19 Maret 2020

Berita Golkar - Pemeriksaan maraton yang dilakukan penyidik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait korupsi proyek jalan di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau yang melibatkan Bupati Bengkalis Amril Mukminin terus berlanjut.

Pemeriksaan sudah dilakukan sejak awal pekan lalu, dengan dilakukan di dua lokasi, diantaranya di Kantor KPK di Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, maupun di Mako Satuan Brimob Polda Riau. Perkembangan pemeriksaan terbaru, pada Kamis (19/3/2020) ini, sejumlah nama kembali dipanggil untuk diperiksa, mereka berstatus saksi.

Setelah sebelumnya penyidik memeriksa mantan Ketua DPRD Bengkalis Abdul Kadir pada Rabu (18/3/2020) dan ajudan Amril Mukminin, Azrul Nor Manurung, pada Selasa (17/3/2020), kini giliran Indra Gunawan Eet, Ketua DPRD Riau periode 2019 - 2024 yang diperiksa penyidik KPK.

Baca Juga: Cegah Corona, Bamsoet Dukung Pemerintah Perketat Aturan Keluar Masuk WNA

Pria yang juga merupakan bakal calon Bupati Bengkalis itu, dipanggil untuk hadir di Gedung Merah Putih KPK di Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan. Terkait adanya pemeriksaan terhadap Eet ini, dibenarkan oleh Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi Tribun, Kamis siang. "Iya benar (pemeriksaan terhadap Eet)," jelas Ali.

Lanjut dia, Eet diperiksa dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan di Kabupaten Bengkalis, dari Fraksi Golkar periode 2009 - 2014. Eet dimintai keterangan sebagai saksi terkait dugaan penerimaan uang atau suap oleh Bupati Bengkalis non aktif, Amril Mukiminin yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus rasuah tersebut.

Dibeberkan Ali, Eet juga ditanyai terkait pengetahuannya tentang penerimaan sejumlah uang dalam proyek paket pekerjaan Jalan Duri-Sei Pakning. Pemeriksaan sekaligus untuk melengkapi berkas tersangka Amril Mukminin. "Untuk melengkapi berkas tersangka AMU (Amril Mukiminin)," kata Ali.

Baca Juga: Legislator Golkar Riau, Karmila Sari Bantu Rehabilitasi Mushola Syuhada di Panipahan

Untuk diketahui, Bupati Bengkalis non aktif, Amril Mukminin ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis. Besar suap yang diterima Rp 5,6 miliar.

Amril Mukminin sudah ditahan di Rutan Klas IA Jakarta Timur cabang KPK sejak 6 Februari 2020 lalu. KPK juga melakukan perpanjangan penahanan selama 40 hari. Sementara itu, pada Kamis ini, penyidik juga memeriksa sebanyak tujuh orang saksi lainnya.

Pemeriksaan terhadap ketujuh orang itu, dilakukan di Mako Satuan Brimob Polda Riau. Mereka diperiksa terkait proyek pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri (multiyears) di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau Tahun Anggaran 2013 sampai dengan 2015.

Baca Juga: Christina Aryani Ajak Masyarakat Patuhi Imbauan Jokowi Terkait Social Distancing

Ketujuh saksi itu diantaranya Jufren, Direktur CV Inayah Putri Perkasa, Nursita Nainggolan selaku Direktur CV Mitra Mahaga, Nikmatul Akbar, selaku pemilik atau Direktur PT Nikma Ismarta Kismareud.

Ada pula nama Kaharudin, selaku Direktur PT Raja Tawar Mula Jadi, Handi Baseri, selaku Direktur Utama PT Yanmarindo Perkasa, Dedy Haryadi selaku Direktur Utama PT Jaya Glassindo Abadi, serta Awang selaku Staf Teknis CV Maulana Creasindo Tama. "Pemeriksaan untuk tersangka DH dan HS," pungkas Ali Fikri.

Dirut PT TJA Bersama 5 Saksi Diperiksa KPK

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memeriksa sejumlah saksi terkait kasus korupsi proyek jalan di Kabupaten Bengkalis. Pemeriksaan dilakukan terhadap enam orang saksi, pada Rabu (18/3/2020).

 

Baca Juga: Imbas Corona, Bupati Juliyatmono Tutup Sejumlah Destinasi Wisata di Karanganyar

Mereka semua berasal dari kalangan swasta. Pemeriksaan mereka dilakukan untuk melengkapi berkas perkara tersangka Handoko Setiono (HSO). Sama seperti hari sebelumnya, pemeriksaan berlokasi di Mako Satuan Brimob Polda Riau, di Jalan KH Ahmad Dahlan.

