17 Maret 2020

Berita Golkar - Juru Bicara penanganan COVID -19, Ahmad Yurianto menyatakan saat ini Indonesia memasuki status tanggap darurat virus corona yang merupakan level tertinggi dalam bencana wabah. Mengingat penyebaran virus yang sangat cepat dan diprediksi akan terus bertambah. 

Pemerintah pun secara resmi telah menetapkan pandemic Covid 19 sebagai Bencana Nasional pada Sabtu, (14/3/2020). Pemerintah juga membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang dipimpin langsung oleh Kepala BNPB Doni Monardo.

Meski demikian, pemerintah belum memutuskan untuk melakukan lockdown secara nasional. Karena menilai deteksi penyebaran virus masih terkendali dan masih bisa ditangani oleh infrastruktur kesehatan setempat.

Baca Juga: Wabah Corona, Bamsoet Dukung Imbauan Jokowi Agar Belajar, Bekerja, Beribadah di Rumah

Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi mendukung langkah pemerintah yang belum melakulan lockdown secara nasional. Sebagaimana diatur dalam UU No. 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Menurutnya, ada opsi-opsi seperti karantina atau isolasi terbatas yang saat ini kiranya dinilai lebih relevan dan efektif. Akan tetapi, politisi Golkar itu mengimbau pemerintah agar tetap bersiaga.

“Saya mendukung langkah pemerintah. Akan tetapi pemerintah juga perlu mempertimbangakan pendapat para ahli, kiranya nanti diperlukan lockdown yang sifatnya memaksa bukan hanya himbauan saja, tapi ada konsekuensi hukumnya,” ujar Bobby di Jakarta, Senin (16/3/2020).

Baca Juga: Atasi Wabah Corona, Idah Syahidah Minta Tim Gugus Tugas COVID-19 Segera Bekerja

Bobby menjelaskan, pemberlakuan lockdown tentu memiliki konsekensi yang besar, baik secara ekonomi maupun sosial. Seperti penangguhan hak-hak sipil, pembatasan transaksi, akses dan lain sebagainya. Jadi menurutnya, lockdown adalah opsi yang paling terakhir.

“Kita bisa ambil referensi dari Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan negara lainnya yang tidak memberlakukan lockdown dan dinilai berhasil menjaga dan melokalisir penyebaran dengan sistem deteksi dini,” pungkasnya.

Seperti dilansir dari beberapa media Singapura, keberhasilan Singapura dalam menekan pandemic COVID-19 adalah transparansi dan keterbukaan informasi oleh pemerintah. Mereka dinilai memiliki sistem efektif dalam mengidentifikasi setiap kasus virus corona.

Baca Juga: Hindari Wabah Corona, Puteri Komarudin Hentikan Sementara Kegiatan di Dapil

Pemerintah Singapura rutin memperbarui perkembangan setiap kasus corona yang baru maupun sembuh melalui situs resmi, mereka juga rajin mengedukasi publik dengan melakukan kampanye secara masif untuk memberi informasi kepada publik terkait cara sederhana, tetapi efektif untuk mencegah penyebaran virus.

Untuk Korea Selatan seperti dilansir dari South China Morning Post (SCMP), penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain pengujian massal, komunikasi publik, dan penggunaan teknologi.

Sedangkan Taiwan, sebagai negara yang memiliki jarak yang cukup dekat dengan asal pandemic memiliki jurus jitu mengatasi COVID-19. Para ahli menyatakan, respon cepat pemerintah Taiwan dan penerapan hukum kesehatan masyarakat memberikan kekuatan tambahan untuk mengalokasikan sumber daya.

Mereka yang meintegrasikan data dari asuransi kesehatan nasional dan bea cukai, sehingga mampu lebih efektif melakukan deteksi dini dari riwayat perjalanan pasien. {rilis.id}

fokus berita : #Bobby Rizaldi


Kategori Berita Golkar Lainnya