27 April 2020

Deni Yusup: Mentalitas Yang Kuat Dalam Menyikapi Wabah

Berita Golkar - Tanggung jawab yang besar menuntut kekuatan yang besar ungkapan ini menjadi relevan dalam kondisi hari ini, dimana kita mengalami wabah virus corona yang telah berlangsung hampir satu bulan lebih dari awal maret pemerintah mengumumkan pasein pertama yang telah terinfeksi virus corona di Indonesia.

Awal maret yang menjadi ukuran awal dalam melihat wabah corona menimpa bangsa ini, seiring waktu sampai saat ini pasein yang terjangkit virus corona terus bertambah, pemerintah tiap hari mengumumkan jumlah pasein yang positif terkena virus corona.

Dari data yang diperlihatkan ke publik ada sekitar kurang lebih telah mencapai enam ribuan warga Indonesia yang positif virus corona,ditambah dengan status pasen ODP dan PDP jumlahnya udah puluhan ribu.

Baca Juga: Ace Hasan Nilai Larangan Mudik Oleh Pemerintah Harus Diikuti Ketegasan Aparat Di Lapangan

Seperti disebutkan di awal kalimat bahwa Tangung jawab yang besar menuntut kekuatan besar, kekuatan besarnya  dalam mensikapi wabah saat ini yaitu semua kompak bahu membahu untuk bisa mengatasi musibah kesehatan ini.

Seluruh dunia merasakan wabah ini otoritas kesehatan dunia WHO telah mengumumkan bahwa wabah ini adalah pandemik global, sampai saat ini belum ada  penemuan obat atau vaksi untuk virus ini.

Masa saat ini menjadi ujian kepada dunia, apakah akan bisa secepatnya mengatasi pandemik ini? semua negara telah kena imbas dari wabah ini seperti diketahui bersama bahwa awal mulanya virus ini dari Wuhan China awal desember  tahun 2019.

Baca Juga: Pengurus DPD Golkar Lampung 2020-2025 Terbentuk, Berikut Susunannya

Sampai sekarang telah menyebar keseluruh dunia di Wuhan sendiri wabah ini telah menurun tetapi di negara-negara lain virus ini terus berkembang dan menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk dunia.

Dampak Sosial

Dalam tulisan ini tidak membahas bagaimana mengatasi wabah ini dari sektor kesehatan saja, akan tetapi akan melihat bagaimana individu atau masyarakat yang terdampak dari proses musibah kesehatan.

Ada rasa kepanikan sebagai besar dalam meresponya, informasi yang begitu banyak dan  masif tentang wabah  menimbulkan kepanikan  tersendiri bagi masyarakat.

Baca Juga: Siti Nafsiah Minta Transparansi Penggunaan Realokasi APBD Kalteng Rp.689 Miliar Untuk COVID-19

Ada gejala sosial yang terjadi melihat fenomena wabah ini, dimana hampir semua orang di Indonesia merasakan panik, untuk menjawab itu pemerintah sekarang telah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa kota yang menjadi episentrum penyebaran virus corona di DKI Jakarta,tanggerang, Bekasi, Depok dan Bogor.

Ini semua daerah  penyanggah ibu kota yang populasi penduduknya banyak  menjadi zona merah dalam penyebaran virus corona.

Dampak kurangnya edukasi penjelasan yang menyeluruh mengkibatkan wabah ini menjadi gejolak sosial telah menjadi persoalan sosial serta persoalan lain termasuk sektor ekonomi bukan hanya kesehatan semata dengan ada kebijakan PSBB yang mengisyaratkan untuk semua orang beraktivitas dari rumah, otomatis perekonomian terhambat dan melambat.

Baca Juga: Idris Laena Dukung Imbauan BPIP Untuk Tanam Pangan dan Perpres Penyederhanaan Impor

Pemerintah mengeluarkan kebijakan ekonomi untuk mengantisipasi dengan mengeluarkan kebijakan bantuan tunia dan sembako serta pogram pra- kerja bagi pekerja-pekerja yang terkenan PHK  dalam masa pandemik dan masyarakat yang memerlukan pekerjaan.

