14 Maret 2020

Berita Golkar - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (  Wagub NTT),  Josef Nae Soi mengimbau warga Kabupaten Sikka jangan panik berlebihan setelah mengetahui enam pelajar baru pulang dari Jepang. Keenam siswi SMAK Frateran Maumere yang mengikuti program pertukaran pelajar Asia Kakehashi Project telah melewati pemeriksaan kesehatan sesuai standar WHO (World Health Organization).

"Kalau kita waspada itu penting, tetapi kewaspadaan bukan untuk kemudian jadi kepanikan yang berlebihan. Keenam anak kita itu, telah melewati pemeriksaan kesehatan dengan standar WHO," kata Wagub Josef ketika dikofirmasi, Jumat (13/3) malam.

"Memang sesuai aturan mereka tidak boleh berinteraksi dulu selama 14 hari. Waktu 14 hari itu adalah waktu untuk pengawasan dan observasi oleh petugas kesehatan," tambahnya.

Baca Juga: Melki Laka Lena Dorong Pemerintah Transparan Terkait Daerah Sumber Corona

Menurut Wagub Josef, sejak keluar dari Jepang, keenam siswi itu telah mengikuti semua tahapan pemeriksaan sesuai standar WHO.

"Baik itu, observasi atau pemeriksaan kesehatan, anak-anak kita itu taat dan mengikuti semua prosedur. Mereka telah dinyatakan negatif Covid-19 atau sehat sehingga bisa terbang kembali ke Indonesia, NTT," ujar Wagub Josef.

Mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar ini mengingatkan warga tetap mewaspadai dengan menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. "Waspada ok, tapi tidak usah panik. Saya baru pulang dari Equador bersama istri dan juga anak-anak dari Sumba Timur dan kami tetap sehat," imbuhnya.

Menurutnya, virus Corona mirip seperti flu biasa sehingga dapat diatasi juga dengan mengkonsumsi makanan bergizi, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. "Kalau ada kelor di pekarangan rumah, saya anjurkan makan kelor. Begitu juga kalau ada daun pepaya juga silakan makan," ucapnya.

Baca Juga: Cegah Wabah Corona, Azis Syamsuddin Minta Pemerintah Perketat Tiap Pintu Masuk Batas Negara

Wagub Josef mengutarakan, ada ahli yang mengatakan jika stamina tubuh seseorang kuat atau fit dan apabila ada virus Corona, maka virus itu dengan sendirinya mati. "Jadi ketahanan tubuh penting agar dapat menghalau atau membunuh berbagai virus yang masuk ke dalam tubuh," tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, memastikan enam siswa SMAK Frateran (Smater) Maumere negatif Corona. "Enam anak yang barusan pulang dari Jepang itu negatif Corona. Mereka bebas dari Corona," tegas Herlemus di Maumere, Jumat (13/3).

Ia menjelaskan, keenam siswi ketika keluar dari Jepang menjalani screening dari petugas Bandara Internasional Jepang.

Baca Juga: Bamsoet Optimis Jokowi Mampu Atasi Wabah Corona dan Perang Dagang

"Hasil screening oleh otoritas Jepang menunjukkan bahwa enam siswi itu bebas dari Corona. Begitu pula ketika tiba di Jakarta, mereka di-screening dan hasilnya negatif. Tiba di Bandara Frans Seda Maumere, petugas lakukan screening lagi dan hasilnya juga negatif. Jadi saya pastikan bahwa enam siswa Smater itu bebas dari Corona," papar Herlemus.

Meski negatif Corona, Herlemus mengatakan sesuai peraturan WHO, setiap orang yang pulang dari negara terinveksi Corona diwajibkan menjalani proses observasi selama 14 hari.

"Mereka berada di salah satu negara yang terinfeksi Corona, maka mereka diwajibkan diobservasi/dipantau oleh petugas selama 14 hari. Mereka tinggal di rumah masing-masing. Selama masa observasi, mereka dilarang melakukan komunikasi dengan dunia luar," ujar Herlemus.

Baca Juga: Suhaili FT Belum Mulus, Ahyar Abduh dan Sari Yuliati Masih Berpeluang Pimpin Golkar NTB

Sekretaris Dinas Kesehatan Sikka, dr Clara Francis menambahkan, masa karantina enam siswi hingga 23 Maret. "Untuk sementara semua terpantau dalam kondisi sehat. Belum ada yang melaporkan keluhan," katanya.

