20 Januari 2020

Berita Golkar - Bupati Batang, Wihaji berusaha memperjuangkan nasib guru Paud sesuai dengan standar pelayan minimal (SPM). Oleh karenanya, tahun ini Pemkab Batang menganggarkan total Rp9.05 Milyar untuk kesejahteraan guru Paud.

Pemkab Batang tahun ini masih menganggarkan Bosda Personalia untuk guru paud yang ada di Batang. Dimana besarannya mulai Rp250-375 Ribu per bulan untuk pendidik lulusan S1 sesuai dengan jurusan dan masa pengabdian. Dimana total anggaran yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 5.3 Milyar.

Baca Juga: Wihaji: Menata Wajah Kota, Membahagiakan Warganya

Sementara untuk Guru Pendamping yang berijazah SMA pemerintah memberikan bantuan hibah transport yang diambilkan dari 50 persen Hibah BOP Paud. Dimana di tiap sekolah mendapatkan jatah Rp120 Ribu per siswa per tahunnya. Dengan total BOSDA Non Personalia dalam Hibah BOP PAUD mencapai Rp3,75 Milyar.

“Ini merupakan kebijkan Pemerintah pusat yang harus kita ikuti. Karena regulasi tersebut tentang SPM yang mensyaratkan pendidik minimal sarjana atau S1. Sesuai dengan Permendagri 100 Tahun 2018 tentang SPM dan Permendikbud 32 Tahun 2018, Sehingga kalau kita anggarkan honorarium guru yang tidak sesuai dengan syarat standar minimal dianggap melanggar regulasi,” jelasnya.

Meski begitu tahun 2021 nanti, Wihaji akan berusaha memikirkan solusi terbaik untuk guru pendamping yang masih berijazah SMA ini. Sehingga ke depan honor yang didapatkan dapat bertambah dan bisa lebih sesuai dengan perjuangan dan pengorbanan guru Paud yang telah berkontribusi mencerdaskan generasi emas Batang.

Baca Juga: Muhammad Fauzi Tegas Tolak Pemangkasan Uang Saku Jemaah Haji 2020

Mewakili guru Paud, Ketua Himpaudi Batang, Hanik Triwidyaningsih berharap ada solusi pemerintah terkait tunjangan guru Paud. Khususnya untuk yang saat ini statusnya masih menjadi lulusan SMA. Pasalnya saat ini mereka juga tengah berjuang untuk melanjutkan pendidikan S1 Paud.

“Kami terima perbup yang telah mengatur besaran anggaran untuk tahun ini. Namun kami berharap ke depannya ada solusi untuk rekan kami yang masih berijazah SMA. Apalagi mereka kini juga masih berjuang melanjutkan S1."

"Masih ada kurang dari 50 persen atau sekitar 422 guru yang belum S1. Kami harap ada perhatian lebih dari pemerintah, untuk terus memberikan semangat pengabdian rekan-rekan kami,” pungkasnya. {radarpekalongan.co.id}

fokus berita : #Wihaji


Kategori Berita Golkar Lainnya