Tangung jawab yang besar yang di pikul oleh pemerintah, semestinya harus di sadari oleh semua elemen bangsa tidak bisa dilakukan oleh hanya satu elemen saja, kita mengetahuai kompleksitas persoalan ini menimpa keberbagai sektor dan praktis semua sektor menurun.

Dunia usaha kena imbasnya, KADIN dan  Asosiasi di sektor lain sedang berusaha  membantu upaya yang dilakukan oleh pemerintah.

Baca Juga: Gandung Pardiman Siap Alih Fungsi Enam Kantor Golkar se-DIY Jadi Rumah Sakit COVID-19

Fokus pemerintah selain memberikan pelayanan terhadap kesehatan dengan meningkatkan sistem kesehatan  dan pemerintah perlu dibantu oleh semua elemen untuk bisa keluar dari persoalan ini.

Semua orang pasti merindukan kembali hidup normal dan bisa mejalankan kehidupanya kedepan seperti semula, terakhir presiden Jokowi memprediksi bahwa wabah ini akan berakhir di akhir tahun ini.

Diperlukan kerja ekstra untuk bisa tetap stabil sampai akhir tahun akan tetapi pada dasarnya semua mengiginkan lebih cepat bisa mengatasi wabah ini.

Perubahan dunia akan terjadi dari dampak virus ini, semua negara berpikir untuk secepatnya keluar dari pesoalan ini dan bisa menatap masa depan lebih baik dalam semua sektor, banyak narasi pembangunan dunia ini yang begitu rumit melihatnya.

Baca Juga: Abdul Wahab Tahir Minta Walikota Makassar Surati Bank Agar Kredit Anggota DPRD Ditangguhkan

Ada diskursus yang saling menyalahkan terhadap wabah virus corona, seperti diketahui bersama dalam pemberita media bahwa Amerika menstop dana bantuan buat WHO.

Mereka mengagap bahwa WHO tidak terbuka dalam persoalan wabah ini yang berakibat memicu dan terciptanya kepanikan global dari wabah corona.

Amerika sendiri negara yang terkena wabah corona, ribuan orang telah terkena wabah serta dibagian negara eropa udah hampir ribuan orang yang meninggal disebabkan oleh wabah corona.

Menebar Optimisme

Terlepas dari perdebatan saling curiga dan menyalahkan, posisi Indonesia memang harus siap dalam kondisi ini, bisa dibanyangkan negara yang tidak siap akan kena dampak  dan bisa berakibat  fatal bagi keberlangsungan negara itu.

Baca Juga: Perangi Corona, Wenny Haryanto Lengkapi Petugas Puskesmas Depok-Bekasi Dengan APD Memadai

Indonesia harus berjuang dengan bekerja dalam kondisi seperti ini, komitmen dalam masa krisis saat ini diperlukan,memiliki integritas yang kuat dari lapisan bangsa, salah berbuat sedikit bisa fatal akibatnya.

Saat ini di garda terdepan untuk menyembuhkan pasein adalah para medis yang bekerja tanpa pandang lelah siang dan malam untuk merawat para pasein yang terjangkit virus corona.

Jiwa besar untuk membela bangsa perlu ditunjukan dalam kondisi seperti ini, dimana sikap empati dan peduli terhadap sesama yang terkena wabah virus corona dan terkena imbas dari semua persoalan yang berefek dari pandemik corona.

Baca Juga: Maman Abdurrahman Dorong Pemerintah Cari Solusi Dampak Ekonomi COVID-19 Pada Masyarakat

Kekuatan bersama akan menjadi modal utama dalam mengatasi, dari negara hadir untuk masyarakat eksekutif dan legislatif harus kompak dalam menangulangpersoalan ini, kalau semua itu bisa seirama rasa optimisme itu pasti akan kuat untuk mengatasi wabah ini.

Ormas keagamaan telah megeluarkan fatwa terhadap ummat untuk memberikan solusi terhadap persoalan sosial yang menimpa NU, MUI dan Muhamaddiyah dan ormas keagamaan lain yang ada di Indonesia semua kompak mengeluarkan fatwa dan himbauan terhadap umatnya dalam mensikapi persoalan wabah ini.

Sebagai seorang individu semestinya kita bisa menata diri sendiri untuk lebih kuat secara mentalitas personal dari mentalitas yang kuat akan menularkan potivisme terhadap lingkungan, ada ungkapan bahwa kebahagiaan itu menular.