Ketua Yayasan Pusat Mardi Wiyata Malang, Frater M. Polikarpus, BHK menyatakan kebanggaannya terhadap enam siswinya.

"Saya bangga dengan anak-anak saya. Mereka telah mengharumkan nama Smater dan Sikka di Jepang selama enam bulan. Mereka berada di sana untuk menjalani pertukaran pelajar. Saya bersyukur dan sangat bangga karena mereka kembali ke Smater dengan selamat, sehat, dan bebas dari virus," kata Frater Polikarpus di Maumere, Jumat kemarin.

Menurutnya, enam siswi berangkat ke Jepang pada Agustus 2019. Ketika itu Frater Polikarpus masih menjabat kepala sekolah. Ia imbau publik tidak berlebihan menilai keenam siswinya, karena bisa berdampak negatif terhadap psikologis.

Baca Juga: Puteri Komarudin Harap RUU Omnibus Law Dibahas Secara Transparan, Inklusif dan Partisipatif

"Ketika telah selesai program pertukaran pelajar di Jepang dan harus kembali ke tanah air, mereka telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Jepang. Ketika tiba di Jakarta di-screening lagi, begitu pula setibanya di Bandara Frans Seda Maumere di-screening lagi," terangnya.

Dalam Pengawasan

Wakil Ketua DPRD NTT, Dr Inche DP Sayuna meminta agar keenam pelajar asal Sikka yang kembali dari Jepang harus terus dalam pengawasan pemerintah. Meskipun telah dipastikan negatif virua Corona, namun kewaspadaan perlu dilakukan.

Inche berharap masyarakat tidak boleh panik berlebihan, karena pemerintah sudah sangat siaga untuk mengantisipasi berbagai hal terkait dengan penanganan virus Corona.

Baca Juga: Sekda Laporkan Komentar Kadernya di Media, Golkar Bondowoso Bereaksi Keras

"Jadi terhadap enam pelajar asal Sikka, sekalipun sudah dipastikan negatif Corona tapi sebaiknya tetap ada dalam pengawasan. Di banyak kasus, sudah dikatakan negatif tapi kemudian beberapa diantaranya kemudian menunjukkan gejala," kata Inche, Jumat malam.

"Menurut saya, mereka harus ada dalam pengawasan khusus pihak rumah sakit sampai beberapa waktu. Pengawasan ini bertujuan untuk memantau gejala yang akan timbul kemudian," ujarnya.

Anggota DPRD NTT asal Kaupaten Sikka, Emanuel Kolfidus memberi ucapan proficiat untuk duta-duta asal Sikka. olitisi PDIP ini mengimbau agar tidak ada kepanikan pasca kepulangan enam siswi.

Baca Juga: Sambangi Ketua DPRD Sulsel, Pinto Jayanegara Sinergikan Kerjasama Ekonomi Dengan Jambi

"Kita ikuti penjelasan Kadis Kesehatan bahwa ke enam anak kita itu telah melalui prosedur pemeriksaan kesehatan sesuai standar WHO sejak di Jepang dan juga ketika tiba di Jakarta. Mereka dinyatakan sehat dan layak terbang. Karena itu, diharapkan tidak ada kepanikan, dan komentar yang tidak perlu," kata Emanuel.

"Namun demi kebaikan bersama, kita boleh menyarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka atas kerja sama dengan pihak orangtua dan keluarga untuk menindaklanjuti prosedur kesehatan WHO," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Jepang merupakan salah satu negara terserang virus Corona. Per awal Maret 2020, kasus virus Corona di Jepang tembus 1.000 kasus. Di antara 1.000 pasien, 12 orang dinyatakan meninggal dunia dan virus menyebar ke berbagai penjuru Negeri Sakura.

Baca Juga: Berprestasi dan Berjiwa Aktivis, Supriansa Dinilai Pantas Pimpin Golkar Sulsel

Penyebaran virus Corona turut membuat pemerintah Jepang membatalkan upacara peringatan gempa Tohoku yang jatuh pada 11 Maret. Pemerintah Jepang juga tidak membolehkan masyarakat berkumpul dalam jumlah besar. Sekolah-sekolah pun tutup dan banyak kantor menyarankan pegawai kerja dari rumah. {kupang.tribunnews.com}

fokus berita : #Josef Nae Soi


Kategori Berita Golkar Lainnya