30 November 2019

Berita Golkar - Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha meminta Partai Golkar menggelar debat adu gagasan bagi calon Ketua Umum di Musyawarah Nasional (Munas). Debat adu gagasan caketum pernah digelar saat pelaksanaan Munas Golkar pada 2016.

"Saya teringat menjelang munas sebelumnya ada tarung gagasan pada saat itu dibikin di Surabaya, Denpasar, saya panelisnya. Nah, harapannya, dalam beberapa hari ini Golkar memberikan tradisi politik bagus dan baru di Indonesia pada saat itu," kata Hanta Yudha dalam diskusi bertema 'Munas X Partai Golkar: Harapan & Tantangan Partai Golkar Pada Munas 2019', Sabtu (30/11/2019).

Baca Juga: Pengamat Ini Nilai Partai Lain Diuntungkan Bila Airlangga Terpilih Lagi Jadi Ketum Golkar

Menurut Hanta, debat adu gagasan caketum itu harus diikuti minimal dua kandidat. Tujuan debat itu untuk memberikan hal positif kepada masyarakat.

"Apakah menjelang munas yang tinggal hitungan hari ini ada semacam tontonan atraktif dan positif bagi masyarakat Indonesia, yaitu tarung gagasan debat caketum. Tapi kalau calonnya cuma satu, bagaimana mau didebatkan, minimal dua. Jadi itu, Golkar sudah memulai tradisi lima tahun yang lalu, mudah-mudahan dilanjutkan di Munas 2019," jelas dia.

Hanta berharap pelaksanaan Munas Golkar digelar secara demokratis dan transparan. Selain itu, dia menyebut pemilihan Ketum Golkar pasti ada pengaruh pihak eksternal atau pemerintah. Sebab itu, ia berharap pemilihan Ketum Golkar menjadi pilihan pihak internal, bukan eksternal.

Baca Juga: Munas Golkar Selalu Rawan Diintervensi Pemerintah?

"Sejak Munas Golkar 1998, kita tidak bisa menyangkal pengaruh eksternal kekuasaan sangat besar. Siapa yang menjadi Ketum Golkar sangat ditentukan oleh faktor di luar Golkar itu sendiri. Mudah-mudahan munas kali ini tantangan sekaligus harapan saya, apakah Golkar mampu memilih ketumnya adalah pilihan internal Golkar," ujar Hanta.

Pasca-Munas, Hanta berharap Golkar bisa menjadi partai politik yang mendapatkan kursi terbanyak pada Pemilu 2024. Saat ini perolehan Golkar mengalami penurunan sejak Pemilu 2009.

"Bagaimana Golkar mengembalikan tren kursinya yang catatan saya dari Pemilu 2009, tahun 2014, tahun 2019 itu jumlah kursinya tren turun, belum pernah naik Golkar. Pasca-Reformasi kalau sekarang tidak begitu banyak penurunan. Nah bagaimana ketum baru, siapa pun terpilih itu membalik trennya kursi Golkar naik. Itu dia akan memiliki catatan," tutur dia. {news.detik.com}

fokus berita : #Hanta Yudha


Kategori Berita Golkar Lainnya