Baca Juga: Terkait PSBB dan Larangan Mudik, Yorrys Raweyai Minta Pemerintah Tegas dan Warga Disiplin

Individu-individu yang kuat yang bisa membangun dan bangkit muncul  kepercayaan diri bisa menghadapi semua persoalan yang menimpa termasuk wabah saat ini dan menjalakan hidup kedepanya.

Masa saat ini adalah masa dimana kita memperkuat diri,semua orang bisa menyesuaikan dengan segala perubahan yang terjadi, dengan memiliki mental yang kuat berpikir positif dan menjalankan hidup teratur dan bisa menyesuaikan dalam keadaan apapun.

Semua menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah buah dari pikiran, artinya apa yang akan didapatkan kedepan hasil dari apa yang di pikirkan saat ini kalau mau maju tentu harus berpikir positif jangan berpikir kebelakang.

Baca Juga: Sahat Simanjuntak Minta Polisi Tegas Tembak Pelaku Kriminalitas Bila Membahayakan Masyarakat

Semua bisa melakukan asal memiliki kepribadian yang kuat,  wabah saat ini bisa di jadikan ujian bagi kita untuk meningkatkan kemampuan diri dari semua aspek.

Pemimpin harus bisa memberikan edukasi dalam masa krisis kesehatan, motivasi hidup yang baik adalah bagaimana menebar optimisme kepada masyarakat dengan melakukan langkah-langkah yang strategis dan terukur untuk masyarakat.

Untuk semakin yakin dengan apa langkah-langkah yang dilakukan untuk kepentingan bersama, walaupun tidak bisa dipungkiri di semua masa ada saja orang yang mencari kesempatan dengan motif lain-lain.

Baca Juga: Hindari Kebuntuan Ekonomi, Bamsoet Ingin Zero COVID-19 Jadi Tekad Bersama

Apa untuk kepentingan individu atau golongan yang keluar dari tujuan utama, semoga dalam krisis kali ini tidak ada yang melakukan  merugikan semua orang seperti tindakan Korupsi.

Semua kena efeknya tidak satu pun yang tidak kena efek secara langsung atau tidak langsung dari virus corona, harus  dilihat dari sisi hikmah yang bisa diambil dengan bijak.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil seperti penguatan diri, menumbuhkan rasa empati terhadap sesama pemimpin lebih sensitif melihat kondisi riil masyarakat.

Tokoh agama berpikir bagaimana memberikan edukasi bagi masyarakat yang kena efek dengan mengeluarkan fatwa yang bisa memberikan pencerahan bagi ummat.

Baca Juga: AMPG Karanganyar Kirim Ribuan Paket Sembako, Masker dan Hand Sanitizer Untuk Warga Kebakramat

Apalagi kalau pandemik ini belum bisa teratasi dengan cepat dan sampai beberapa bulan kedepan, perlu antisipasi kekuatan mental psikologi massa/publik yang kuat dalam merespon persoalan untuk tetap tenang menyesuaikan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Optimisme itu perlu dilakukan untuk melakukan yang terbaik  kedepanya, ada ungkapan yang baik untuk kita pertanyakan pada diri apa mau jadi pemenang apa pecundang dalam persoalan ini?

Keyakin optimisme dalam bangsa ini pasti kuat sebagai masyarakat yang religius memiliki pemahaman agama dan keimanan yang kuat dalam melakukan aktualisasi nilai-nilai agama  pada saat mengalami krisis saat ini.

Baca Juga: Sidi Mawardi Donasikan 2 Bulan Gajinya Untuk Bantu Masyarakat Banyumas Terdampak COVID-19 

Movitasi yang kuat pada saat ini yang diperlukan dalam memberikan rasa optimisme yang tinggi, ajaran agama menerangkan kita harus sabar dan ikhlas dalam menyikapi wabah.

Termasuk terus berdoa dan tawakal kepada sang pencipta serta terus melakukan upaya-upaya strategis dalam semua aspek dalam mengatasi wabah ini.

Ditulis Oleh: Deni Yusup (Mahasiswa Pascasarjana Doktor Ilmu Komunikasi) {kompasiana}

fokus berita : #Deni Yusup