30 Desember 2019

Berita Golkar - Komisi IV DPR RI mendorong pemerintah mengevaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk mengatasi konflik antara manusia dan hewan.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi berpendapat evalusi RTRW sangat penting dilakukan secara serentak dari pusat ke daerah. Termasuk melihat wilayah-wilayah mana yang perlu dirambah. "Kita harus bisa menghitung dari sekarang, berapa luasan untuk harimau, buaya dan hewan lain," katanya.

Ia juga bakal mendorong Kementerian ATR/BPN mengambil langkah komprehensif dan mengkaji secara mendalam tentang konservasi sumber daya alam yang harus segera diselamatkan. "Karena ada kecemasan saya dalam jangka panjang, kalau di habitat mereka semakin mati, kita nanti punya apa," katanya.

Baca Juga: Hetifah Minta Kemendikbud Gelar Pendidikan Nonformal Kolaborasi dengan Swasta

Sebab, menurut Dedi, konflik harimau atau buaya dengan manusia tak bisa diatasi dengan cara represif dan temporer.

Masalah ini harus antisipasi untuk jangka panjang. Penangkapan terhadap harimau misalnya, tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan bisa jadi memperparah. "Dalam pandangan saya, sikap reresif akan menimbulkan dendam bagi harimau dan manusia," katanya.

Hewan-hewan itu harus selamat saat ditangkap dan dikembalikan ke habitat mereka. Rantai makanan mereka juga harus segera dipulihkan.

Dedi menyebut Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) baik nabati maupun hayati. Jika itu tak dijaga, bukan tidak mungkin kekayaan itu akan hilang.

Baca Juga: Bambang Soesatyo Minta Pemerintah Lebih Hati-Hati Kelola Ekonomi Tahun 2020

Sumber daya alam (SDA), kata dia, harus dijaga untuk menjamin kedaulatan pangan dalam jangka panjang, sehingga bangsa Indonesia tidak bisa didikte oleh negara lain. Misalnya ketika diembargo misalnya, kita masih survive.

"Berbeda dengan negara di jazirah Arab, sebanyak apa pun uang kita, ketika negara lain melakukan embargo suplai makanan, kita akan mati," katanya.

Jika ekosistem hutan, laut, sungai, sawah, lembah, dan rawa hilang manusia akan bergantung pada makanan produk industri. Jika itu terjadi kekuatan daya tahan masyarakat akan menurun.

Sebab, secara tak langsung alam memberikan sumbangsih bagi kehidupan manusia. Termasuk rantai makanan dan ketahanan ekonomi. Para petani, nelayan dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan memiliki daya tahan alam. "Itu sumbangsihnya bisa ribuan triliun rupiah setiap tahun," ungkapnya.

Baca Juga: Melki Laka Lena Siap Perjuangkan Sarana dan Tenaga Medis RSUPP Betun, Malaka

Contohnya, kata dia, misalnya seorang petani mengganti lauk pauk yang dikonsumsi. Daging dan ikan diganti dengan belut sawah, tutut, dan ikan sungai.

Kemudian sayur-mayur yang biasa beli di pasar dengan memetik daun-daunan di lingkungan sendiri. "Kalau ada paling kecil Rp 50.000 dalam setiap hari dan ada 10 juta masyarakat yang hidup di pedesaan, berapa triliun uang petani yang disubsidi oleh alam?" katanya.

Orang desa zaman dulu juga bisa bertahan hidup meski mempunyai banyak anak tanpa menjual sawah. Mereka bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan menggarap sawah. "Itu karena sumbangsih alam," katanya. {regional.kompas.com}

fokus berita : #Dedi Mulyadi


Kategori Berita Golkar Lainnya