Data yang disampaikan Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, adapun saksi yang dipanggil diantaranya terdiri dari Direktur PT Total Kinerja Mandiri (KTM) eks Komite Management PT WIKA-SUMINDO, JO), Agus Lita Tokiman dan Direktur PT Mitra Hijau Lestari, Budi.

Selanjutnya Kepala Produksi PT Mitra Beton Mandiri Andi Opsani, Staff Bagian Administrasi PT Surya Sukses Abadi tahun 2015 Joko Aji Darmawandi, Supervisor Penjualan PT Agung Automall Pekanbaru Cabang Sutomo Arie Benni dan Direktur Utama PT Teknik Jaya Abadi, Alimar.

Baca Juga: Machfud Arifin Sambangi Ketum Airlangga, Golkar Merapat ke Koalisi Gemuk di Pilwali Surabaya?

Disebutkan Ali Fikri, dari jumlah saksi itu, satu diantaranya tidak hadir memenuhi panggilan penyidik KPK. Untuk itu pihaknya akan mengagendakan ulang pemanggilan terhadap saksi yang tidak hadir. "Yang tidak hadir Joko Ali, nanti dipanggil ulang," katanya.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa sejumlah saksi terkait kasus korupsi proyek jalan di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Selasa (17/3/2020). Pemeriksaan dilakukan di Mako Satuan Brimob Polda Riau di Jalan KH. Ahmad Dahlan.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi Tribun menyebutkan, ada beberapa orang saksi yang datang untuk diperiksa. "Untuk pemeriksaan hari ini yang datang atas nama Ronaldo, Marjohan (UIR), Sugeng dan Miswarti," ungkapnya.

Baca Juga: Cegah Wabah Corona, Ace Hasan Minta Umat Islam Patuhi Fatwa MUI Shalat Jumat di Rumah

Untuk diketahui, sehari sebelumnya, penyidik KPK sudah memeriksa sebanyak 4 saksi. Pemeriksaan pada Selasa itu, adapun saksi yang datang atas nama Ronaldo, Marjohan (UIR), Sugeng dan Miswarti.

Selain itu, sebanyak 7 orang saksi juga diagendakan untuk diperiksa, guna melengkapi berkas tersangka atas nama Didiet Hadianto. Namun tidak semua saksi yang hadir memenuhi panggilan penyidik.

Tujuh saksi itu adalah Ronaldo selalu supplier material agregat, Rianto selaku Direktur CV Rintan Jaya Sejati, Hasan Basri alias Heri selalu Ketua Koperasi Setia Lestari, Febri Rosendi selaku Direktur CV Duta Mulia, Romel Sinalsal selaku Kuasa Direktur CV Liongs Mandau tahun 2015 hingga 2016, Devi Afrizal (swasta) dan Edy selaku Kepala Cabang PT Selat Lalang.

Baca Juga: Ratu Tatu Chasanah Optimis Pemkab Serang Raih WTP Kesembilan Kalinya

Didiet Hadianto dan Handoko Setiono, merupakan dua dari sepuluh orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka, berdasarkan hasil pengembangan. Kesepuluh orang itu ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan tindak pidana korupsi di empat dari total paket proyek pembangunan jalan di Bengkalis, Riau.

Keempat proyek tersebut diantaranya adalah peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu-Siak Kecil, peningkatan Jalan Lingkar Pulau Bengkalis, pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri, dan pembangunan Jalan Lingkar Timur Duri.

Berdasarkan hasil penghitungan sementara terhadap keempat proyek itu, diduga telah menimbulkan kerugian keuangan negara kurang-lebih sebesar total Rp475 milyar.

Baca Juga: Melki Laka Lena Angkat Bicara Terkait Kasus Korupsi Bibit Bawang Merah di Malaka

Dalam kasus rasuah ini, KPK sebelumnya sudah menetapkan empat orang tersangka, yakni Bupati Bengkalis Amril Mukminin, M Nasir, Direktur PT Mitra Bungo Abadi Makmur alias Aan, dan Hobby Siregar.

M Nasir bersama Hobby Siregar dan Makmur ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Bengkalis.

Sedangkan Bupati Bengkalis Amril Mukminin sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangunan jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis. Amril diduga menerima suap Rp 5,6 miliar. {pekanbaru.tribunnews.com}

fokus berita : #Indra Gunawan Eet #Ali Fikri


Kategori Berita Golkar Lainnya