

b. komisaris atau direksi pada perusahaan negara atau perusahaan swasta; atau

c. pimpinan organisasi yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. {www.merdeka.com}

fokus berita : #Fitria Husnatarina #Airlangga Hartarto #Doli Kurnia


Kategori Berita Golkar Lainnya