15 Januari 2020

Berita Golkar - Bendahara DPD I Golkar Riau Maryenik resmi ditetapkan sebagai bakal calon wakil Bupati Kampar untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Dipilihnya nama Maryenik tentu mengejutkan semua pihak.

Sekretaris DPD I Golkar Riau Rizaldi AM Abrus menjelaskan banyak pertimbangan partai Golkar untuk menunjuk Maryenik jadi calon Wabup. Diantaranya pertimbangan Maryenik kader terbaik di Golkar. "Ya yang pertama beliau bersedia dan beliau juga salah satu kader terbaik golkar sekarang ini," ujar Rizaldi AM Abrus Selasa (14/1/2020).

Rizaldi juga menambahkan, pertimbangan yang lain melihat track record Maryenik diberbagai organisasi tidak diragukan lagi dan dianggap berhasil memimpin organisasi. "Organisasinya kan banyak dan pengalamannya berorganisasi bagus ditambah lagi dia sukses dalam berorganisasi itu," ujarnya.

Baca Juga: Lima Partai Politik Ini Bakal Usung Neni Moerniaeni di Pilkada Bontang 2020

Terpenting lagi Maryenik juga putri asli kampar dan keluarga besarnya di Kampar. Apalagi dari sisi keluarga juga Maryenik dihormati di Kampar.

"Jadi Golkar anggap pas jika beliau mengabdi untuk kampung halamannya dan rapat pleno Kampar secara resmi kemarin mencalonkan beliau sebagai calon tunggal untuk mengisi kekosongan Wabup Kampar," jelasnya.

Maryenik Siap Dipilih Jadi Wabup Kampar

Bendahara DPD I Golkar Riau Maryenik mengaku siap bila nanti ditetapkan menjadi wakil Bupati Kampar untuk mendampingi Catur Sugeng. Hal ini setelah Golkar menunjuk dirinya sebagai calon Tunggul untuk diajukan partai Golkar menjadi Wabup Kampar.

"Sebagai kader partai yang baik tentunya kita siap menjalankan amanah dari partai, dan InsyaAllah jika nanti ditetapkan jadi Wabup juga saya siap bersinergi dengan pak Catur," ujar Maryenik, Selasa (14/1/2020).

Baca Juga: Airlangga Dan Tim Formatur Finalisasi Susunan DPP Golkar, Bamsoet Pasti Jadi Waketum

Maryenik mengakui dirinya dipilih menjadi calon Wabup Kampar karena tidak ada nama yang mau maju, seperti nama sebelumnya Masnur tidak berniat maju, kemudian Ahmad Fikri juga tidak bersedia. "Makanya saya diajukan untuk maju tunggal, dan pengajuan nama sebelumnya (Repol dan Ahmad Fikri) sudah dicabut, jadi tinggal nama saya," ujar Maryenik.

Maryenik sendiri mengaku merupakan putri asli Kampar yang berasal dari Siak Hulu, sehingga syarat yang diminta masyarakat harus bisa berbahasa daerah ocu bisa dipenuhinya.

"Saya juga pada pleno penetapan saat memberikan sambutan sampaikan dengan bahasa ocu, jadi saya orang Kampar yang siap untuk membangun daerah saya," jelas Maryenik yang merupakan anak almarhum Maimanah Umar itu.

Dirinya terus melakukan komunikasi dengan pihak lain termasuk dengan sejumlah partai pengusung sebelumnya (Aziz Zainal-Catur). Bahkan dirinya sudah komunikasi dengan ketua DPD Gerindra Riau Nurzahedi Tanjung dan Ketua DPW PPP Riau Mursini.

Baca Juga: Balon Walikota Dari Golkar, Ngurah Agung Ingin Satukan 3 Puri Segitiga Emas Denpasar

"Tentunya semua dikomunikasikan, apapun kondisinya bisa diselesaikan dengan komunikasi," jelas Maryenik terkait adanya perebutan posisi Wabup itu dari PPP.

Sebagai politisi perempuan, Maryenik mengaku tidak akan menjadi penghambat bagi dirinya untuk mengabdi ke daerah. Apalagi saat ini banyak kaum perempuan yang sudah menjadi pemimpin di daerah lain.

