08 Maret 2020

Berita Golkar - Pemerintah meminta industri nasional menyerap 1,5 juta ton garam petani lokal mulai pertengahan tahun ini. Hal ini dilakukan guna mengangkat harga garam yang anjlok dalam beberapa waktu terakhir.

Sebagai gambaran, tahun lalu, harga garam masih di atas Rp1.000 per kilogram (kg) tetapi kini harganya di bawah Rp800 per kg. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan permintaan tersebut merupakan hasil rapat koordinasi bersama antar kementerian.

Keputusan ini sudah diterima oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perindustrian. "Tahun kemarin (serapan) 1,1 juta ton, target tahun ini dinaikkan ke 1,5 juta ton," ujar Airlangga, Jumat (6/3).

 

Baca Juga: Tanpa Pancasila, Bamsoet Sebut Indonesia Takkan Pernah Jadi Satu

Kendati begitu, Airlangga mengatakan penyerapan garam petani lokal oleh industri akan dilakukan sepanjang Juni 2020 hingga Juni 2021. Hal ini sesuai dengan kebijakan penyerapan yang biasa dilakukan mulai pertengahan tahun.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengaku industri tidak akan keberatan dengan keputusan pemerintah. Sebab, kebijakan ini sebenarnya sudah disepakati sejak tahun lalu dan hanya tinggal diteruskan ke tahun ini.

Bahkan, sambungnya, para industri yang berbahan baku garam telah mendatangi perjanjian kerja sama penyerapan dengan para petani garam lokal. Kementerian Perindustrian merupakan fasilitator kesepakatan antar kedua pihak.

Baca Juga: Bahrul Ulum Paparkan Fokus Golkar Banten Menangkan 4 Pilkada Serentak 2020

"Kami sangat menyambut baik karena itu sebenarnya bukan hal baru. Kami memang mewajibkan industri pengguna garam untuk membeli garam dari petani di Indonesia," ucap Agus.

Namun demikian, Agus meminta agar kualitas garam petani lokal tetap disesuaikan dengan kebutuhan industri. Salah satunya, garam harus berkadar NaCI mencapai 98 persen.

"Tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Jadi tidak apa ada peningkatan dari sisi kuantitas, tapi tentu spesifikasinya harus yang dibutuhkan industri," ungkapnya.

Baca Juga: Jelang Musda Golkar NTB, Sari Yuliati Klaim Didukung Sembilan Pemilik Hak Suara

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan akan memenuhi kriteria kebutuhan garam industri. Caranya melalui penggunaan biomembran yang merupakan selaput pemisah antara air laut dan tanah.

Dengan begitu, garam yang dihasilkan bisa lebih murni dan berkadar NaCI lebih tinggi. Saat ini, menurut catatannya, sudah ada tujuh ribu dari 27 ribu hektare (ha) luas tambak garam yang menggunakan biomembran.

"Kualitas garam akan ditingkatkan dengan pola biomembran, biomembran kan jadi ada plastiknya. Jalan lain, termasuk melakukan pengadaan gudang bagi masyarakat tambak," kata Edhy.

Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Budhy Setiawan Dialog Bareng Para Penyuluh Pertanian di Cianjur

Edhy berharap penyerapan garam petani lokal oleh industri bisa mengangkat harga komoditas yang melemah dalam beberapa waktu terakhir. Sebab, secara teori ekonomi, harga bisa meningkat bila permintaan naik.

"Iya benar (harga jatuh sekarang), ini harus dicari jalan keluarnya. Harga jatuh karena tingginya harga angkut karena jalan tidak ada, jadi harus dicari jalan keluarnya," tuturnya.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan stok bahan baku garam industri mulai menipis. Pengusaha memperkirakan stok yang ada sekarang hanya cukup untuk produksi sampai akhir bulan ini.

Karenanya, Gapmmi mengajukan impor bahan baku garam industri sebanyak 560 ribu ton untuk tahun ini. {www.cnnindonesia.com}

fokus berita : #Airlangga Hartarto #Agus Gumiwang Kartasasmita


Kategori Berita Golkar Lainnya