29 Januari 2020

Berita Golkar - Gema memunculkan calon tunggal di Pilkada Blora 2020 semakin santer. Golkar Blora bahkan secara blak-blakan menyatakan menginisiasi calon tunggal di Pilkada yang hari H pemungutan suara tanggal 23 September 2020 mendatang itu.

''Golkar memang menginisiasi calon tunggal di Pilkada Blora 2020 mendatang,'' tandas Ketua DPD Partai Golkar Blora, Siswanto Spd, Selasa (28/1).

Menurutnya, calon tunggal secara regulasi dibolehkan, sehingga sangat memunginkan di Pilkada 2020 nanti calon hanya satu pasang sementara lawannya bumbung kosong.

Baca Juga: Viral Fotonya Duet Dengan Salim Sehan Untuk Pilgub Sulut 2020, Ini Tanggapan Tetty Paruntu

 

''Secara regulasi dibolehkan dan memungkinkan, di Pilkada 2020 lawannya bumbung kosong. Secara yuridis formal dan aturan Pilkada boleh, nantinya yang mendapatkan suara lebih dari 50 persen menang,'' tandas Siswanto yang salah satu Wakil Ketua DPRD Blora itu.

Dikemukakan Siswanto, kebutuhan Pilkada itu besar, baik mulai sosialisasi, menjelang coblosan, publikasi dan lainnya. Kalau dalam perhitungannya calon Bupati minimal butuh biaya sekitar Rp 25 Milliar.

Sementara itu jika nantinya calon tunggal, cukup sosialisasi sehingga tidak perlu banyak uang yang dikeluarkan. Dampak positifnya setelah jadi seorang Bupati tidak akan ngoyo berpikir untuk mencari pengembalian.

Baca Juga: Responsif Atasi Banjir Kota Bandarlampung, Yuhadi Puji Lurah dan Camat Kedamaian

''Calon jadi  akan berpikir lebih jernih dalam pembangunan. Untuk itu saya menyarankan calon tunggal, sehingga Pilkada Blora nantinya murah dan tetap berkualitas,'' papar Siswanto yang di beberapa kali survey kandidat calon bupati dan wakil bupati Blora versi medsos rangkingnya cukup tinggi itu.

Membenarkan

Sementara itu terpisah, Ketua DPC PDI-P Blora, H. Dasum ketika dikonfirmasi tidak menampik jika pihaknya juga menginisiasi calon tunggal di Pilkada Blora 2020. ''Ya memang, saat ini kami terus melakukan komunikasi dengan sejumlah partai politik lainnya,'' jelasnya.

Salah satu pertimbangannya, demikian Dasum yang saat ini menduduki kursi Ketua DPRD Blora itu, jika nantinya terwujud calon tunggal di Pilkada, tentu kondusivitas wilayah akan terjamin.

 

Baca Juga: Menko Airlangga Ungkap Virus Wuhan Pengaruhi Kunjungan Turis China ke Indonesia

Jika ada kaca mata lain, misalnya adanya pihak-pihak yang menentang upaya memunculkan calon tunggal tersebut ? Menurut Dasum yang berhasil menjadi nahkoda PDI di Blora sehingga memperoleh kursi terbanyak di DPRD, masalah beda kaca mata atau beda pendapat itu hal yang wajar.

''Hal itu wajar kalau ada beda pendapat, hanya saja latar belakang kami untuk menginisiasi calon tunggal di Pilkada itu semata-mata faktor kondusifitas wilayah. Termasuk faktor murahnya biaya sehingga nantinya bagi calon yang jadi tidak terbebani,'' tambah Dasum.     

Senada dengan Dasum, Siswanto menambahkan, kondusivitas wilayah itu penting. Sehingga pembangunan suatu wilayah, baik pembangunan hubungan antar manusia, kualitas manusia, termasuk pembangunan fisik bisa berjalan dengan baik.

 

Baca Juga: Pilbup Serang 2020, Pandji Tirtayasa Ingin Terus Dampingi Ratu Tatu Chasanah

Menurutnya, saat ini gejala gesek menggesek antara elit politik sudah mulai nampak dan muncul. Dampaknya, bagian-bagian dan elemen-elemen masyarakat juga merasakan akibatnya.

Semakin mendekati waktu pemungutan suara, mesti dinamika itu akan semakin kencang. Untuk itu, Siswanto mengusulkan para politisi di tingkat elit di Blora bisa bertemu, silaturahim, untuk komunikasi perihal Pilkada bisa kondusif.

''Salah satu kondusifitas itu adalah ketika ada persatuan kesatuan, salah satunya bisa diwujudkan dengan mengusung calon tunggal,'' pungkas Ketua Golkar Blora. {www.suaramerdeka.com}

fokus berita : #Siswanto


Kategori Berita Golkar Lainnya