"Yang jelas sekarang perempuan juga bisa menjalankan tugas sebagai pemimpin, dan banyak pemimpin hebat juga di daerah lain," ujarnya.

Baca Juga: Gelar Musda se-Kaltim, Tito Sugiarto Sebut Untuk Rapikan Struktur Hingga Kabupaten Kota

Maryenik sendiri sejak munculnya berita dirinya diusung Golkar untuk jadi calon Wabup, dirinya sudah banyak menerima ucapan selamat dari masyarakat dan teman-temannya di Riau. "Ini baru selangkah, tapi sudah banyak yang mengucapkan selamat," ujarnya.

Gerindra Juga Ambisi Posisi Wabup Kampar

Sekretaris DPD Gerindra Riau, Hardianto mengatakan partai Gerindra menginginkan agar posisi Wabup Kampar tersebut segera diisi. Terkait posisi siapa dipilih menurutnya jatah dari partai Gerindra. Saat ini banyak partai berebut posisi Wabup yang masih kosong tersebut.

"Kalau bicara partai koalisi, kalau berbicara Gerindra, sebenarnya ini kan antriannya untuk Gerindra lagi. Kemaren bupatinya PPP, wakil Golkar, nah untuk diketahui dari 6 partai pengusung Azis Catur pada 2017 lalu, Gerindra merupakan partai yang memiliki kursi kedua terbanyak setelah Golkar, kami memiliki 5 kursi di periode 2014-2019," ujar Hardianto, Senin (14/1/2020).

Terkait beberapa partai berebut kursi Wabup tersebut, Hardianto berharap agar para partai koalisi diluar Gerindra tidak perlu ngotot, dan sebaiknya duduk semeja bersama - sama, bicarakan baik-baik.

Baca Juga: Muhammad Fauzi Minta Perhatian Khusus Kemensos dan BNPB Untuk Korban Banjir Sulsel

"Nah kalau Gerindra berbicara ego, seharusnya untuk Gerindra karena dilihat dari proporsionalnya. Tapi terlepas dari Gerindra juga punya ambisi, tapi untuk masyarakat Kampar, dan demi jalannya struktur pemerintahan, mari duduk semeja, kalau perlu ditentukan kriterianya seperti apa," jelas Hardianto lagi.

Hardianto juga dengan tegas tidak ada maksud menyinggung partai manapun termasuk Golkar, tapi karena Catur Sugeng sudah representasi Golkar tentuk partai pengusung yang lain yang belum dapat jatah yang berembuk untuk posisi wakil.

"Kan nanti ada bergaining politik, sehingga dapat win - win solution dan tidak ada pihak yang dirugikan," ujar Hardianto.

Baca Juga: Elektabilitas Tinggi, Rekomendasi Golkar di Pilgub Bengkulu Pasti Untuk Rohidin Mersyah

Sementara mengenai partai koalisi lain PPP yang berharap banyak agar posisi wabup Kampar kembali ke PPP setelah meninggalnya Azis Zaenal, karena menurut PPP hal itu sebagai etika politik, Hardianto mempertanyakan etika tersebut.

"Kalau ada yang berkata itu harus dia (PPP), dan harus didapatkannya tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut. Karena kembali kepada kesepakatan, kalau Gerindra mengedepankan ego karena kami 5 kursi mau apa? Nah untuk itu memang yang terpenting adalah kesepakatan," ujar Hardianto.

Bagi Hardianto, nantinya bila sudah ada kesepakatan, meskipun bukan dari partai Gerindra, mereka siap menerima keputusan yang disepakati tersebut.

"Kami tidak ada masalah, asal ini kesepakatan. Politik ini kan win - win solution, tak boleh ambisi partai politik mengorbankan masyarakat. Saya mendorong agar duduk bersama dan berembuknya ini segera dilakukan, jangan lama sendiri bupatinya," jelas Hardianto. {pekanbaru.tribunnews.com}

fokus berita : #Maryenik #Rizaldi AM Abrus


Kategori Berita Golkar Lainnya